BORN TO BE PANDAWA

Nurul Awaliyah
Chapter #23

DUA PULUH DUA

Tidak bernyawa. Adalah dua kata yang cocok untuk menggambarkan Yudha dan Kinanti saat ini. Sudah satu bulan semenjak kepergian Yudistira. Anak sulungnya itu sama sekali tidak memberi kabar walau hanya sebuah pesan singkat. Beruntungnya, mereka punya calon menantu yang pengertian. Beberapa kali Rana mengabari mereka berdua hanya untuk memberi tahu bahwa Yudis baik-baik saja. Ia hanya masih butuh waktu.

Selama ini, Yudis hanya berusaha menutupi apa yang ia rasakan. Sudah seperti robot yang kehilangan rasa. Hanya melakukan apa yang Yudha perintahkan. Memenuhi tanpa terkecuali. Tidak ada kata berhenti atau istirahat dalam hidup Yudis selama ini. Ia hanya harus sampai puncak secepat mungkin, begitulah yang diinginkan ayahnya. Yudis, hanya bisa pasrah. Rasa bersalahnya karena ia tahu bahwa dirinya bukan anak kandung dari mereka, membuat Yudis semakin memaksakan dirinya.

Sang raja kini sudah bagai kehilangan separuh kekuatannya. Apa arti dirinya tanpa senjata sehebat Yudis. Kali ini, ia tidak berharap Yudis menjadi senjatanya lagi. Ia ingin Yudis hanya menjadi anaknya yang bisa ia pandang setiap saat.

Sang ratu sudah tak terlalu berseri-seri. Matanya kian cekung, memendam rasa sakit. Pangeran Yudisnya yang entah akan kembali ke pelukan atau tidak. Akan bisa ia dengar suaranya lagi atau tidak. Akan mencium keningnya lagi atau tidak.

Empat Pandawa yang tersisa kini di istana. Hanya berusaha menjadi penghibur terbaik bagi kedua orang tuanya. Terlebih lagi mereka juga menjadi penghibur terbaik untuk diri mereka sendiri. Tidak ada yang berubah, mereka tetaplah anak dari istana itu. Hanya saja, mereka sedang berusaha bangkit, menjadi diri mereka sendiri. Tidak memaksakan diri untuk menjadi sesuatu yang tidak mereka inginkan.

Kurawa bagi mereka bukanlah musuh di luar sana. Tapi di dalam diri mereka sendiri. Kurawa kehidupannya masing-masing.

Lihat selengkapnya