Istana semakin sepi. Tidak ada suara ribut berebutan kamar mandi. Tidak ada ledekan-ledekan antara si kembar. Tidak ada absen pagi. Semenjak kejadian malam itu, Kulana dibawa Yudis ke rumahnya. Di sana ia akan bisa lebih menenangkan diri. Memberinya ruang dan waktu untuk sendiri. Kinanti dan Yudha percaya, Yudis bisa mengatasi kekacauan hati Kulana.
Bima mengetuk kamar kerja ayahnya. Ia tahu betul kalau ayahnya sedang kacau. Entah apa yang akan ia bicarakan akan membuat ayahnya lebih kacau atau tidak. Tapi, ia sudah bertekad ingin menemui ayahnya.
"Masuk." sahut Yudha dari dalam.
Lantas Bima masuk dan menghampiri ayahnya. Hati Bima perih ketika melihat sang raja hanya bisa menunduk di singgasananya. Ke mana perginya sang raja yang selalu berdiri tegak itu.
"Ada apa?" tanya Yudha.
"Saya minta maaf untuk kejadian tempo hari. Saya pergi tidak izin dulu pada ayah." ucap Bima sambil tertunduk.
Yudha menghela napas. Berat. "Saya maafkan. Keluar."
"Saya... betul-betul ingin... memiliki pekerjaan seperti itu, Ayah." Setiap kata sangat hati-hati Bima ucapkan.
"Yakin kamu? Hidup itu bukan sekadar harus melakukan apa yang kamu ingin, Bima. Tapi juga bagaimana caranya apa yang kamu lakukan itu bisa menghidupi kamu."
"Saya... betul-betul tidak tahu apa yang ingin saya lakukan ini bisa menghidupi saya selamanya atau tidak. Bisa membuat saya dipandang oleh dunia atau tidak. Tapi, ayah... Saya merasa betul-betul hidup ketika melakukannya. Sampai saya ingin selalu berusaha melakukan yang terbaik, agar saya bisa terus hidup."
Hening.
"Ayah terlalu keras padamu, Bima. Maafkan ayah." Suara Yudha bergetar. Membuat hati Bima makin perih.
"Lakukan apa pun yang bisa membuat kamu merasa hidup. Katakan apa pun yang selama ini kamu tahan. Di mana pun, saya ingin anak-anak saya selalu merasa hidup. Bima, sungguh saya juga ingin merasa hidup setiap saat bersama kalian." Air matanya mengalir.
Tanpa ragu, Bima mendekat pada ayahnya. Memeluk sang raja. Entah kapan terakhir ia memeluknya. Entah kapan terakhir ia mendengar detak jantung sang raja sedekat itu.
.....
Sadewa menghadang cewek berjaket abu-abu itu sebelum ia masuk ke kelasnya. Kala. Sudah sekian hari Sadewa tidak merecoki cewek itu. Setelah apa yang terjadi di rumahnya, ia ingin ada seorang teman bicara. Pilihannya selalu jatuh pada Kala.
"Bisa bicara sebentar?" tanya Sadewa.
Kala mengangguk. Ia pun tak tahu, kerasukan apa dirinya hari itu sampai mengangguk secara sukarela. Entah karena ia simpati melihat si pangeran tengil itu mukanya lebih kusut dari biasanya. Atau... rindu... Entahlah.
"Kamu lebih suka mangga atau jeruk?" tanya Sadewa.
Kala berpikir sejenak. "Jambu biji." celetuknya.
"Haha. Oke. Oke." Sadewa tergelak. "Bi, jus jambu biji. Dua." sahutnya pada Bibi kantin. Sadewa mengajak Kala-nya itu ke kantin.
"Kenapa kamu ketawa?" tanya Kala ketus.
"Aku tanya mangga atau jeruk. Kamu jawabnya yang lain."
"Memang gak boleh?"
"Boleh, sih. Tapi enggak terduga aja."
"Gak terduga apa?"
"Ternyata Kala bisa bercanda." Sadewa cekikikan.
"Aneh. Saya hanya ingin jus jambu kok disangka bercanda."
Bibi kantin meletakkan dua jus jambu biji di meja mereka.
"Kamu suka jus jambu biji?" tanya Sadewa.
Kala mengangguk lalu menyedot minumannya.
"Hati-hati. Bijinya kan bahaya buat tubuh. Ada biji yang masih utuh."
Hampir saja jus jambu di mulut Kala menyembur ke muka Sadewa. Kini Kala terbahak-bahak.