BORN TO BE PANDAWA

Nurul Awaliyah
Chapter #13

DUA BELAS

Kulana baru saja pulang sekolah, terpaksa ia harus pulang naik ojek. Sadewa yang tidak sekolah. Arjuna yang entah ke mana. Membuat ia rela berboncengan dengan Kang Ojek. Agak hati-hati ia memasuki rumah. Ia pun tak tahu alasannya kenapa harus memasuki rumah sendiri seperti itu, seperti maling saja. Rumah itu sangat sepi. Sudah seperti rumah hantu. Entah ke mana penghuni istana sore itu. Kalau dipikir-pikir, hawanya agak mencekam. Seperti sudah terjadi peperangan di sana.

"Ibu... ayah... Mas Dewo... hello..."

Sadewa tiba-tiba menarik Kulana. Mengajaknya segera menaiki tangga untuk ke lantai dua rumahnya.

"Apaan sih? Ngapain narik-narik?"

"Ssttt, jangan berisik. Udah, kita diem di sini aja." ucap Sadewa. Menyuruh adik kembarnya itu untuk tetap diam di kamarnya.

"Ngapain? Ada apa?" tanya Lana setengah berbisik. Entah kenapa juga ia manut perintah Sadewa untuk tidak berisik.

"Panjang ceritanya. Panjang banget." ucap Sadewa sangat meyakinkan kalau memang ada cerita luar biasa.

"Cerita apa? Mas Dewo pasti abis dimarahi, kan? Karena pura-pura sakit, kan? Ngaku!"

"Sembarangan. Bukan itu. Lagian, aku betulan sakit. Bukan pura-pura."

"Terus apa? Awas kalau ternyata ceritanya garing."

"Habis ada perang besaaaarrrrr tadi." jawabnya sambil merentangkan tangan selebar mungkin. Mendramatisir ceritanya.

"Perang apa?"

"Mas Bima tadi balik. Ayah murka."

"Bukannya itu udah biasa, ya? Spesialnya apa coba? Lebay banget."

"Bukan cuma itu. Mas Bima ditampar."

"Hah? DITAMPAR?"

Sadewa langsung membekap mulut Kulana. "Jangan kenceng-kenceng."

Seketika Kulana menutup mulutnya. "Terus gimana? Mas Bima sekarang ke mana?"

"Pergi. Tadi ibu juga nangis. Kayaknya ayah bener-bener sensitif setelah Mas Yudis pindah. Terus sebenernya..." Ucapan Sadewa tertahan. Ia berpikir apakah hal itu harus dibicarakan atau tidak.

"Sebenernya apa?"

"Kepo. Anak bocah jangan mau tahu." ledek Sadewa lantas pergi ke kamarnya membuat adiknya itu kesal setengah mati.


.....


"Dari mana saja, kamu?"

"Mau jadi apa, kamu? Keluyuran terus."

"Gak tahu waktu. Pergi tanpa izin!"

Lihat selengkapnya