Hari ini Ren bangun lebih pagi dari biasanya. Ada perasaan ringan di dadanya, seperti ada balon helium kecil yang terperangkap di sana. Hari ini terasa berbeda. Semua tentang orderan esai yang menumpuk, orderan cookies, atau notifikasi pesan yang belum dibalas ia letakkan di tempat paling sudut kamarnya. Yang ia pikirkan saat ini hanya satu yaitu kencan dengan kekasihnya—Rayyan.
Kencan ini bukan kencan biasa, bukan sekadar bertemu kemudian mengobrol sambil makan. Melainkan menghabiskan waktu seharian untuk menikmati hari bersama—yang mana ini adalah hal yang sudah susah mereka lakukan karena sekarang Rayyan sibuk bekerja. Bahkan untuk intens berkirim kabar melalui panggilan suara atau pesan singkat saja mereka sudah sulit melakukannya. Untuk itu, melakukan kencan seharian penuh seperti yang akan mereka lakukan hari ini merupakan hal yang luar biasa untuk mereka. Untuk Ren.
Ren tersenyum cerah ketika membaca pesan dari kekasihnya yang mengatakan jika ia sedang bersiap-siap. Dengan sigap ia bergegas turun dari ranjang dan mengikat rambut panjangnya asal sebelum masuk ke kamar mandi dengan langkah kecil yang terburu-buru. Air hangat menyapa kulit wajahnya dengan lembut, membuatnya sadar sepenuhnya. Dadanya terasa lebih ringan dan pikirannya begitu riang.
Hari ini adalah hari yang baik.
Setidaknya itu yang Ren pikirkan sejak ia bangun.
Ren kini duduk di kursi meja rias dan mulai merias wajahnya. Tidak berlebihan, hanya skin tint tipis yang kemudian ditimpa dengan bedak tipis, blush natural, dan lip tint warna mawar yang membuat wajahnya menjadi begitu segar. Setelah selesai berdandan, ia berdiri dan mendekati jendela untuk memastikan cuaca hari ini cerah dan cocok untuk berkencan ke taman bermain.
Ren menyibak tirai dan membuka jendela kamarnya dengan senyum lebar karena cuaca hari ini yang begitu cerah. Tetapi sepertinya semesta sedang ingin bercanda dengannya karena saat ia menatap lurus ke jendela seberang, ia melihat seorang laki-laki sedang melakukan perenggangan seolah-olah sedang melakukan iklan pakaian olahraga.
Ken.
Laki-laki itu menggunakan kaos hitam yang membungkus tubuhnya dengan ketat—seperti lontong, pikir Ren. Celana hitamnya terlalu pendek untuk ukuran laki-laki dewasa. Rambutnya sedikit berantakan, tampak seperti baru bangun tidur tetapi tetap… menyebalkan, tampan. Ren belum sempat menutup jendela ketika Ken mendongak dan tatapan mereka bertemu.
Ken mengedip santai. Bibirnya terangkat licik.
“Ya ampun, Ren,” seruan Ken terdengar begitu menyebalkan di telinga Ren. “Lo mau ke karnaval mana? Niat banget dandannya.”
Ren mematung dua detik. Wajahnya memanas. “Ha. Ha,” nada Ren datar, nyaris bergetar karena mencoba meredam emosi. “Diem aja kalau lo nggak tahu yang namanya make-up. Dasar norak!”
“Norak?” Ken tertawa sambil memutar bahu, pura-pura serius menilai penampilan Ren. “Pipi lo merah banget. Lo lagi demam?” ejek Ken. “Atau lo emang sengaja aja biar cowok lo kasihan lihat lo?”
Ren mengerutkan keningnya. “Gue cakep dan gue nggak butuh pendapat lo,” ujar Ren galak. “Lagian cowok gue—”
“Uh-huh,” Ken mengangkat tangan. “Terserah deh. Yang jelas lo kayak—”
“KEN AROK!” Ren berseru sambil menunjuk Ken dengan kesal. “DIEM!”
Ken mengangkat bahu tak acuh. “Gue cuma berusaha jujur.”
Pertengkaran pun pecah seperti biasa—cepat, panas, dan tidak ada yang mau mengalah. Ren melemparkan balasan pedas, Ken membalas dengan senyum sok bijak, dan dalam waktu tiga puluh detik Ren benar-benar merasa mood cerianya dilahap sampai habis.
Akhirnya, karena Ren memiliki hari baik yang perlu diselamatkan, Ren memilih mengakhiri segalanya dengan cara paling elegan yang Ren tahu.
“Lo tuh—orang. GILA!” Ren memberi dua jari tengah sekaligus, cepat dan tepat sasaran. “Udah, sana jauh-jauh! Ngerusak pagi gue aja!”
Ken hanya tertawa, tidak tersinggung sama sekali. Ia kemudian memberi dua jari tengahnya pada Ren dengan senang hati. Melihat hal itu membuat Ren langsung menutup jendela kamarnya dengan bantingan kecil, lalu menjatuhkan tirai.
Keheningan menyelimuti kamar. Ren menghela napas panjang, menekan kedua pipinya sendiri agar kembali waras. “Oke. Lupain aja, dia itu orang gila. Jangan biarin dia ngerusak apa pun. Hari ini adalah hari yang bahagia.” ujar Ren.
Hampir seperti isyarat bahwa semesta sedang meminta maaf, ponsel Ren bergetar.
Rayyan:
Aku udah di depan rumah ya, Sayang.
Senyum Ren mengembang. Ia meraih tas, menyemprot parfum tipis, lalu bergegas keluar kamar. Di lantai satu, Saras sedang mengaduk sesuatu di panci. Aroma telur dan bawang merah goreng memenuhi dapur.
“Pagi, Ma.” sapa Ren sambil mencium pipi ibunya dari belakang secara singkat.
“Pagi, Sayang,” jawab Saras dengan lembut. “Tadi kamu ribut sama siapa? Mama denger kayak ada perang dunia.”
“Tikus,” jawab Ren cepat. “Ada tikus ngamuk.”
Saras terkekeh pelan. “Oh, tikus yang hobinya godain kamu dari kecil? Yang baru berhenti kalau kamu nangis? Hm?”
Ren mendesah keras. “Ma… plis.”
“Ya udah, ya udah.” Saras mengibaskan tangan. “Kamu sarapan dulu.”
“Nggak usah, Ma,” Ren sudah mengambil langkah mundur. “Rayyan udah di luar, aku sarapan sama dia di luar aja.”
“Oke,” Saras tersenyum lembut. “Hati-hati, ya.”
Ren mengangguk, mencium pipi ibunya lagi, lalu sedikit berlari menuju pintu keluar.
Dan di sana, Rayyan sudah berdiri dengan tampan.
Ia menggunakan loose pants, t-shirt putih, dan kemeja rayon abu yang jatuh rapi di tubuhnya. Rambutnya sedikit berantakan, tapi justru terlihat semakin dewasa dan tenang. Saat melihat Ren, matanya berbinar lembut—berbeda sekali dari tatapan Ken yang selalu seperti ingin mengajaknya berkelahi.
“Hai!” sapa Rayyan hangat.
“Hai!” balas Ren, jantungnya melonjak kecil.
“Ready for adventure, Princess?”
Ren tertawa. Rayyan bergegas membukakan pintu mobil untuk Ren. Gerakannya sederhana, tapi selalu terasa manis. Ren masuk, duduk, lalu melihat Rayyan berlari kecil memutar ke sisi pengemudi dan masuk dengan senyum halus.
Dalam hitungan detik, mobil itu melaju perlahan menjauh dari rumah Ren. Ren melirik jendela kamarnya sekilas—dan syukurlah tirai sudah tertutup rapat. Hari ini, ia memutuskan, hanya ada ruang untuk hal-hal yang manis. Bukan untuk tetangga menyebalkan yang gemar merusak pagi orang lain.
🌙🌙🌙
Kedai kopi tiam kecil di sudut jalan itu selalu ramai di pagi hari, namun bagi Ren dan Rayyan, tempat itu seperti ruang aman yang tidak pernah berubah. Aroma kopi susu, telur setengah matang, dan roti bakar kaya yang selalu menyambut mereka seperti sahabat lama. Ren duduk di bangku kayu, mengayunkan kaki pelan sambil menatap Rayyan yang sedang menuang kecap ke telur pesanannya.
Percakapan ringan mengalir. Tentang pekerjaan Rayyan, tentang kuliah Ren, tentang hal-hal kecil yang rasanya tidak penting—tapi justru membuat mereka nyaman. Setelah sarapan selesai dan perut mereka terisi dengan hangat, Ren dan Rayyan bergegas pergi ke tujuan utama mereka. Taman hiburan.
Di sana, semuanya berubah.
Taman hiburan itu riuh dan penuh warna. Balon warna-warni, musik ceria, anak-anak yang berlarian… terasa penuh dan menyenangkan. Rayyan menggenggam tangan Ren, ringan namun pasti.
“Kamu yakin?” tanya Rayyan ketika mereka berdiri di depan wahana roller coaster. “Kamu nggak pernah suka ini.”
Ren menelan ludah dengan susah payah, wajahnya pucat saat melihat rel tinggi yang melingkar tajam. Tetapi, genggaman tangan Rayyan dan suaranya yang lembut membuat Ren mengangguk sebelum menarik Rayyan memasuki wahana itu.
Teriakan Ren pecah di sepanjang lintasan, genggaman tangannya pada Rayyan juga semakin erat. Tetapi ketika kereta berhenti, Ren malah tertawa tidak percaya.
“Gila! Aku hidup!”
Rayyan tertawa, wajahnya sangat cerah. Mereka turun dari kereta dan keluar dari area wahana.
“Tadi nyawa kamu kayak mau copot dari tubuh kamu.”
Ren mendengus. “Harusnya kamu bangga aku berani nyoba wahana ini.”
Rayyan tersenyum dan menghentikan langkah mereka sebelum memegang bahu Ren dengan lembut. “Aku bangga kamu udah jadi pemberani hari ini,” Ren akhirnya luluh dan ikut tersenyum. “Ayo kita main yang lain!”
Rayyan menarik Ren untuk kembali berjalan dan menikmati wahana yang ada. Mereka mulai dengan wahana kuda-kudaan yang pelan, kapal bajak laut yang membuat perut jungkir balik, sampai rumah hantu yang membuat Ren berteriak dan memeluk lengan Rayyan erat-erat.
“Kayaknya kita harus istirahat dulu deh.” ujar Ren setelah lelah berteriak di rumah hantu.
“Oke, ayo beli minum dulu.”
Ren dan Rayyan bergegas pergi mencari booth penjual air minum, namun saat sedang mencari, mereka bertemu dengan sosok yang muncul dari arah yang berlawanan.
Ken.
Dia tidak sendiri, melainkan dengan seorang perempuan yang cantiknya begitu menusuk. Tinggi, ramping, rambut cokelat gelapnya lurus panjang dan jatuh dengan elegan di punggungnya. Terlihat sangat dewasa dan percaya diri.
Ren mengenal wanita itu.
Emma.
Wanita yang kata Ken ‘hanya teman’, namun hampir setiap saat mereka bersama dan sangat sering mengunjungi rumah Ken. Bahkan orang tua Ken sangat dekat dengan Emma. Tapi, Ken selalu menyebut Emma sebagai temannya. Ren sendiri tidak habis pikir dengan Ken, bagaimana bisa sedekat itu tetapi hanya menjadi seorang teman?
Ah, seharusnya Ren tidak perlu heran dengan Ken karena laki-laki itu adalah makhluk luar angkasa yang kebetulan sedang tersesat di bumi. Jadi, wajar jika tingkah lakunya selalu aneh.