Sadewa tengah berdiri di gerbang sekolah. Rambutnya tak berhenti ia rapikan. Entah sudah berapa kali ia menyemprotkan minyak wangi hasil curian dari lemari Bima. Biasanya ia ke sekolah tanpa memakai perangkat lengkap. Kini dasinya terpasang rapi. Seragamnya pun rapi. Hasil memaksa dan mengancam saudara kembarnya untuk menyetrika. Ia siap untuk menyambut cewek idamannya.
"Ehem, ehem. Good morning, Kala." sambut Sadewa tepat ketika cewek pujaannya itu memasuki gerbang sekolah.
Cewek berjaket abu-abu itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia pasrah. Entah sudah ke berapa puluh atau ratus kali hal ini terjadi. Rasanya sebelum Sadewa lulus dan meninggalkan sekolah itu, hal itu akan tetap terjadi.
"Kamu mau cokelat atau roti cokelat?" Sadewa menghadapkan Kala dengan dua pilihan yang disodorkan. Sebungkus cokelat merk terkenal dan sebuah roti rasa cokelat.
"Saya gak mau dua-duanya."
"Kalau gitu, mau aku antar ke kelas?"
"Bukannya dari tadi kamu ngikutin saya, kan? Ngapain minta izin. Emang kebiasaan kamu setiap hari kayak gini, kan."
"Haha. Kan, hari ini bisa saja sebelum sampai ke kelas kamu, aku tiba-tiba terpeleset dan masuk ke kolam ikan itu. Atau mungkin aku kejedot dan berdarah-darah."
"Orang aneh."
Sadewa terus saja mengikuti langkah Kala. Membuat cewek lain yang melihatnya iri dengan keberuntungan yang Kala punya. Sedangkan, Kala justru menganggap itu adalah hal tersial selama kehidupan SMA nya. Mungkin, ia mengira kalau kehidupan SMA nya akan sangat tenang dan nyaman. Tapi tiba-tiba terganggu oleh sosok Sadewa yang sok romantis selalu menyambutnya di depan gerbang. Bagai pangeran dari negeri dongeng yang menyambut putri raja.
"Stop!" Kala menghadang Sadewa. Kini mereka berhapadan.
"Iya, saya tahu harus stop. Kan, udah sampai depan kelas kamu." ucap Sadewa dengan masih tersenyum lebar.
"Bukan itu. Stop. Jangan ngelakuin hal ini lagi."
"Maksudnya?"
"Jangan nunggu saya di depan gerbang sekolah lagi. Jangan ngikutin saya lagi. Gak penting, tauk."
"Ini penting buat saya, Kala. Memastikan kamu aman sampai di kelas dan duduk dengan rapi."
"Saya heran. Kenapa sih selama ini kamu kayak gini. Bukannya banyak ya cewek lain di sekolah ini yang bisa kamu ajak main-main?"
"Iya, memang yang bisa diajak main-main banyak. Tapi aku ingin serius. Makanya aku sekarang ada di hadapan kamu. Cewek yang harus sesegera mungkin diseriusin."
"Tapi, maaf ya. Saya betul-betul gak minat dengan kisah picisan masa SMA kayak gini. Lebih baik kamu cari cewek lain." pungkas Kala lantas memasuki kelas.
"Aku gak peduli kalau kamu anggap ini hanya sekedar kisah picisan, aku gak akan nyerah. Sampai jumpa besok pagi, Kala." teriak Sadewa yang membuat teman sekelas Kala tertawa.
.....
Yudistira memarkirkan mobilnya. Ia baru saja sampai di kantor. Dengan ponsel yang masih ia pegang dan menempel di kupingnya. Ia sedang berbicara dengan calon pendampingnya.
"Saya baru sampai, nih. Kamu sudah di kantor?" tanya Yudis pada Rana.
"Baru mau berangkat, Mas. Masih nunggu ojek."
"Lho? Kok naik ojek?"
"Tahu sendiri, kan. Jakarta makin macet. Naik ojek lebih cepat."
"Oke. Hati-hati. Jaga diri. Minggu depan saya jemput. Saya jadi pindahan. Ibu juga sudah kepengen ketemu kamu, Rana."
"Iya, Mas. Minggu depan aku gak ada lembur. Ibu dan ayah sehat? Adik-adik gimana? Si putri cantik gimana?"
"Semuanya sehat, Rana. Kulana juga semakin ambisius dengan hobi nulisnya."
Terdengar tawa Rana di ujung telepon. "Ya, sudah. Salam untuk semuanya. Lancar kerja kamu hari ini. Kang ojekku sudah datang. Aku pamit, sayang."
"Oke. Kamu hati-hati, sayang."
Selepas berbincang di telepon dengan Rana. Ia tak lantas ke luar dari mobil dan masuk ke gedung kantornya. Ia kembali menyandarkan tubuhnya di kursi kemudi. Menatap kosong ke gedung berlantai lima itu. Tempat di mana ia merintis kemapanan. Tapi sebetulnya, gedung itu tak pernah bisa menumbuhkan kenyamanan.