Bosku Fans Beratku

kholid alamsyah
Chapter #1

Kopi Pahit dan Bos Kaku

Bunyi alarm ponsel melengking nyaring untuk kelima kalinya di atas kasur lipat kamar kos berukuran tiga kali empat meter itu. Mika menjulurkan tangannya dari bawah selimut bergambar kucing, meraba-raba layar ponsel dengan mata yang masih terpejam rapat. Begitu matanya berhasil menangkap angka digital yang tertera di layar, kesadarannya seketika meledak.

"MAMPUUSSS! JAM TUJUH LEWAT EMPAT PULUH?!"

Mika meloncat dari kasur bagaikan disengat listrik ribuan volt. Jam masuk kantor Lentera Media adalah pukul delapan tepat, dan jarak kosannya ke kawasan perkantoran Jakarta Selatan dalam kondisi jam sibuk sama saja seperti medan perang. Tanpa sempat mandi secara layak hanya mengandalkan cuci muka kilat, sikat gigi, dan semprotan parfum vanila berlebih—Mika menyambar tas ranselnya yang berantakan, menyumpal tablet menggambarnya ke dalam tas, lalu berlari membelah gang sempit menuju jalan raya.

Perjalanan dengan ojek online pagi itu terasa seperti wahana wahana ekstrem. Mika berkali-kali menepuk bahu abang ojek agar membelah kemacetan Ibu Kota lebih cepat. Tepat pukul 07.55 WIB, Mika melompat turun di depan gedung jangkung Lentera Media, menyodorkan uang pas, lalu berlari maraton menuju pintu kaca utama.

Langkah kaki Mika bergema nyaring di atas lantai marmer lobi. Di tangan kanannya, ia menggenggam satu cangkir kertas berisi kopi hitam panas dari kedai depan kantor kopi tumbal keselamatan untuk bosnya.

Mika menahan pintu elevator yang hampir tertutup dengan lengannya. "Tunggu, Pak! Numpang!" serunya napas terengah-engah.

Begitu berhasil menyusup masuk ke dalam elevator yang lengang, Mika mengusap dada dengan lega. Namun, kelegaannya menguap seketika begitu bau aroma minyak wangi maskulin yang sangat dihafalnya menyeruak ke udara. Mika perlahan melirik ke samping kirinya.

Di sana, berdiri seorang pria tinggi tegap berbalut setelan jas hitam yang terpotong sangat rapi. Kemeja putihnya licin tanpa lipatan sedikit pun, dan kacamata berbingkai tipis bertengger sempurna di atas hidungnya yang mancung. Pria itu menatap lurus ke depan, jemarinya yang panjang merapikan jam tangan kulitnya dengan ketelitian seorang dokter bedah.

Kenan Dewantara. Editor-in-Chief penerbitan Lentera Media sekaligus bos paling ditakuti seisi gedung.

Mika mendadak mematung. Punggungnya menempel rapat ke dinding elevator, berusaha membuat dirinya sekecil mungkin. Aduh, kenapa harus satu lift sama Bos Monster pagi-pagi gini?! batin Mika panik.

Kenan melirik sedikit lewat sudut matanya. Pandangannya turun menyapu penampilan Mika dari atas sampai bawah rambut cokelat tembaga Mika yang dikuncir kuda agak miring, ujung kemeja yang lupa dimasukkan ke dalam celana, dan napasnya yang masih berburu seperti habis dikejar anjing tetangga.

"Pagi, Pak Kenan..." cicit Mika sambil tersenyum canggung, menyodorkan cangkir kopi di tangannya. "Ini... kopi pesanan Bapak seperti biasa. Kopi hitam panas tanpa gula."

Kenan tidak langsung mengambil cangkir itu. Ia menatap cangkir kertas tersebut, lalu menatap Mika dingin. "Jam berapa sekarang, Mikaela?"

"J-jam tujuh lewat lima puluh delapan, Pak! Belum jam delapan, artinya saya nggak terlambat!" sahut Mika cepat, membela diri dengan semangat kepepet.

"Secara administratif, kamu memang belum terlambat dua menit," ujar Kenan dengan suara berat yang kaku dan tenang. "Tapi secara profesionalisme, jam kedatangan yang mepet dengan penampilan berantakan seperti ini menunjukkan manajemen waktu kamu yang kacau. Kamu anak magang di divisi editorial, Mikaela. Bukan buronan yang sedang lari dari polisi."

Ting!

Pintu elevator terbuka di lantai empat lantai divisi editorial. Kenan melangkah keluar lebih dulu tanpa menyentuh cangkir kopi yang disodorkan Mika.

Mika mengekor di belakang dengan muka ditekuk. "Tapi kopi Bapak..."

Kenan menghentikan langkahnya tepat di depan meja kerjanya yang sangat rapi. Ia berbalik, mengambil cangkir kopi dari tangan Mika, lalu menyesapnya sedikit. Dahi Kenan langsung berkerut dalam.

Lihat selengkapnya