BORN TO BE PANDAWA

Nurul Awaliyah
Chapter #18

TUJUH BELAS

Siap?"

"Siap, Mas."

"Oke. Kali ini kita bakal bener-bener ketemu sama penulis panutan saya, Lana."

"Tapi betul, kan, gak lama? Ini udah mau gelap lho, Mas."

"Gak akan lama, Lana. Ini sebagai hadiah buat kamu."

"Aku kalah kok dikasih hadiah."

"Lho? Justru yang kalah kan yang harus dikasih hiburan. Pokoknya, saya jamin dia bakal buat kamu merasa lebih baik dan termotivasi lagi."

Arjuna tersenyum. Mereka berdua saat ini akan ke kampus Arjuna. Untuk menonton musikalisasi puisi yang diadakan oleh teman-temannya. Kulana sangat ingin menonton acara itu. Ia sama sekali belum pernah menyaksikan secara langsung. Biasanya kegiatan itu hanya ia tonton lewat video yang sengaja direkam Arjuna. Tapi, bukan hanya itu. Tujuan lainnya adalah, bertemu Laras. Cewek yang selalu dipuji-puji oleh Arjuna. Kulana tahu kalau Laras adalah penulis terkenal, ia juga punya novel-novel ciptaannya. Tapi baru kali ini ia dapat kesempatan bertemu langsung.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada


Lantunan puisi berjudul Aku Ingin dari Sapardi Djoko Damono dengan diiringi gitar itu terdengar sesampainya mereka di sana. Mata Kulana langsung berbinar melihat penampilan itu. Telinganya seolah diberkahi. Benar-benar akan menjadi pengalaman pertama yang menyenangkan baginya. Sampai ia ingin suatu hari nanti bisa tampil seperti itu. Ayolah, Lana. Kenapa banyak sekali yang ingin kamu lakukan.

"Suka, gak?"

"Suka banget, Mas. Aku ingin suatu saat bisa kayak gitu."

"Kamu pasti bisa. Inget, saya selalu dukung kamu."

Arjuna mengajaknya menuju suatu ruangan. Ia ingin menunjukkan di mana tempat orang-orang yang hobi menulis itu berkumpul. Ruang sekretariat kecil di salah satu sudut kampus. Lagi-lagi, Kulana punya keinginan baru. Ia ingin nanti berkuliah sastra di sana.

"Mbak Laras." teriak Arjuna.

"Jun, saya kira kamu gak jadi datang."

Kulana langsung terkesiap melihat sosok yang ada di hadapannya kini. Perempuan berkulit putih, dengan rambut dikuncir kuda. Berbalut kaus dengan kemeja flanel bernuansa merah. Pantas saja seorang Arjuna mengaguminya. Ia sangat cantik. Matanya sayu dan teduh. Ia jadi teringat karakter Rindu yang Arjuna ceritakan. Jangan-jangan itu Mbak Laras. Eh, Kulana kembali teringat foto waktu itu. Ia sadar, itu Mbak Laras.

"Kenalin, Mbak. Ini Kulana, adik bungsu saya."

Kulana dan Laras saling berkenalan dan bersalaman.

"Jadi ini, satu-satunya putri dari kerajaan Pandawa." goda Laras. Membuat Kulana tersipu.

"Lana ini, ingin menjadi penulis, Mbak. Hobinya sama dengan saya." jelas Arjuna.

"Oiya? Betul, Lana?"

Lihat selengkapnya