Hari Senin pagi di ruang rapat utama Lentera Media terasa lima derajat lebih dingin dari biasanya. AC sentral gedung berembus kencang, namun atmosfer mencekam yang menyelimuti delapan orang editor senior di dalam ruangan itu murni berasal dari pria yang berdiri di ujung meja oval.
Kenan Dewantara berdiri tegap di depan layar proyektor raksasa. Kemeja birunya tergulung rapi hingga siku, memperlihatkan jam tangan kaku yang selalu menjadi penanda bahwa tiap detik waktu adalah uang. Di layar di belakangnya, terpampang grafik pertumbuhan pembaca platform digital Kwikku yang melonjak tajam dalam grafik garis berwarna hijau terang.
"Tiga bulan terakhir, lalu lintas pembaca di segmen romance-comedy Kwikku dikuasai oleh satu judul komik ini," suara Kenan bergema, dalam, tegas, dan tak terbantahkan. Ia menekan tombol pada remote presentasi, menampilkan slide berisi sampul webtoon Bosku Monster, Kucingku Penyelamat.
Mbak Rini dan para editor senior mengangguk-angguk paham, sementara Mika yang duduk di sudut paling pojok meja rapat berusaha menunduk serendah mungkin, berpura-pura sangat sibuk mencatat di buku tulisnya. Padahal, tangannya yang menggenggam pulpen sudah gemetar dingin.
"KopiPahit berhasil menggaet lebih dari lima ratus ribu pembaca aktif bulanan tanpa bantuan promosi dari penerbit mana pun," lanjut Kenan, matanya menyapu wajah stafnya satu per satu dari balik kacamata. "Ceritanya segar, karakterisasi tokohnya sangat kuat, dan yang paling penting, keterikatan emosional pembacanya sangat tinggi. Kompetitor kita, MediaGrafia, kabarnya sudah mulai bergerak untuk mendekati penulis ini."
Kenan mengetukkan jemarinya di atas meja kayu polish. Tak. Tak. Tak. Suara ketukan itu seperti bunyi detak bom waktu di telinga Mika.
"Prinsip saya simpel," ujar Kenan dingin. "Lentera Media tidak boleh kalah cepat. Saya mau kontrak eksklusif penertiban fisik dan hak adaptasi digital komik ini jatuh ke tangan kita sebelum akhir bulan."
Mas Yoga, salah satu editor senior, mengangkat tangan ragu-ragu. "Tapi Pak Kenan, KopiPahit itu terkenal sangat introvert dan tertutup. Dia tidak pernah mencantumkan nomor kontak, alamat email, atau identitas asli di bio akun Kwikku-nya. Beberapa penerbit lain yang mencoba kirim DM bahkan tidak pernah dibalas."
"Itulah kenapa kita butuh pendekatan yang lebih taktis dan intensif," sahut Kenan tanpa keraguan sedikit pun. "Karena para editor senior sedang memegang proyek tenggat waktu buku cetak akhir tahun, saya butuh satu orang yang bisa mendedikasikan seratus persen waktunya untuk melacak, mendekati, dan membangun komunikasi dengan KopiPahit."
Pandangan mata Kenan meluncur melewati para editor senior, lalu berhenti tepat di ujung meja lurus menembus Mikaela.
Mika yang sedang asyik menunduk mendadak merasakan aura dingin menusuk ubun-ubunnya. Saat ia memberanikan diri mendongak, ia mendapati tatapan tajam Kenan terkunci padanya.
"Mikaela."
DEG!
"S-saya, Pak?" cicit Mika sambil menunjuk dadanya sendiri dengan muka pucat.