Lana Kulana anak kambing saya, anak Kambing saya bernama Kulana." Bima bernyanyi, sebetulnya tujuan utamanya adalah meledek adiknya yang sedang tiduran menatap langit-langit kamarnya malam itu.
"Berisik. Ganggu konsentrasi orang aja."
"Oh, jadi kamu ini orang. Kukira kamu siluman."
"By the way, Mas Bima punya pacar, gak?" Kulana bangkit. Lantas duduk.
Pertanyaan yang cukup menohok bagi Bima saat itu. Bingung mau menjawab apa. Ia malah menghempaskan tubuhnya ke kasur milik adiknya itu.
"Kok malah tiduran. Jawab dulu." sergah Kulana sambil mencoba membangunkan tubuh Bima. Usaha yang sia-sia.
"Ya, punya lah. Orang seganteng gini masa gak punya pacar."
"Kepedean banget."
"Kan, kamu nanya. Ya, gue jawab apa adanya."
"Namanya siapa? Orang mana? Terus gimana sama dia? Romantis gak?
"Ngapain nanya-nanya? Kisah cinta gue bukan hal yang bisa diumbar."
"Berarti bohong. Jomblo, kan? Pacar dari mana coba."
"Gue emang punya pacar. Tahu sendiri kan gue diperebutkan di mana-mana."
"Makanya, ceritain gimana. Otakku lagi buntu. Butuh inspirasi buat ceritaku."
"Bocah aneh." ledek Bima sambil menoyor kepala adiknya itu pelan. "Sori, sori. Kisah cinta gue bukan untuk dijadiin bahan kisah melodrama lo. Bukan untuk diperjualbelikan." ucapnya sambil melempar bantal ke muka adiknya. Lalu berlari kabur begitu saja.
Tak terima dengan kelakuan kakaknya itu. Kulana membalas dengan melempar bantal juga padanya. Tapi gagal, Bima sudah berhasil ke luar kamar. "Mas Bimaaaa." Kulana hanya bisa berteriak. Malas untuk mengejar. Otaknya sedang dipenuhi dengan berbagai ide yang bermunculan.
Kalau dipikir-pikir, Bima memang kakak yang paling jahil dan iseng kepada Kulana. Tapi andai saja Kulana bukan adik dari keempat kakaknya itu. Ia akan memilih Bima sebagai pasangan. Selama ini pilihannya selalu jatuh pada Bima. Ia pikir, Mas Bimanya itu keren. Manusia paling bebas. Sehingga ia bisa bicara apa saja dengan Bima. Membicarakan hal apa saja, seolah obrolan tak akan pernah habis kalau bicara dengan Bima.
Yang tidak akan pernah Kulana pilih sebagai pacarnya adalah Yudistira. Kakak tertuanya itu memang sempurna. Sangat lembut dan baik padanya. Soal penampilan, soal kerapian, apa pun yang ada dalam hidup Yudistira itu sempurna. Siapa pun tak akan mungkin menolak laki-laki seperti ia. Tapi bagi Lana, Mas Yudis terlalu kaku. Seperti robot. Entah bagaimana bisa, Mbak Rana, calon kakak iparnya begitu tahan dengan Mas Yudis. Tapi mungkin, bisa jadi, mungkin, Mas Yudis sosok romantis untuk pasangannya.
Kalau Arjuna. Memikirkannya agak membuat Kulana merinding. Memang, Mas Arjunanya itu satu frekuensi dengan Lana kalau masalah hobi. Dan ia sangat tampan. Mungkin banyak di luar sana perempuan yang dibuat jatuh cinta pada penglihatan pertama olehnya. Apalagi pembawaannya yang mencerminkan kalau ia pasti lelaki baik-baik dan cerdas. Tapi bagi Lana, yang sudah tahu bagaimana kesehariannya. Mana mungkin ia mau punya cowok yang kerjaannya hanya mengurung diri di kamar. Dengan segala macam khayalannya. Dongeng-dongengnya.
Untuk Sadewa. Jangan ditanya. Big No. Tanpa harus dijelaskan. Saudara kembarnya itu, yang tukang iseng dan sok ganteng itu. Rasanya cuma cewek yang terkena sihir yang mau menerimanya.
.....