Bosku Fans Beratku

kholid alamsyah
Chapter #3

Ngeles Tingkat Tinggi dan Perangkap Bandung

Darah di sekujur tubuh Mika rasanya mendadak mengental jadi es batu. Ruangan kerja Kenan yang berpendingin udara terasa seperti ruang eksekusi mati.

Tatapan mata Kenan dari balik kacamata bingkai tipisnya menusuk tepat di ulu hati Mika. Tangan pria itu masih memegang ponsel, sementara matanya tak lepas dari layar ponsel Mika yang baru saja bergetar nyaring.

Pikir, Mika! Pikir! Otak Gen-Z lo jangan mati lampu sekarang! jerit batin Mika histeris. Sel-sel otaknya berputar dengan kecepatan cahaya, mencari skenario paling masuk akal di muka bumi.

"Mikaela," panggil Kenan sekali lagi, suaranya makin dalam dan menuntut. "Saya menunggu penjelasan kamu."

Dengan gerakan super reflektif, Mika menyambar ponselnya dari meja, menatap layarnya dengan mata membelalak penuh drama, lalu menepuk jidatnya sendiri agak keras.

"ASTAGA! NOTIFIKASI TRACKER-NYA BUNYI!" teriak Mika dengan ekspresi kaget yang dibuat-buat seratus sepuluh persen.

Kenan mengerutkan keningnya dalam-dalam. "Tracker?"

"Iya, Pak Kenan!" Mika langsung berdiri dari kursinya, menyodorkan layar ponselnya ke depan wajah Kenan dari jarak aman agar pria itu tidak sempat membaca detail aplikasinya secara teliti. "Tadi pas Bapak blang mau tugasin saya buat pantau KopiPahit, saya langsung pasang fitur Keyword Alert Notification di aplikasi Kwikku saya!"

"Fitur apa itu?" tanya Kenan, alisnya terangkat sebelah.

"Fitur khusus buat melacak lalu lintas kata kunci, Pak!" celoteh Mika secepat senapan mesin, mengumbar istilah-istilah pemasaran digital yang asal bunyi dari kepalanya. "Saya setel notifikasi otomatis di HP saya: kalau ada akun resmi yang mention nama @KopiPahit dengan kata kunci Lentera Media atau Penawaran, sistem di HP saya langsung bunyi beep! Ini cara saya sebagai asisten Bapak buat memastikan kalau ada pergerakan atau balasan dari KopiPahit secara real-time!"

Kenan memandangi Mika dengan tatapan selidik. Pria perfeksionis itu terdiam selama lima detik yang terasa seperti lima dekade bagi Mika. Kenan lalu melihat ponsel Mika, lalu berganti menatap wajah Mika yang sudah dibasahi keringat dingin di sekitar pelipisnya.

"Kamu... memasang pelacak kata kunci secepat itu?" tanya Kenan, nada intonasinya melunak dari bahaya menjadi heran.

"Tentu saja, Pak!" Mika mengangguk-angguk mantap bagaikan boneka dashboard mobil. "Saya kan anak magang yang responsif! Bapak tadi bilang butuh kejelian saya sebagai Gen-Z, makanya saya langsung bertindak cepat. Maaf ya, Pak, kalau bunyi notifikasinya bikin Bapak kaget!"

Kenan mendesah pelan. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, membetulkan letak kacamatanya yang sempat merosot. Ketegangan tinggi yang tadinya membakar ruangan itu mendadak surut perlahan.

"Lain kali matikan suaranya," tegur Kenan datar, walau ada sedikit binar kepuasan di matanya karena melihat anak magangnya bertindak cepat. "Tapi... inisiatif kamu cukup bagus. Itu bukti kalau kamu serius menjalankan tugas ini."

SELAMAT! GUE SELAMAT! YA TUHAN, TERIMA KASIH ATAS BAKAT NGELES SAYA! jerit Mika dalam hati, rasanya ingin sujud syukur di atas karpet ruangan Kenan.

"Terima kasih, Pak! Saya akan terus pantau akunnya dua puluh empat jam!" sahut Mika penuh semangat palsu.

Lihat selengkapnya