Semenjak permasalahan-permasalahan itu. Semakin hari istana semakin tenang. Seolah tidak terjadi apa-apa. Seperti biasanya. Ritual absen pagi. Ritual malam. Semuanya normal. Bersekolah. Bekerja. Sarapan dan makan malam bersama. Saling mengejek. Berebutan kamar mandi. Seakan-akan tidak akan pernah ada perang lagi di sana.
Bima yang terus berusaha mendapatkan pekerjaan yang ia inginkan. Apalagi sudah mengantongi restu ayahnya, ia jadi semakin antusias. Lamaran kerja yang kemarin ia kirim ke kantor yang sama dengan Karin, ternyata belum mendapatkan hasil baik. Minimnya pengalaman yang ia punya ternyata berpengaruh untuk menentukan ia bisa bekerja sebagai pegawai resmi atau tidak. Alhasil, ia sementara tetap jadi tour leader on call di tempat Adin bekerja, hanya sebatas jika kekurangan personel saja ia akan di ajak untuk mengawal rombongan.
Arjuna yang seperti sedia kala. Kuliah-pulang. Kuliah-pulang. Mengurung diri di kamar. Berkelana dalam imajinasinya. Usut punya usut, ia belum sama sekali menemui Mbak Larasnya lagi. Entah masih menelaah ke dalam dirinya perihal apa sebenarnya perasaan yang ia punya terhadap Laras. Atau memang ia sudah punya jawabannya dan memilih untuk diam. Entahlah, segala macam tentang Arjuna memang tak akan terjamah oleh siapa pun.
Kulana yang kian hari kian normal. Entah normal, entah tidak. Yang pasti ia agak sedikit mengurangi porsi bicaranya. Ia berusaha lebih santai. Mengatur jam belajarnya lebih longgar. Sudah beberapa hari tidak bicara soal tulis menulis cerita pendek atau puisinya. Nama pena Aswin Lana pun sekarang sudah tidak jadi penguasa mading lagi. Ia betul-betul ingin santai dan menikmati sisa masa SMA nya dengan tenang.
Sadewa, entahlah. Anak itu memang ajaib. Selain kini ia jadi lebih rajin dalam pelajaran. Tidak ada hal baru lainnya dari Sadewa.
.....
"Yudis susah sekali dihubungi akhir-akhir ini, Mas. Sekali-kali kita kunjungi dia ke rumahnya. Takut ada apa-apa." ujar Kinanti pada Yudha.
"Biarkan dulu saja, Kinanti. Dia juga pasti lelah. Belum lagi, dia kan yang bantu nasihatin adik-adiknya. Besok malam kita ke rumahnya."
"Aku hanya khawatir. Merasa belum tenang. Kapan kita akan..."
Yudha menyela. "Sudah, saya tidak mau bahas itu lagi. Saya keliru waktu bilang kalau Yudis harus tahu. Saya sekarang sadar, sebaiknya kita bawa rahasia itu sampai mati."
"Hus. Jangan bawa-bawa mati. Jangan asal bicara. Aku cuma gak mau kalau sampai Yudis tahu dari orang lain. Pernikahannya makin dekat, Mas. Saya takut kalau itu jadi malapetaka untuk Yudis."
"Saya jamin semuanya baik-baik saja."