BORN TO BE PANDAWA

Nurul Awaliyah
Chapter #15

EMPAT BELAS

Tak henti-hentinya Kulana berdoa. Lantaran sore itu ia akan menerima pengumuman dari Bu Indah. Soal cerita pendek dan puisi yang sudah ia ikutkan dalam seleksi. Ia yakin tulisannya itu akan lolos seleksi. Segenap kemampuannya sudah ia kerahkan. Dan ia yakin, ceritanya benar-benar baru dan jarang ditulis orang. Harapannya besar, untuk pertama kalinya tulisannya akan dibukukan bersama karya penulis lain. Bukan cuma majang di mading.

"Good mood banget putri Pandawa sore ini." Bagas yang sudah terlebih dahulu ada di ruang redaksi menyambutnya.

"Karena saya yakin, cerita saya pasti lolos dan bisa ikut terbit." ucap Kulana percaya diri.

"Masa sih? Yakin?" ledek Bagas.

Kulana tak mau capek-capek menjawab Bagas.

"Tapi, setelah dipikir-pikir, cerita melodramamu itu cukup nyaman dibaca."

Kulana tetap diam. Kali ini ia berusaha pura-pura sibuk dengan ponselnya. Buaya jadi-jadian baca ceritaku? Batinnya.

"Ini serius lho. Aku nyaman baca ceritamu itu. Apalagi cerita yang nyeritain tentang ada cowok yang berteduh di warteg." Bagas seperti sedang berusaha menahan tawanya.

"Kalau mau ngetawain ya ketawa aja. Jangan ditahan. Ntar jadi penyakit."

"Haha."

"Orang aneh. Orang rese."

"Kok aneh sih. Ini serius lho. Aku nyaman baca cerita kamu. Its okay, untuk sebagian orang mungkin jenuh dengan berbagai macam emosi yang terlalu melow di sana. Tapi, bikin nyaman."

"Terima kasih Bagas. Tapi jangan harap aku percaya ucapanmu. Paling sedetik kemudian kamu ketawa."

"Tapi, Lana..." Ucapan Bagas tertahan. Mendadak ia memandang wajah Kulana. "Entah apa yang sudah kamu alami, Lana. Sampai tulisanmu begitu depresif."

Deg! Hening. Tatapan Bagas saat mengatakan itu. Membuat Kulana hanyut. Bukan hanya karena tatapan cowok itu. Tapi juga karena apa yang ia ucapkan. Depresif. Bagaimana bisa Bagas menyimpulkan seperti itu. Bagas adalah orang pertama yang bisa menilai tulisannya sampai begitu dalam. Depresif. Ya, benar. Depresif.

Langkah kaki yang kian mendekat membuat mereka sadar kalau dalam beberapa detik yang lalu mereka sedang saling tatap. Keduanya membuang muka dan menjadi canggung. Orang yang mereka tunggu akhirnya datang. Bu Indah siap mengumumkan apa pun. Entahlah, apakah Kulana siap mendengarnya.

Bahkan melihat raut wajah Bu Indah yang tidak terlalu ceria seperti biasanya, Kulana sudah bisa menebak kabar apa yang akan ia sampaikan. Sangat jelas sore itu ia akan mendengar sesuatu yang mengecewakan. Tapi, entah kenapa, ia tetap berada di situ. Duduk mematung. Kata per kata yang Bu Indah lontarkan, ia dengar dengan sangat jelas. Saya sudah sangat berusaha. Tapi maaf, keputusan tidak ada di tangan saya. Saya yakin lain kesempatan.... Sisa kalimatnya terdengar kian samar. Tiba-tiba ada kalimat yang terdengar di telinganya. Kalimat yang tadi Bagas ucapkan. Suara itu menggema di dalam kepalanya. Entah apa yang sudah kamu alami, sampai tulisanmu begitu depresif.

Lihat selengkapnya