Setelah kejadian kemarin sore. Kinanti bahkan belum berbicara lagi dengan Yudha. Bahkan semalam ia tidak tidur di kamarnya. Melainkan tidur di kamar Yudistira. Bahkan sebetulnya, Kinanti tak tidur sama sekali. Pikirannya dipenuhi dengan persoalan yang ada di istana. Beruntung, keluarganya tidak pernah diterpa masalah besar. Tapi setiap kali ada masalah, hal itu-itu saja yang terjadi. Perdebatan antara suami dan anak-anaknya. Tapi kemarin sore, Yudha sudah keterlaluan. Satu tamparan melayang ke wajah Bima.
Entah kenapa hal itu membuat hati Kinanti sangat perih. Sampai dirinya seperti lumpuh. Tidak ingin beranjak dari kasur yang biasa dipakai tidur anak sulungnya. Bahkan, pagi itu pun ia sama sekali tidak memasak. Anak-anaknya keluar rumah pun tanpa ritual absen pagi. Inikah akhirnya? Batin Kinanti.
Di ruang lain, Yudha berdiri di hadapan sebuah lemari kaca. Menatap satu per satu pigura yang terpajang di sana. Momen abadi dari kelima anaknya. Dari ketika mereka masih belajar merangkak, sampai mereka tumbuh menjulang tinggi. Dari mulai mereka belajar berjalan, sampai kaki-kaki mereka kokoh dan siap berlari. Kapan saja. Ke mana pun. Foto-foto ketika mereka tersenyum lebar. Lantas Yudha melihat kepada gambar mata mereka. Sejenak, Yudha menyadari sesuatu. Mengusik batinnya. Entah apa.
.....
Cewek berjaket abu-abu itu baru saja turun dari angkot. Merapikan rambutnya, lantas memasuki gerbang sekolah. Ia menyempatkan diri untuk melihat ke sekitar parkiran sekolah. Cowok itu, benar-benar tidak ada, batinnya. Cowok yang semenjak semester lalu selalu menyambutnya tepat di gerbang sekolah hanya untuk sekadar mengucapkan good morning. Yang rela ikut ekstrakurikuler demi dekat dengannya, yang sebenarnya akan sangat membosankan bagi cowok itu. Kali ini, ia benar-benar berhenti.
Cowok yang selalu ikut duduk di taman belakang sekolah menemaninya membaca buku. Cowok yang selalu cerita ini itu, bahkan tanpa diberi respon sedikit pun. Kalau dipikir-pikir, Kala bisa dibilang sudah tahu seluk beluk Sadewa. Bagaimana karakternya, bagaimana kehidupan keluarganya.
Kala tersenyum tipis. Aneh, pikirnya. Kenapa saat ini ia jadi merasa kehilangan. Kenapa saat ini ia celingukan di parkiran berharap cowok itu bersembunyi di suatu tempat karena malu untuk menyapanya. Kala, sudahlah. Sadewa sama saja seperti cowok kebanyakan. Gampang menyerah.
.....
Suatu malam, sepasang kekasih yang sedang saling mencintai itu duduk berhadapan. Di meja sudah ada hidangan, yang sama sekali belum tersentuh. Sebuah lilin menyala. Romantis sekali. Alunan musik klasik yang samar terdengar. Karena mereka berdua sibuk dengan dunia yang sedang mereka ciptakan.
Tapi, mereka bukan sedang saling menatap dan tersenyum satu sama lain. Bukan juga saling memegang tangan atau suap-suapan makanan. Bukan juga sedang membicarakan bagaimana nanti mereka akan tinggal berdua setelah pernihakan. Di rumah sederhana tapi mewah karena ditinggali berdua. Merencanakan siapa yang setiap pagi menyediakan sarapan. Atau merencanakan tentang berapa mereka akan memiliki keturunan. Bukan, bukan hal semacam itu. Mereka hening. Sang pangeran hanya menunduk, pandangannya kosong. Sang putri menatap pangeran dengan segenap rasa cintanya.
"Kamu sudah yakin, Mas?" tanya sang putri. Entah sudah yang ke berapa.
Hening. Sang pangeran tetap diam.
"Mas Yudis. Mas, dengar saya, kan?"
Yudistira balik menatap Rana.