Suasana di area lobi dan koridor divisi editorial Lentera Media pada Senin pagi itu terasa jauh berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi keheningan tegang khas "hari eksekusi" yang biasa menyelimuti para karyawan tiap kali Kenan Dewantara melangkah masuk gedung.
Sejak berita kemenangan KopiPahit dan momen pembongkaran identitas di panggung JCC pecah di berbagai media massa, nama Lentera Media melambung tinggi. Berita utama di portal hiburan digital penuh dengan judul-judul fantastis: “Penulis Anonim Hits @KopiPahit Ternyata Anak Magang Lentera Media!” dan “Momen Manis Editor-in-Chief Kena Omel Komikus Kesayangannya di Panggung JCC.”
Mika melangkah memasuki ruangan divisi editorial dengan kepala sedikit menunduk. Ia mengenakan kemeja katun warna krem yang rapi dan membawa tas kain berisi tablet menggambarnya.
Begitu kakinya melewati pintu kaca, seluruh staf editorial—termasuk Mbak Rini, Mas Yoga, dan para desainer grafis—sekali berdiri dari kursi masing-masing dan meledakkan party popper kertas warna-warni ke udara!
PRANNGG! HURA!
"Selamat datang, Komikus Bintang Lentera Media!" sorak Mas Yoga heboh sambil mengalungkan pita bunga buatan sendiri ke leher Mika.
"Aduh, Mbak Rini, Mas Yoga, malu-maluin banget sih!" puji Mika dengan muka merona merah panik, menutup wajahnya dengan tablet.
Mbak Rini tertawa lepas sambil merangkul bahu Mika gemas. "Malu apa sih, Mik? Kita semua bangga banget sama kamu! Ternyata selama ini anak magang di sebelah meja Mbak itu pencetak best-seller bernilai miliaran rupiah! Pantesan kamu kalau ngegambar layout gercep banget!"
"Tapi Mbak..." Mika melirik takut-takut ke arah pintu kaca ruangan Editor-in-Chief yang masih tertutup rapat. "...Pak Kenan gimana? Dia marah banget nggak ya gara-gara saya permalukan di depan ratusan pers?"
Mbak Rini menyenggol lengan Mika sambil mengedipkan mata jahil. "Marah? Kamu cek sendiri aja ke ruangannya. Pak Kenan dari jam tujuh pagi udah nungguin kamu tuh."
Mika menelan ludah canggung. Ia merapikan pita bunga di lehernya, menarik napas panjang, lalu berjalan pelan membelah ruangan menuju pintu kerja Kenan. Ia mengetuk pintu kaca tebal itu tiga kali.
"Masuk," suara berat dari dalam ruangan terdengar tenang.
Mika memutar gagang pintu, menyusup masuk, lalu menutup pintu di belakangnya rapat-rapat.
Di dalam ruangan yang biasanya terasa dingin dan kaku itu, Kenan Dewantara berdiri di dekat meja seduh kopi kecil di sudut ruangan. Pria itu tidak memakai jas pormalnya; kemeja putihnya tergulung rapi sampai siku, dan kacamatanya bertengger pas di atas hidungnya.
Di atas meja kayu Kenan, sudah tersaji dua cangkir porselen putih yang berasap tipis. Aroma wangi kopi arabika yang diseduh sempurna dengan teknik manual brew menyeruak lembut menyelimuti ruangan.
Kenan menoleh, menatap Mika yang berdiri kaku di depan pintu dengan pita bunga warna-warni di lehernya.
"Duduk, Mikaela," ujar Kenan pelan, mengisyaratkan kursi empuk di depan mejanya.
Mika berjalan pelan lalu duduk di tepi kursi. "P-pagi, Pak Kenan..."