BORN TO BE PANDAWA

Nurul Awaliyah
Chapter #22

DUA PULUH SATU

Seluruh penghuni istana kini baru saja sampai tepat di depan rumah Yudistira. Beberapa hari ia tidak bisa dihubungi. Membuat Yudha dan Kinanti khawatir. Alhasil, Yudha mengajak istri dan keempat anaknya untuk berkunjung ke sana. Sekaligus memberi kejutan.

Baru saja sampai, mereka sudah menaruh curiga. Mobil Yudistira terparkir di sana. Tapi rumahnya terkunci rapat dan gelap. Seperti tidak berpenghuni.

"Dis... Dis..." sahut Yudha sambil mengetuk pintu. Tidak ada jawaban.

"Mas Yudis... Mas Yudis..." Suara cempreng Kulana, diharapkan bisa membuat orang yang ada di dalam mendengar. Tapi, belum juga ada yang merespon.

"Mas Yudis!" Kali ini Bima ikut bersuara.

"Dis... ini Ibu." Kinanti ikut memanggil.

Arjuna sibuk dengan ponselnya. Membantu dengan cara menelepon Yudistira. Tapi operator yang menjawab, memberi informasi kalau nomor yang ia telepon sedang tidak aktif. Membuat semua orang semakin khawatir.

Sadewa hanya bisa diam. Ia sungguh tidak tahu harus berbuat apa. Ia merasa kalau hal ini ada hubungannya dengan tiket-tiket pesawat yang ia lihat. Dan pastinya, ada hubungannya dengan apa yang ia dengar waktu itu ketika Kinanti menelepon seseorang.

"Ini kunci rumahnya, Yah." ucap Kulana ketika mendapati kunci rumah itu ada di palang pintu.

Segera mereka membuka pintu dan masuk. Di dalam benar-benar gelap. Semuanya sangat rapi. Mereka mencari ke setiap sudut ruang. Kosong. Tidak ada siapa pun di sana. Entah ke mana Yudistira saat itu.

Bima mencoba menenangkan Kinanti yang saat itu sudah mulai panik. Membuatkannya secangkir teh hangat. Berkali-kali Arjuna kembali menelepon Yudistira. Tapi hasilnya sama. Bahkan ia pun mencoba menelepon Rana. Sama saja. Keduanya tidak bisa dihubungi. Semuanya kebingungan.

"Ayah... lemari Mas Yudis sudah kosong sebagian. Barang-barangnya juga gak ada di kamar." Kulana memberi tahu ayahnya setelah ia memeriksa kamar Yudis. Seketika Yudha melemas.

"Aku merasa Yudis tahu sesuatu, Mas. Sudah aku bilang jangan sampai Yudis tahu dari orang lain, jadinya begini." ucap Kinanti hampir menangis.

"Tenang dulu, Kinanti. Apa yang ada di pikiranmu saat ini belum tentu yang sebenarnya terjadi." jawab Yudha.

Lihat selengkapnya