Suara pengumuman otomatis dari pengeras suara Kereta Cepat Whoosh membahana di dalam gerbong eksekutif, memberitahukan bahwa dalam beberapa menit lagi rangkaian kereta akan tiba di Stasiun Padalarang.
Mika mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih terasa berat. Kesadarannya perlahan pulih, disambut oleh rasa hangat kain syal tipis yang membelit lehernya dan wangi aroma maskulin yang menenangkan. Namun, begitu matanya terbuka sempurna dan menyadari posisinya, seluruh sel saraf di otak Mika mendadak menjerit histeris.
Kepalanya masih bersandar dengan sangat nyaman di bahu kiri Kenan!
"A-ASTAGA!"
Mika meloncat duduk tegak bagaikan disengat lebah kerdil. Mukanya seketika merona merah padam sampai ke ujung telinga. Ia menatap Kenan yang sedang sibuk melipat syalnya dengan gerakan amat tenang.
"P-Pak Kenan! Maaf! Maaf banget, Pak!" cicit Mika panik half-dead, tangannya sibuk menepuk-nepuk bekas bahu jas Kenan seolah ada debu gaib di sana. "Saya beneran nggak sengaja ketiduran! Bapak kenapa nggak bangunin saya sih?!"
Kenan menoleh pelan, merapikan kacamata bingkai tipisnya dengan ibu jari. Raut wajahnya kembali kaku seperti biasa, seolah senyum hangat yang sempat terukir di bibirnya beberapa puluh menit lalu hanyalah halusinasi Mika belaka.
"Saya mau bangunin kamu," ujar Kenan dingin, namun ada sedikit nada jahil yang tersembunyi halus di balik intonasinya. "Tapi kamu tidurnya nyenyak sekali. Lagipula, bahu saya sekarang pegal luar biasa gara-gara ketiban kepala kamu yang lumayan berat itu."
"A-iya Pak, maaf... nanti saya belikan salonpas satu dus di stasiun," sahut Mika meringis menahan malu yang membumbung tinggi.
Mampus gue! Gue ketiduran di bahu Bos Monster! Dan gila aja, ini syal wangi banget lagi! batin Mika menjerit, rasanya ingin langsung menyamar jadi remahan biskuit di lantai kereta.
Satu jam kemudian, mobil sewaan mereka membelah kawasan Dago Upper yang sejuk dan dikelilingi pepohonan pinus rindang. Udara dingin khas Bandung merayap masuk lewat celah kaca mobil yang sedikit terbuka.
Mobil berhenti di depan sebuah kafe bergaya glasshouse estetis bernama Kopi & Pinus. Kafe ini adalah tempat yang pernah disebutkan oleh akun @KopiPahit di kolom komentar Kwikku sebagai lokasi favoritnya untuk mencari inspirasi gambar saat berkunjung ke Bandung.
Kenan melangkah masuk lebih dulu dengan gaya tegapnya yang selalu menyedot perhatian. Pandangan matanya menyapu sekeliling kafe yang penuh dengan interior kayu, sudut-sudut meja baca, dan aroma biji kopi arabika yang menyeruak kuat.
"Kita duduk di meja sudut dekat jendela itu," tunjuk Kenan.
Mika mengekor di belakang sambil meremas tali ranselnya. Di dalam ransel itu, amplop cokelat rahasia berstempel lilin sudah siap dieksekusi. Ini adalah momen hidup dan mati bagi Mika.
"Mikaela," panggil Kenan begitu mereka duduk berhadapan di meja kayu melingkar. "Saya sudah kirim DM lagi ke KopiPahit, memberitahukan kalau kita sudah sampai di kafe Dago yang biasa dia datangi."
DEG!
Mika membelalak pelan, tapi langsung memasang wajah profesional palsunya. "O-oh ya, Pak? Terus gimana? Ada balasan?"
"Belum dibaca," jawab Kenan sambil menatap layar ponselnya dengan intensitas seorang detektif. "Kamu pantau terus pelacak kamu. Kalau ada pergerakan, beri tahu saya."
"Siap, Pak! Tapi... permisi Pak, saya izin ke toilet sebentar ya! Mual dikit gara-gara jalanan Dago kelok-kelok," pamit Mika buru-buru berdiri sebelum Kenan sempat bertanya lebih lanjut.
"Jangan lama-lama. Kita di sini buat kerja, bukan jalan-jalan," tegur Kenan datar.
Mika melambaikan tangan mengiyakan lalu setengah berlari menuju lorong toilet di bagian belakang kafe. Begitu berada di luar jangkauan pandangan Kenan, Mika berbelok tajam menuju meja kasir utama!
Seorang barista cowok berambut ikrib dengan celemek cokelat menyapa Mika ramah. "Selamat siang Kak, mau pesan apa?"
Mika menengok ke kanan-kiri memastikan situasi aman, lalu mengeluarkan amplop cokelat tebal dari ranselnya beserta uang kertas seratus ribu rupiah sebagai umpan pelicin.