Malam itu, ruang keluarga sudah dikuasai oleh tiga makhluk paling berisik di istana. Sedang menertawakan kebodohan salah satu tokoh kartun yang ada di televisi. Bagi Sadewa dan Kulana, mungkin masih bisa ditoleransi jika umur tujuh belas masih hobi menonton serial kartun yang episodenya itu-itu saja. Tapi bagi Bima, yang sudah menginjak dua puluh tiga tahun, hal itu rasanya agak tidak wajar. Seluruh penghuni istana selalu terheran-heran, karena Bima selalu fokus pada televisi kalau kartun itu sedang tayang. Tak sadar umur.
"Mas Dewa, kenal si Bagas yang songong itu, kan?" tanya Lana pada Sadewa.
"Bagas mana? Bagas tuh banyak. Dari IPS juga udah ada dua yang namanya Bagas."
"Bukan anak IPS, anak IPA."
Sadewa mendramatisir ekspresinya dengan mengerutkan keningnya. Mencoba mengingat. "Ohhhh, itu." jawabnya. Entah betulan tahu atau hanya pura-pura tahu.
"Iya. Itu lho, Mas. Si Bagas buaya jadi-jadian. Masa ceritanya yang dipajang. Cerita aku enggak."
"Terus? Masalahnya sama aku apa?" tanya Sadewa datar pada kembarannya itu.
Membuat satu bantal kursi melayang ke wajahnya. "Gak ada simpatinya banget gitu sama adik kembarmu yang cantik ini. Bilang apa kek. Mas Sadewa adalah kakak paling tidak favorit." Kulana sedikit merengek.
"Ya, lagian. Udah saatnya kali penguasa mading diganti. Udah saatnya kali kamu turun takhta. Ceritamu itu membosankan."
Setelah bantal kursi, kini satu pukulan melayang ke bahu Sadewa. "Kayak yang suka baca aja. Di kelas aja kerjaannya tidur. Apalagi mading, mungkin Mas Dewa anggap itu gak pernah ada."
"Bodo amat."
Kulana beralih duduk mendekat pada Bima. "Mas Bim." panggil Kulana pada Bima sambil mencolek lengannya. Berharap perhatian Masnya itu beralih padanya.
"Hm? Apaan?" Bima masih terus fokus pada televisi.
"Mas Bima pernah kan baca ceritaku? Menurut Mas Bima gimana? Keren, kan?"
Akhirnya perhatian Bima teralihkan. Ia melihat Lana yang kini ada di sampingnya. "Lumayan lah." jawabnya singkat lalu kembali menatap televisi.
"Kok, cuma lumayan, sih. Kasih penilaian dong, apa gitu."
Tiba-tiba Bima bangkit berdiri. "Ketika senja ... gerimis ... angin menyapa kamu ... teh hangat ... bunga-bunga." Bima memeragakan seperti sedang membaca puisi.
"Cerita kamu yang melodramatis itu? Mendayu-dayu kayak gitu?" ledek Bima. Lantas ia dan Sadewa tertawa terbahak-bahak. Mengalahkan suara tawa tokoh kartun yang ada di televisi malam itu. Membuat Kulana hanya bisa pasrah dan cemberut melihat kelakar dua kakaknya itu.
"Ngapain sih? Berisik banget. Sampei kedengeran ke luar." ujar Yudistira yang baru saja pulang.
Kulana secepat kilat menghampiri kakak tertuanya itu. Langsung memeluknya. Tinggi Lana hanya sedagu Yudis, membuat lelaki karismatis itu dengan mudah merengkuh adiknya. Yudistira sudah seperti ayah kedua bagi Lana. Umur mereka yang terpaut sekitar delapan tahun membuat Lana bisa bermanja-manja padanya. Terlebih lagi, hanya Yudis yang hampir tidak pernah menjahili Lana.
"Mas Yudis, masa dua makhluk astral itu meledeki aku. Katanya ceritaku membosankan." Kulana mengadu.
Yudistira menatap Kulana seolah adiknya itu masih balita. "Jangan didenger, Lana. Mereka cuma makhluk astral yang gak punya rasa. Ceritamu bagus, unik." puji Yudis sambil membelai rambut Lana.
"Mas Yudis emang kakak paling favoritku nomor dua." ucap Lana sambil menunjukkan dua jarinya.
"Lho? Kok yang kedua? Yang pertama siapa?"
"Mas Arjuna." jawab Lana sambil terkekeh.
Yudis memasang wajah cemberut berpura-pura kecewa.
"Pandawa. Makaaannn. Sudah siap nih semuanya." sahut Kinanti dari dapur. Kompak semua berjalan menuju dapur.
"Jun, jun. Arjuna. Ayo makan dulu. Mas Yudis sudah dateng, nih." teriak Kinanti ke arah ruang pribadi Arjuna. Menyuruhnya segera keluar dari imajinasi panjangnya dari dalam sana.
.....
Selepas makan dan bekerja sama membereskan dapur. Sang raja dan ratu rumah itu pun keempat pangeran dan satu putrinya tak lantas kembali ke ruangannya masing-masing. Mereka diharuskan duduk kembali di kursi makannya masing-masing. Ada ritual wajib malam hari sebelum semuanya beristirahat. Biasanya Yudha akan mewawancara satu per satu anaknya. Tak jarang pertanyaannya bisa beranak cucu.
"Gimana kerjaanmu, Yud? Lancar? Jaga fokusmu. Ibumu bilang akhir-akhir ini kamu sering ngelamun." Yudha mulai mewawancarai anak pertamanya.
"Kerjaan saya lancar, Yah. Iya, kedepannya saya akan lebih fokus."
"Yudis mungkin lagi kepikiran rumah barunya, Mas. Belum lagi dia kan secepatnya mau tinggal di rumah itu." timpal Kinanti.