"Siapa namanya, Jun?" tanya Yudis pada Arjuna di ruangan pribadinya. Ia langsung datang ketika Sadewa mengabarinya bahwa ada sesuatu hal terjadi di rumah.
"Laras Jingga." Arjuna masih menunduk.
"Namanya cantik. Dia cantik?"
"Sangat cantik, Mas."
"Dari mana kamu kenal dia, Jun?"
"Mbak Laras kakak tingkatku, Mas. Kini dia sudah alumni. Dia seorang penulis profesional."
"Tadi kamu menemuinya? Dengan Lana?"
"Iya. Kami berdua ketemu Mbak Laras. Di kampus. Ada suatu hal terjadi, kami harus antar dulu Mbak Laras ke rumah sakit."
"Lho? Kenapa dia, Jun?"
Arjuna menghela napas. "Mbak Laras sakit, Mas. Ada masalah di jantungnya. Awalnya aku ingin sekali berteduh pada Laras, sudah terlalu banyak badai yang saya alami. Kali ini, saya ingin menjadi tempatnya untuk berteduh. Badai milik Laras jauh lebih dahsyat."
"Baik. Mas sekarang paham. Mas sekarang ngerti betapa kamu mengagumi Mbak Laras itu. Kenapa kamu sangat ingin bersama dia."
"Saya mencintainya, Mas. Bukan sekadar mengagumi."
"Jun, saya harap kamu tidak secepat itu menyimpulkan. Jangan tertipu. Kamu telaah lagi ke dalam dirimu. Cinta bukan hal spontan."
"Saya cinta dengan Mbak Laras, Mas."
"Cinta itu mudah gak mudah, Juna. Kamu perlu telaah ke dalam dirimu. Itu cinta atau hanya sekadar kamu mengaguminya. Telaah sekali lagi. Kamu cinta, kagum, atau... hanya merasa empati dengan kenyataan bahwa keadaannya seperti itu."
"Saya cinta, Mas."
"Oke. Katakanlah kamu cinta. Tapi saat ini, pernikahan bukan solusi, Jun. Saya juga dengan Rana, butuh waktu sangat panjang sampai pada akhirnya kami memutuskan untuk menikah. Banyak yang kami pertimbangkan. Segala macam aspek. Saya harus bisa menghidupinya, bukan hanya mencintainya. Jangan buru-buru terbawa perasaan, saya mengerti perasaanmu. Tapi, saat ini. Itu belum bisa jadi sebuah solusi. Kamu baru akan dua puluh satu tahun, dan Mbak Laras?"
"Dua puluh tiga."
"Oke... dia masih sangat muda. Banyak aspek yang mungkin masih ingin dia capai. Belum lagi bagaimana pandangan orang tuanya nanti. Sekarang, kamu mengerti?"
"Tapi saya sudah lelah, Mas. Saya punya rumah tapi tidak seperti rumah. Saya pulang tapi tidak seperti pulang. Saya ingin hidup dengan Laras. Menjadikan dia tempat pulang bagi saya."
"Hey, Jun. Saya bilang sama kamu sekali lagi, pernihakan belum menjadi solusinya saat ini. Bukannya kamu ingin bahagia dengan Laras? Kamu ingin menyembuhkan dia? Ingin jadi tempat berteduh untuk dia? Bagaimana bisa, Jun? Karena apa? Karena bahkan kamu juga sakit, sembuhkan dulu dirimu. Biarkan dulu badaimu itu reda. Baru kamu bisa punya cukup tenaga untuk Laras. Mengerti?"
Arjuna mengangguk. Ia berusaha memahami.
"Mas..."
"Ya?"
"Malam itu, saya ke hotel bersama Mbak Laras. Tapi apa yang kami lakukan di sana. Tidak seperti apa yang tadi Mas Bima kira."
"Iya. Saya percaya."