“KITA DI MANA?!”
“Ini bukan kamar gue.” ujar Ren panik.
“Ini juga bukan kamar gue.” sahut Ken.
Ren melotot. “Kita di mana? Kenapa kita bisa sampai sini?!” Ren menatap Ken yang baru ia sadari tidak memakai baju. “Dan kenapa lo nggak pakai baju?!”
Ken menatap dirinya sendiri. “Gue kalau tidur emang nggak pernah pakai baju,” Ken kemudian menatap Ren. “Lo juga kenapa pakai baju kayak gitu?”
Ren menatap dirinya sendiri dan melebarkan matanya. Ia sekarang memakai gaun tidur berbahan satin dengan tali spaghetti berwarna cokelat gelap yang sangat kontras dengan kulitnya yang seputih susu.
“Tutup mata lo!” seru Ren galak saat Ken masih memperhatikan.
“Lah, gue punya mata buat ngelihat!”
“KEN AROK!” Ren memukul bahu Ken dengan keras.
Tetapi, belum sempat Ken menjawab seruan Ren. Suara pintu yang diketuk dengan keras terdengar.
“MAMA!!”
Sayup-sayup terdengar suara anak kecil yang menyusul ketukan dari pintu itu. Ren dan Ken saling berpandangan, namun Ren akhirnya turun dari ranjang lebih dulu. Ia menemukan jubah satin yang tersampir di sofa dekat ranjang, ia mengambil dan memakainya dengan cepat. Ren menali jubah itu dengan rapat sebelum membuka pintu.
“Mama…” seorang anak laki-laki bergegas memeluk kaki Ren dengan air mata berlinang. “Kenapa lama buka pintunya?”
Ren menatap anak laki-laki itu dengan bingung. Mama?
Tetapi naluri keibuan Ren berbicara lebih cepat, ia bergegas berlutut untuk menyamai tinggi anak laki-laki itu. “Kamu kenapa?” tanya Ren sambil memeluk anak itu.
“Aku mimpi mama sama papa ninggalin aku,” anak itu masih terisak di pelukan Ren. “Mama sama papa nggak ninggalin aku, kan?”
Ren tidak menjawab, ia hanya mengusap punggung anak itu hingga perlahan tangisnya mereda. Tidak lama Ren merasakan seseorang berjalan di belakangnya. Ia menoleh menatap Ken yang berjalan sambil mengenakan kaos polos berwarna abu-abu, rambutnya masih berantakan.
“Mas Kai,” seorang wanita muda muncul dengan terburu-buru. “Aduh, maaf ya, Bu. Saya baru di kamar mandi waktu Mas Kai bangun.”
Ren menatap wanita itu bingung. “E—enggak apa-apa kok.”
Wanita itu tampak takut. “Ayo, Mas. Kita mandi dulu,” ajak wanita itu pada Kai yang masih berada di pelukan Ren. “Habis mandi kita makan terus sekolah.”
Anak laki-laki bernama Kai itu menggeleng dan mengeratkan pelukannya pada Ren. “Kai, mandi dulu yuk…” ujar Ren lembut. “Nanti habis mandi boleh peluk lagi.”
“Nanti mama pergi!” tolak Kai.
Ren menatap Ken yang juga tampak bingung. Ren kemudian melepaskan pelukannya pada Kai dan mengusap air mata di pipi anak itu dengan lembut. “Kalau mandinya nggak lama, mama pasti juga nggak akan ke mana-mana,” ujar Ren seolah itu adalah hal yang biasa ia katakan untuk menenangkan anak itu. “Mandi dulu ya...”
“Ayo, Mas…” ajak wanita itu lagi, Kai akhirnya menurut. Wanita itu bergegas membawa Kai masuk ke kamar yang ternyata bersebelahan dengannya.
Ren tampak masih bingung sekaligus takjub. Ia berdiri kemudian mencubit lengan Ken dengan keras hingga membuat laki-laki itu merintih kesakitan.
“AW! ADUH! SAKIT!” Ken berseru sambil mengusap lengannya. “Lo gila ya?!”
“Gue cuma mau pastiin kalau ini bukan mimpi,” jawab Ren, ia kemudian mengusap wajahnya sendiri dengan dua telapak tangannya. Tetapi ia menyadari sesuatu. Ren mengangkat tangan kanannya dan memperhatikan jari-jari lentiknya—masih sama, yang berbeda adalah sebuah cincin yang berkilau di jari manisnya. “HAH?!”
Melihat kilauan berlian di tangan kanan Ren membuat Ken ikut mengangkat tangan kanannya sendiri—sebuah cincin perak yang lebih sederhana dari milik Ren tersemat di jari manisnya.
“HAH?!” Ken berseru—terkejut.
“Ini pasti mimpi…” ujar Ren pelan.
Ken mengikuti arah pandang Ren yang tertuju pada sebuah foto besar berbingkai cokelat tua yang dipajang di sebelah pintu yang menghubungkan ke balkon kamar. Di foto itu Ken tampak—bahagia? Oh, ini mengerikan. Ken mengenakan baju pengantin putih dan di sampingnya, Ren berdiri dengan anggun menggunakan baju pengantin yang berwarna senada.
Mereka…
Menikah?
Bagaimana bisa?
Ketika Ken sedang mengamati foto itu, sebuah notifikasi dari ponsel yang tergeletak di nakas samping tempat tidur berbunyi. Ken bergegas mengambil ponsel yang ia yakini sebagai miliknya itu—dan benar, fitur pembuka kunci layar mengenali wajahnya. Ken membuka sebuah pesan dari seseorang bernama Eril. Ken mengernyit, apakah ini Eril yang ia kenal? Sekretarisnya?
Ken bergegas membuka pesan itu dan menemukan pesan singkat berupa jadwal kegiatan yang sepertinya harus ia lakukan hari ini. Ken mendesah. Bahkan di dalam mimpi, Eril masih begitu kaku dan disiplin.
Di sisi lain, Ren masih menjelajahi isi kamar. Memperhatikan setiap detailnya sambil berujar jika ini adalah mimpi seperti sebuah mantra. Hingga Ren tiba di walk-in-closet, di mana tersusun rapi baju-baju, sepatu, aksesoris, hingga tas yang Ren yakini berharga jutaan. Tak lama ia berhadapan dengan sebuah cermin besar. Ren mendekati cermin tersebut dan memperhatikan wajahnya sendiri. Ia masih Ren, masih dirinya—namun sedikit lebih dewasa. Ren kembali memperhatikan dirinya dari ujung rambut hingga ujung kaki sebelum matanya melebar.
“KEEENNN!!!!”
Ken yang sedang membalas pesan dari Eril—meminta Eril ke rumah saat ini juga, bergegas meletakkan ponselnya dan pergi menuju Ren. “Kenapa? Kenapa?”
Ren menunjuk perutnya, tangannya sedikit bergetar. “Gue…” Ken arah telunjuk Ren dan membelalakkan matanya ketika melihat perut Ren yang membuncit. “GUE HAMIL?!”
🌙🌙🌙
Ren kini sudah berganti baju dengan gaun rumahan yang anggun namun semakin mengekspos perut buncitnya, ia baru saja mandi dan membersihkan diri sambil berharap jika semua ini hanya mimpi. Tetapi, ia tidak kunjung bangun dan semua ini menjadi semakin nyata.
Selesai menggunakan produk perawatan tubuh dan wajah yang ia temukan di meja rias yang ada di walk-in-closet, Ren bergegas keluar kamar dan termenung sejenak ketika melihat lorong yang menyambutnya dengan keheningan yang rapi. Cahaya pagi masuk dari jendela-jendela tinggi, memantul di dinding putih gading dan lantai kayu yang hangat di telapak kakinya.
Ren melangkah pelan melewati pintu-pintu yang tertutup rapi—satu yang ia yakini adalah kamar Kai. Ia tidak berhenti. Ada dorongan aneh di dadanya untuk segera turun, seolah lantai di bawah menyimpan jawaban.
Di ujung lorong, sebuah pintu lift berdiri menyatu dengan dinding, nyaris tidak mencolok. Ren bahkan tidak pernah membayangkan memiliki lift di dalam rumahnya, tapi sekarang ia berada di dalam rumah yang memiliki lift? Tidak masuk akal.
Ren menekan tombolnya. Tidak lama pintu lift terbuka tanpa suara. Ren masuk dan berdiri sendiri di dalam kabin yang lapang dan berdinding kaca itu. Tangannya refleks bertumpu di perutnya yang membuncit. Saat pintu tertutup dan lift mulai turun perlahan, pantulan dirinya di kaca membuatnya tercekat.
Pantulan yang ada di kaca itu masih dirinya. Tapi bukan sepenuhnya.
Denting halus terdengar.
Pintu lift terbuka.
Ren membeku.
Ruang keluarga di lantai yang ia tuju terbentang luas di hadapannya—terang, lapang, dan hidup. Pintu kaca tinggi dari lantai hingga plafon menghadap langsung ke halaman belakang yang hijau, kolam renang memantulkan cahaya pagi, tanaman-tanaman tropis tertata rapi seperti dirawat dengan kesabaran.