Bosku Fans Beratku

kholid alamsyah
Chapter #7

Panggung Megah dan Kebenaran yang Terbongkar

Lampu sorot berwarna-warni membelah kegelapan Main Hall Jakarta Convention Center (JCC) malam itu. Suara musik berdentum megah, berpadu dengan kilatan lampu kilat dari puluhan wartawan media massa yang memadati karpet merah. Ratusan kreator, penerbit, dan pembaca setia Kwikku berkumpul mengenakan pakaian formal terbaik mereka.

Di barisan kursi VIP paling depan, Kenan Dewantara tampak amat karismatik. Ia mengenakan tuksedo hitam dengan potongan amat presisi, dipadukan kemeja putih bersiluet tajam dan kacamata berbingkai tipis. Tatapan matanya yang elok menyapu sekeliling ruangan, tampak gelisah namun penuh antisipasi.

Di sampingnya, Mikaela duduk dengan gaun terusan warna sage green yang anggun—pilihan Mbak Rini agar anak magangnya tidak memalu-malukan nama Lentera Media. Namun, di balik penampilannya yang cantik malam itu, jari-jari Mika saling bertaut rapat di atas pangkuannya. Tangannya dingin seperti es.

"Kamu kenapa, Mikaela? Tangan kamu gemetaran," tegur Kenan pelan, melirik ke arah Mika dengan raut khawatir.

"G-gapapa, Pak Kenan..." cicit Mika, berusaha mengukir senyum walau dadanya serasa mau meledak. "Saya... cuma gerah aja. AC JCC kurang dingin ya, Pak?"

"Suhu ruangan ini dua belas derajat, Mikaela," sahut Kenan datar. Ia merogoh saku dalam tuksedonya, lalu menyodorkan sebuah saputangan kain berwarna biru gelap yang terlipat rapi kepada Mika. "Usap keringat di pelipis kamu. Kamu kelihatan makin pucat."

"M-makasih, Pak..." Mika menerima saputangan itu, menghirup aroma maskulin khas Kenan yang menempel di kain tersebut. Rasa hangat mendadak mengaliri dadanya, namun rasa paniknya jauh lebih dominan.

Kenan kembali memandangi pintu masuk utama aula. "Saya sudah minta tim keamanan di depan untuk mengawal KopiPahit begitu dia mengonfirmasi kehadirannya di meja registrasi. Kalau serangan kecemasan sosialnya kumat, saya sendiri yang akan turun tangan mendampingi dia di atas panggung."

Mika menatap profil samping wajah bosnya. Ada rasa bangga, protektif, dan dedikasi yang begitu murni di mata Kenan.

Pak Kenan... lo beneran bos yang luar biasa, batin Mika terenyuh. Tapi Maafkan gue... karena orang yang pengin lo lindungi dari tadi udah duduk persis di sebelah lo.

"Dan kini, kita sampai pada acara puncak yang paling ditunggu-tunggu malam hari ini!"

Suara pembawa acara wanita yang menggema dari pengeras suara utama seketika membungkam riuh pembicaraan di dalam aula JCC. Lampu utama ruangan mendadak dipadamkan, menyisakan satu lampu sorot putih yang berputar-putar di atas panggung utama.

"Malam Penganugerahan Kwikku Webtoon Competition Pemenang Utama!" lanjut pembawa acara dengan intonasi membakar semangat. "Dengan total pembaca mencapai jutaan, jalan cerita yang menghangatkan hati, dan komedi yang memikat seluruh kalangan... Selamat kepada BOSKU MONSTER, KUCINGKU PENYELAMAT karya KOPIPAHIT!"

BLLAAARRR!

Tepuk tangan riuh dan sorak-sorai ratusan hadirin pecah membahana! Di layar LED raksasa berukuran puluhan meter di atas panggung, terpampang lukisan visual sang Bos Monster dan Kucing Kecil—karya gambar yang sangat dihafal oleh seisi ruangan.

Kenan langsung berdiri dari kursinya, bertepuk tangan paling kencang dengan binar mata penuh kebanggaan yang membara. Ia menengok ke kanan dan ke kiri, mencari-cari sosok komikus misterius yang seharusnya berjalan menuju panggung.

"Mana KopiPahit? Kenapa belum naik?" gumam Kenan cemas, matanya memindai lorong antarkursi VIP.

Lihat selengkapnya