"Ayah adalah orang yang paling saya hormati. Sekalipun saya tidak akan pernah merusak nama baik ayah. Saya tidak akan melakukan hal yang bisa menghancurkan diri saya atau pun menghancurkan keluarga saya." Arjuna sedang berhadapan dengan sang raja.
"Mas Bima salah paham. Saya ke hotel bukan untuk melakulan hal yang mungkin sebelumnya kalian pikirkan. Dia sedang sakit, dan saya tidak bisa berbuat apa pun selain memenuhi apa keinginannya."
"Saya betul-betul minta maaf. Saya sudah merenungkan soal ucapan saya kemarin."
Yudha tidak berkata apa-apa. Ia mendekat, lantas memeluk Arjuna. Mengusap kepalanya. Menepuk punggungnya. Hangat. Arjuna menangis di sana.
"Ayah sangat sayang padamu, Arjuna. Asal kamu tahu, kamu yang pertama membuat saya salut. Keputusan-keputusanmu selalu kamu pilih dengan rasa tanggung jawab. Ayah tidak pernah betul-betul menentang soal kuliahmu. Ayah hanya ingin tahu sejauh mana kamu bertahan. Caraku yang salah. Tapi untuk hal itu, bagaimana pun saat ini, menikah bukan jawaban, Juna. Ayah mohon, jangan mengambil keputusan terlalu cepat."
"Saya minta maaf"
Kinanti di ambang pintu menangis lega. Apa yang ia lihat saat itu menenangkan. Ia harap, tiada lagi badai dalam rumah itu.
.....
"Halo, Mabro Arjuna." Bima mencoba bersikap seperti biasanya. Mencoba menghalau kecanggungan karena kesalah pahamannya soal mengira Arjuna telah main-main di hotel.
"Berisik." sergah Arjuna.
Bima memeluk Arjuna. Membuat adiknya itu meronta.
"Gue minta maaf. Gue sebetulnya percaya sama lo. Lo gak mungkin ngelakuin hal itu. Tapi mendadak lo pengen nikah, dan sebelumnya gue lihat lo masuk hotel sama cewek. Otomatis pikiran gue ke sana." cerocos Bima.
"Makanya, sebelum apa-apa riset dulu. Mas Bima pikir saya cowok macam apa."
"Jadi, gimana? Lo yakin mau nikah? Ngelangkahin gue? Bahkan ngelangkahin Mas Yudis?" canda Bima sambil bertepuk tangan.
"Berisik!"
"Tapi, Jun. Gue sekilas lihat cewek itu. Cantik banget. Gila, hebat banget lo."
"Berisik!"
"Kenalin dong." Tak henti-hentinya Bima menggoda Arjuna.
Segera Arjuna kembali ke ruangan pribadinya. Kembali mengurung diri di sana. Kembali melihat manuskripnya. Kembali meraih kertas-kertas itu. Kisah yang baru separuh. Bahkan mungkin tidak akan pernah bisa ia akhiri. Rindunya entah bagaimana. Yang jelas Pandu telah patah. Hancur sehancur-hancurnya. Bagaimana bisa kenyataan lebih perih daripada cerita fiksinya. Kalau bisa, ia benar-benar ingin menjadi Pandu, dan Laras menjadi Rindu. Hidup dalam dongeng, biar abadi. Bahkan jika mati, lembar berikutnya mungkin bisa dibuat hidup lagi.
Berapa kali pun ia ditanya oleh orang lain atau pun oleh dirinya sendiri. Jawaban itu tetap sama. Arjuna mencintai Laras. Terserah mau percaya atau tidak. Cinta pangeran ingusan kepada putri yang sempurna itu memang terkesan berlebihan. Memang, ini hanya dongeng bagi siapa pun. Tapi, bagi Arjuna, itu adalah kenyataan yang paling nyata.
.....
Sadewa menghembuskan napas berat.
"Kenapa lagi?" tanya Kala. Mereka berdua sama-sama sedang menunggu mentor English Club di sekolahnya.
"Dugaanku bener. Yang kubilang dia akan meledak suatu hari nanti, ternyata benar. Enggak aku sangka dia meledak secepat ini. Seisi istana ikut berserakan."
"Serius kamu? Lalu bagaimana? Ada ledakan di istanamu, tapi aku lihat kamu masih santai."
"Terus aku harus bagaimana? Harus nangis-nangis meratapi gitu?"
"Ya seenggaknya kamu harus agak gak nafsu makan. Atau apa gitu."
Sadewa tertawa.
"Jangan ketawa. Kamu pikir hal itu lucu?"
"Kamu yang lucu, Kala."