Bosku Fans Beratku

kholid alamsyah
Chapter #4

Malam Panik dan Bahu Sang Bos

Kamar kosan Mika malam itu mendadak tampak seperti markas perencanaan operasi rahasia tingkat tinggi.

Lantai kamarnya dipenuhi lipatan kertas, draf lukisan yang diremas, serta cangkir kopi sachet ketiga yang sudah dingin. Di atas kasur, Mika berjalan bolak-balik dengan langkah gusar, menepuk-nepuk jidatnya sendiri.

"Gimana bisa begini, sih?!" gerutu Mika histeris pada dinding kamar. "Gue bilang gue lagi di Bandung biar Pak Kenan berhenti ngerjar gue, tapi cowok kaku itu malah nekad mau nyusul ke Bandung besok pagi! Ini mah senjata makan tuan namanya!"

Mika menghempaskan tubuhnya ke kasur. Otak Gen-Z miliknya dipaksa bekerja ekstra keras. Jika besok ia pergi ke Bandung berduaan dengan Kenan, Kenan pasti akan terus memegang ponselnya, menunggu balasan dari KopiPahit. Jika KopiPahit mendadak tidak bisa dihubungi, Kenan akan makin curiga. Tapi jika KopiPahit membalas pesan saat Mika berada tepat di sampingnya... tragedi notifikasi waktu itu bisa terulang lagi!

"Gue harus bikin skenario penyelamatan diri," bisik Mika, matanya mendadak berbinar mendapatkan ide gila. "KopiPahit harus tetep 'hadir' di Bandung secara fisik, tapi tanpa bikin gue ketahuan!"

Mika melompat ke meja kerjanya. Ia menyalakan pen tablet, menggoreskan pena digitalnya dengan kecepatan penuh. Ia menggambar sebuah ilustrasi eksklusif yang sangat personal: gambar karakter Bos Monster dan Kucing Kecil yang sedang duduk minum kopi bersama di bawah naungan pohon pinus khas Dago, Bandung.

Setelah selesai, Mika mencetaknya di kertas kartu tebal kualitas tinggi. Di balik gambar itu, Mika menuliskan pesan dengan tulisan tangan yang sengaja dibentuk agak rapi:

"Terima kasih sudah jauh-jauh datang ke Bandung, Pak Kenan. Maaf sekali saya tidak berani menemui Bapak secara langsung karena kecemasan sosial saya. Tapi karya ini saya dedikasikan khusus untuk Bapak sebagai bentuk apresiasi atas dukungannya selama ini. Tetap jadi pembaca setiaku ya!"

Mika memasukkan kertas itu ke dalam amplop cokelat berstempel lilin rakitannya sendiri. Rencananya sangat simpel tapi berisiko tinggi: Besok di Bandung, saat Kenan mengajaknya ke kafe tempat KopiPahit "biasa nongkrong", Mika akan pura-pura pamit ke toilet, lalu secara sembunyi-sembunyi menitipkan amplop ini ke kasir kafe untuk diserahkan kepada Kenan.

"Sempurna!" seru Mika bangga, memandangi amplop cokelat di tangannya. "Skenario ini nggak cuma bikin identitas gue aman, tapi juga bikin Bos Monster terharu dan berhenti memburu keberadaan gue secara fisik!"

Mika melihat jam di dinding. Pukul tiga pagi. Ia hanya punya waktu tidur kurang dari dua jam sebelum harus bertolak ke stasiun.

Pukul 05.45 WIB di Stasiun Kereta Cepat Halim.

Mika berdiri lemas di dekat pintu masuk peron dengan mata merah menyala dan langkah menyeret. Penampilannya pagi itu benar-benar mengandalkan sisa-sisa tenaga hidup: kemeja kotak-kotak oversized, celana jeans longgar, dan cangkir kopi sachet hangat di genggamannya.

Lihat selengkapnya