Wajah Yudistira yang biasanya kaku itu tampak berbeda. Lebih banyak senyum. Pasalnya hari itu ia resmi pindah ke rumah barunya. Sebuah rumah minimalis di perumahan daerah Soekarno Hatta, Bandung. Perumahan biasa, dengan dua kamar yang berdempetan. Sebelumnya, Yudha sempat menentang Yudis karena memilih perumahan itu, apalagi jika ia berniat mengajak tinggal Rana di sana setelah menikah. Yudha menyarankan membeli rumah yang lebih besar, dan siap ikut serta dalam pembayaran. Tapi, Yudis menolak. Ia sepenuhnya ingin membeli rumah dengan hasil keringatnya sendiri. Dan Rana, ikut serta meyakinkan calon mertuanya itu.
Hal lain yang membuatnya banyak tersenyum adalah, pemandangan yang sekarang ia lihat. Ibunya, ayahnya, dan Rana. Tengah duduk di ruang tamu rumah barunya, hasil jerih payahnya. Mereka sedang berbincang, saling melempar senyum. Dua perempuan yang sangat ia sayangi duduk berdampingan. Kadang-kadang saling memegang tangan. Sosok lelaki gagah yang selalu ia segani dan hormati, duduk di sana. Dengan tatapan bangga padanya dan pada calon menantu idaman.
Rana adalah teman Yudis dari SMA. Sampai mereka kuliah di satu kampus yang sama. Mungkin memang sudah takdir. Suatu kebetulan lainnya adalah, Rana anak tunggal dari sahabat dekat ayahnya. Sama-sama seorang pejabat dalam bidang keuangan. Jadi, ketika mengetahui Yudis tengah dekat dengan Rana. Yudha senang bukan main. Langsung menghubungi ayah Rana, dan memprakarsai untuk mendukung hubungan mereka berdua. Sampai kini keduanya sudah bertunangan.
Rana kini sedang terikat kontrak kerja dengan salah satu bank ternama juga. Yudis harus rela berhubungan jarak jauh, karena Rana ditempatkan di Jakarta. Delapan bulan lagi, setelah kontrak itu selesai, ia akan menikah dengannya. Rana perempuan yang lembut dan perhatian. Yudis selalu merasa nyaman menceritakan apa saja pada Rana. Perempuan itu tak pernah protes walau Yudis bukan cowok romantis dan terkesan kaku. Rana bilang, meskipun Yudis tidak memberinya bunga di hari jadian atau di hari ulang tahunnya. Tanpa Yudis mengucapkan aku cinta atau aku rindu kamu setiap saat. Atau tanpa ia memegang tangan Rana saat jalan-jalan. Rana sudah tahu dan mendapati Yudis sangat mencintainya, dari sorot matanya. Membuat Rana selalu ingin jadi tempat paling nyaman untuk pangeran itu pulang.
Pandangannya beralih pada adik-adiknya. Ia melihat si kembar Sadewa dan Kulana yang terus saja saling meledek satu sama lain. Seolah keduanya tak pernah kehabisan bahan ejekan untuk dilemparkan pada satu sama lain. Kulana, putri cantik yang sering ia gendong-gendong waktu masih bayi. Sadewa yang paling aktif dan tidak bisa diam semasa kecil. Bahkan sampai sekarang, Yudis heran, entah sebanyak apa baterai cadangannya. Seolah tak pernah merasa lowbatt. Tidak bisa diam.
Tiba-tiba ia teringat pada Bima. Anak itu tidak hadir di acara pindahan kakaknya. Entah ke mana. Semalam pun ia tidak pulang. Dan tak ada kabar sama sekali. Ini memang bukan pertama kalinya, siapa pun bisa menebak ke mana perginya Bima. Paling juga menginap di rumah temannya, atau pergi bekerja ikut rombongan agen perjalanan. Yudis tahu, ayahnya sekarang sedang menahan amarah atas ketidak hadiran Bima. Bima pergi di waktu yang tidak tepat. Ayahnya itu tak lantas marah-marah karena tak enak, ada calon menantunya di sana. Yudis kesal pada Bima karena sering pergi begitu saja dan membuat ayahnya murka. Tapi Yudis, jauh dalam lubuk hatinya sangat iri, Bima begitu bebas.
Kali ini, matanya tertuju pada Arjuna. Yang dari tadi gerak geriknya tak nyaman. Sesekali ia melihat ponselnya. Entah ada janji dengan seseorang atau sudah tidak sabar ingin segera kembali ke ruang pribadinya. Anak itu, pendiam dan paling sulit ditebak. Buktinya, diam-diam ia berani teguh dengan pendiriannya untuk kuliah jurusan sastra. Tidak mengikuti keinginan ayahnya. Yudis sadar, Arjuna adalah adik yang paling jarang bicara dengannya.
"Ngapain? Santai kali. Sudah makan?" tanya Yudis pada Arjuna.
"Sudah, Mas." jawabnya singkat.
Hening. Mereka berdua memang canggung.
"Mas Yudis hebat." Terlontar dari mulut Arjuna. Menepis semua keheningan di antara mereka berdua.
"Hebat apa?"
"Hebat saja. Punya rumah semegah ini."
Hal itu membuat Yudistira tersenyum. "Sekecil ini menurutmu megah? Rumah saya kecil, Jun. Bahkan ruang pribadimu itu lebih mewah daripada kamar saya sekarang."
"Rumah ini jauh lebih megah, Mas. Ini semua hasil dari kerja kedua tangan Mas. Kedua kaki Mas Yudis. Rumah ini sangat mewah. Pot yang ada di teras itu. Kursi ruang tamu. Warna cat. Semuanya atas dasar keinginan Mas. Itu kemewahan. Kalau di rumah kan Mas belum tentu bisa menata sesuai keinginan Mas."
Ucapan yang menohok dari Arjuna. Membuat Yudis melihat hal-hal yang Arjuna sebutkan tadi. Semua itu kemewahan, semua sesuai keinginannya. Sesuatu yang baru saja ia dapatkan. Sesuai keinginannya. Ia tersenyum pada Arjuna. Sudah ia duga, adiknya itu memang sulit ditebak. Perkataannya selalu mengejutkan. Yudis tahu betul, di balik kata-kata itu, ada makna yang jauh lebih dalam, sangat dalam.
Yudistira melihat kembali ke setiap sudut rumahnya. Melihat ke arah ayah dan ibunya. Melihat kepada Rana, pujaan hatinya. Melihat adik-adiknya. Lantas masuk ke kamarnya. Kamar baru yang ia tata sama persis seperti kamarnya di istana ayahnya. Hanya saja beberapa barang tak ia masukan karena ruangannya yang lebih kecil. Ini megah dan mewah. Semua yang ia lihat hari ini, seharusnya membuat ia merasa terisi. Tapi kenapa, jauh di dalam sana, ia masih sama. Kosong. Ia teringat kembali pada kalender duduk di meja kerjanya. Lantas tersenyum, miris.
.....
Setelah memarkirkan motornya, Arjuna tegopoh-gopoh berlari ke salah satu ruang kelas di kampusnya. Ada seseorang menunggunya di sana. Setelah sepakat bertemu hari itu jam empat sore. Sekarang sudah setengah lima. Buru-buru ia memasuki kelas. Seseorang sudah ada duduk di salah satu bangku. Sendirian. Masih dengan gaya khasnya, kemeja flanel dengan jins. Tak lupa, rambutnya yang selalu diikat.
"Mbak Laras, maaf saya telat." ucapan pembuka darinya. Masih terengah-engah lantas membetulkan kacamatanya.
Laras tersenyum. "Santai, Jun. Saya juga agak terlambat. Enggak tepat sampai di sini jam empat."
"Saya baru saja dari acara pindahan rumah kakak saya. Agak molor dari perkiraan, saya kira gak akan selama itu."
"Oya? Selamat kalau gitu."