BORN TO BE PANDAWA

Nurul Awaliyah
Chapter #12

SEBELAS

Ritual pagi, absen pagi itu sangat berbeda. Yudha yang biasanya berdiri tegak di ambang pintu, kini hanya duduk di kursi ruang tamu. Ia pun tak banyak bertanya pada anak-anaknya. Bahkan ketika anaknya melaporkan rencana kegiatan hari itu, Yudha hanya manggut-manggut saja. Entah karena masih ada duka, karena kini paginya harus terbiasa tanpa melihat si sulung. Entah karena murka, karena Bima sama sekali belum pulang sampai hari itu.

Dan lagi, hari itu ada yang berbeda. Sadewa tak ikut ritual pagi. Tidak ikut absen. Ia hanya diam di kamar. Bahkan ia sudah bilang tidak akan pergi sekolah. Anak itu bilangnya tidak enak badan. Entah betulan sakit. Entah menyembunyikan masalah yang terjadi di sekolah. Pernah sekali, ia tidak pergi sekolah, dengan alasan yang sama. Setelah diselidiki, ternyata ia kedapatan berkelahi dengan salah satu teman sekelasnya. Kali ini, jangan sampai hal itu terjadi. Suasana hati Yudha yang sedang tidak karuan, bisa-bisa ada perang betulan. Atau Sadewa diusir dari kerajaan. Lebih parah, bisa-bisa tongkat naga sakti dilayangkan padanya berujung sebuah kutukan.


.....


"Mas Juna, kok aku merasa ada yang aneh, ya?" tanya Kulana pada Arjuna yang saat itu keduanya sedang di motor. Karena Sadewa tidak masuk sekolah, otomatis tugas mengantarkan Lana beralih pada Arjuna.

"Merasa ada yang aneh bagaimana?"

"Beberapa hari ini, kok si Mas Sadewo jadi kalem dan pendiem banget, ya?"

"Maksudnya?"

"Mas sadar, gak? Dia jadi lebih sering diem di kamar. Kamarnya yang biasa berisik pun sepi. Di sekolah pun udah beberapa waktu dia gak sering kelihatan wara-wiri. Biasanya heboh." jelas Kulana.

"Mas juga ngerasa sih, apa dia lagi sedih?"

"Sedih kenapa? Seorang Sadewa? Sedih? Keajaiban apa yang terjadi di istanaku Ya Tuhan." Kulana mendramatisir.

"Haha. Ini menurut apa yang saya lihat, sih. Kayaknya dia jadi agak berubah semenjak acara pindahan Mas Yudis."

Tawa Lana pecah. "Masa iya? Sesedih itu sampai dia kayak gini? Aduh, Dewo, Dewo. Bisa melow juga ternyata dia. Kukira dia bakal jadi yang paling semangat karena gak akan sering kena omel Mas Yudis."

"Entahlah, Lana. Sadewa seperti bom waktu. Entah bagian mana yang akan dia ledakan kali ini." canda Arjuna. Mereka berdua cekikikan sepanjang perjalanan.

Sesampainya di sekolah, Lana disambut heboh oleh Daniar. Memang temannya yang satu itu suka berlebihan kalau Kulana diantar pangeran-pangeran tampan dari kerajaannya itu. Bahkan, seringkali Daniar suka terpesona dengan Sadewa. Padahal ia sudah tahu kalau saudara kembar temannya itu punya sifat bobrok dan sok kegantengan.

"Kenapa gak bilang kalau kamu diantar Mas Arjuna? Mungkin aku akan berusaha lebih rapi hari ini."

"Katanya kamu bilang Mas Juna itu aneh dan bikin ilfeel. Untuk apa berusaha kelihatan rapi."

"Aku sudah lama jomblo, Lana. Rasanya gak apa-apa aku rela setengah mati kalau sekarang aku hanya bisa dapat cowok aneh tapi tampan semacam Mas Arjuna."

"Jadi, sebetulnya kamu sedang memuji atau menghina dia sih? Lagian, dia sudah punya cewek tuh sepertinya."

"Hah? Serius kamu? Cowok tukang ngurung diri itu punya pacar? Gagal kesempatan aku jadi menantu kerajaan itu, Lana. Mas Yudis sudah akan menikah. Katamu Mas Bima punya cewek, dan sekarang, Mas Arjuna pun punya cewek. Oh Tuhan. Bantulah hamba." cerocos Daniar.

"Kan, masih ada si trouble maker. Sadewa." jawab Lana sambil terbahak.

"No. Itu blakclist." sergah Daniar.

"Lho? Kan, dia juga ganteng."

"Ganteng aja kan gak cukup, Lana."

Lihat selengkapnya