BORN TO BE PANDAWA

Nurul Awaliyah
Chapter #17

ENAM BELAS

Kulana! Aku kangen sekali sama kamu."

"Kamu ini ke mana?"

"Kenapa?"

"Gimana bisa kelas ini berjalan tanpa seorang putri raja semacam Kulana."

"Sehat, kan? Sudah lebih baik kamu? Lanaa..."

Begitulah kiranya Daniar menyambut Kulana lengkap dengan sebuah pelukan yang hari itu akhirnya masuk sekolah. Setelah beberapa hari menghilang dari peredaran.

"Lebay, lebay."

"Bener lho, Lana. Kelas jadi sangat sepi enggak ada kamu."

"Kulana beberapa hari mendadak bertransformasi dulu jadi putri tidur. Sekarang baru bangun dan kembali jadi Kulana Aswin, putri dari kerajaan Pandawa. Haha."

"Nyesel selama beberapa hari ini aku mengkhawatirkanmu, Lana. Kukira kamu akan berubah jadi rakyat biasa, ternyata masih penghuni negeri dongeng." ledek Daniar. Disusul dengan tawa mereka berdua.

"Lebih tepatnya, penghuni negeri dongeng yang ingin jadi rakyat biasa."

"Yang penting, sekarang kamu harus baik-baik saja." Satu pelukan lagi dari Daniar untuk Kulana.

"Kulana." panggil seseorang dari ambang pintu kelas Kulana. Bagas.

Bagas mengajak Kulana ke taman belakang sekolah. Ia ingin membicarakan sesuatu. Merasa bersalah pada Bagas karena tempo hari Kulana pergi begitu saja, terpaksa ia memenuhi keinginannya untuk berbicara.

"Saya minta maaf." Seorang Kulana, baru saja meminta maaf pada si buaya jadi-jadian. Sungguh, bahkan dirinya pun tidak menyangka dengan apa yang telah ia ucapkan.

"Minta maaf untuk apa? Justru saya yang minta maaf."

"Saya pergi gitu aja waktu itu."

"Gak apa-apa. Wajar kalau kamu ingin lari. Wajar kalau kamu ingin marah. Asal jangan lama-lama. Tapi sudah kuduga."

"Apa yang kamu duga?"

"Seorang Kulana bangkit secepat ini. Saya kira kamu akan mengurung diri bertahun-tahun. Sampai rambutmu sepanjang Rapunzel." canda Bagas sambil cekikikan.

"Rese, ya. Baru minta maaf langsung ngisengin lagi."

"Segitu doang protesnya? Biasanya kamu nyerocos panjang lebar."

"Sori, tenaga saya belum terkumpul kalau buat perang mulut sama kamu."

"Masa sih? Yakin?"

"Bodo amat."

"Oke. Oke. Sebetulnya saya ingin minta maaf soal perkataan saya. Rasanya saya terlalu lancang."

Kulana mengingat sesuatu. Ia mengerti permintaan maaf Bagas merujuk ke mana. Ke ucapan Bagas sore itu. Entah apa yang sudah kamu alami, Lana. Sampai tulisanmu begitu depresif.

"Gak apa-apa. Itu pertama kalinya ada seseorang yang bisa menilai tulisan saya sedalam itu."

"Kamu tahu, tulisanmu sebenarnya membuat saya nyaman. Tapi, enggak semuanya bisa nyaman, Lana."

"Iya, saya ngerti. Terima kasih. Saya selama ini salah. Saya selalu ingin membuat karakter dalam tulisan saya itu sebagai media. Media untuk menceritakan bagaimana sebenarnya diri saya. Sebagai perantara untuk menyampaikan bagaimana saya ketika melihat hujan. Bagaimana saya melihat kendaraan di jalan. Bagaimana saya melihat senja. Dan lain-lain. Selama ini, saya pikir tokoh-tokoh itu adalah saya. Dan saya adalah mereka. Dan pada akhirnya, ada yang bisa menilai sampai sejauh itu."

Lihat selengkapnya