Bound: Sweet Escape

nonatanpatuan
Chapter #4

03 - Hidup yang Sudah Berjalan

Sebuah mobil Lamborghini Urus hitam melaju menyusuri jalanan ibu kota yang cukup padat pagi ini. Tak lama mobil itu memasuki area lobby sebuah gedung pencakar langit dengan tulisan Polaris Tower yang besar di bagian atas gedung itu. Setelah mobil berhenti di depan lobby, Eril turun lebih dulu, sedangkan seorang petugas keamanan membukakan pintu untuk Ken.

“Mari, Pak.” ujar Eril sambil mempersilakan Ken jalan lebih dulu memasuki gedung itu.

Ken mengucapkan terima kasih kepada petugas keamanan yang membukakan pintu untuknya dan berjalan memasuki gedung itu. Begitu ia melangkah masuk ke lobi, langkahnya melambat dengan sendirinya.

Langit-langit tinggi membentang luas. Cahaya putih kebiruan jatuh dari instalasi lampu geometris yang bergerak pelan, seperti animasi yang hidup. Dinding kaca dan beton halus berpadu dengan panel kayu gelap. Di tengah ruangan, layar LED raksasa menampilkan cuplikan game terbaru—warna tajam, gerak cepat, dunia futuristik yang terasa nyata.

Sapaan datang silih berganti. Senyum. Anggukan. Nama Ken diucapkan dengan nada hormat yang terlalu familiar untuk orang-orang yang belum pernah ia kenal.

Lift kaca membawanya naik. Dari dalam, Ken melihat lantai-lantai kerja terbuka. Meja panjang dengan monitor ganda, papan tulis penuh coretan konsep, orang-orang yang bekerja dengan fokus yang hidup. Dunia yang dulu hanya ada di kepalanya, kini berjalan sendiri di depan matanya.

Ken menelan ludah dengan susah payah.

Di kepalanya, bayangan lain muncul begitu saja—sebuah ruko dua lantai di pinggir jalan yang tidak terlalu ramai. Tangga sempit. Dinding yang pernah bocor saat hujan deras. AC tua yang bunyinya lebih keras dari keyboard. Meja-meja seadanya. Kabel berserakan. Dan mimpi besar yang waktu itu terasa nyaris konyol.

Dari sana… ke sini.

Terlalu jauh dan tidak nyata.

Tak lama lift yang Ken tumpangi sampai di latai sembilan belas. Kali ini Eril berjalan lebih dulu untuk menunjukkan jalan. Mereka kemudian sampai di sebuah ruangan dengan pintu kayu jati berwarna cokelat tua yang tampak gagah.

“Ini ruangan bapak.” ujar Eril sambil membuk pintu itu.

Ruangan itu luas, dengan jendela besar menghadap kota. Meja kayu solid, kursi ergonomis, rak buku yang memajang berbagai penghargaan, dan prototype game lama. Semuanya rapi. Terlalu rapi untuk hidup yang Ken ingat.

Ken mendekat ke jendela besar di ruangannya itu. Dari ketinggian ini, kota tampak kecil—seperti papan permainan. Dadanya menghangat oleh rasa takjub yang bercampur takut.

“Pak Roy sudah datang, Pak,” ujar Eril yang kini sudah berada di belakang Ken. “Sebaiknnya kita ke ruang meeting sekarang.”

Ken mengangguk kemudian membalik badannya untuk mengikuti Eril ke ruang rapat. Sesampainya di ruang meeting, beberapa karyawan yang ikut meeting ini menyapanya dengan hangat, seolah mereka sudah mengenal lama. Ken membalas sapaan mereka seraham mungkin sebelum duduk di kursinya. Begitu tubuhnya menyentuh sandaran, sesuatu mengendap di dadanya—kesadaran yang tenang tapi berat.

Ia tidak tahu bagaimana sampai di titik ini.

Tapi seseorang yang sedang ia jalani perannya ini jelas tidak pernah menyerah.

Tidak lama pintu ruang rapat terbuka, menampilan sosok pria paruh baya yang masih tampak terlihat muda karena penampilannya yang stylish dan wibawanya yang terlalu kuat. Ken segera berdiri dan menjabat tangan pria itu dengan hangat, mengucapkan basa-basi dengan ramah sebelum mempersilakan pria itu duduk.

Layar besar di dinding menyala, menampilkan agenda hari ini.

Ken kembali duduk dan meluruskan punggung. “Baik,” ujar Ken, suaranya stabil dan membuat semua orang memusatkan perhatian padanya. “Kita mulai rapat hari ini.”

Dan untuk pertama kalinya sejak ia bangun pagi tadi, Ken tidak lagi berdiri di ambang hidup orang lain…

ia duduk tepat di pusatnya sendiri.

 

🌙🌙🌙

 

Sebuah mobil Rolls-Royce Cullinan berwarna hitam mengilap melambat di depan sebuah bangunan yang berdiri di sudut jalan yang rindang. Fasadnya hangat—perpaduan bata ekspos, kaca besar, dan kayu terang. Di atas pintu utama, papan nama bertuliskan RÉNAI terpampang sederhana, tanpa lampu berlebihan, tapi cukup mencolok untuk membuat orang yang lewat berhenti dan menoleh.

“Kita udah sampai.” ujar Muti dengan ringan.

Dada Ren mengencang.

Ini…

Tokonya?

Dengan dibantu Muti, Ren turun perlahan dari mobil dan mengamati toko itu. Ia berjalan perlahan bersebelahan dengan Muti untuk memasuki toko itu. Begitu pintu terbuka, aroma roti hangat langsung menyambut. Bukan bau manis yang menusuk, tapi lembut—mentega, gandum, sedikit kopi. Ruangannya luas, terang oleh cahaya matahari yang masuk dari jendela-jendela tinggi. Etalase memanjang menampilkan berbagai roti dan pastry tertata rapi, sementara di belakangnya, dapur terbuka memperlihatkan para baker yang bekerja dengan ritme tenang.

Ren melangkah masuk perlahan, seolah takut suara langkahnya akan merusak sesuatu.

Di sisi kiri, rak-rak buku menjulang hingga mendekati langit-langit. Kayunya terang, bersih, dan dipenuhi buku-buku dengan sampul beragam—novel, puisi, esai, buku anak. Di antara rak-rak itu, tersebar kursi empuk dan meja kecil. Beberapa pengunjung duduk membaca, sebagian lain berbincang pelan dengan secangkir kopi di tangan.

Perpustakaan.

Di dalam toko rotinya.

“Jangan bengong,” Muti menyenggol pelan siku Ren. “Nanti kesambet.”

Ren menatap Muti dengan raut yang masih terlihat takjub. “Ini… gede banget.”

“Ya iya gede, usaha lo buat bangun ini juga nggak kecil,” jawab Muti. “Lo kan enggak pernah mau setengah-setengah.”

Ren berhenti di tengah ruangan, memutar tubuhnya pelan. Segalanya terasa hidup, tapi tidak bising. Seolah tempat ini bernapas dengan ritmenya sendiri.

“Dulu,” gumam Ren tanpa sadar. “Gue cuma pengen punya dapur yang kalau gue buat kue, gue nggak kepanasan.”

Muti mendengus. “Dan sekarang lo punya ini,” ia menunjuk sekeliling. “Toko roti, café, perpustakaan. Lengkap,” Ren mengusap perutnya—takjub dan takut. “Ayo ke ruangan lo.”

Muti berjalan lebih dulu untuk menunjukkan jalan. Tidak lama Muti mendorong pintu kayu di sisi belakang toko. Engselnya tidak berderit—hal kecil yang entah kenapa langsung Ren perhatikan.

Ruangan itu tidak besar, tapi hangat. Cahaya matahari masuk dari jendela tinggi di satu sisi, jatuh tepat ke meja kayu panjang yang dipenuhi kertas, buku catatan, dan tablet. Rak-rak rendah menempel di dinding, berisi buku resep, novel, kumpulan puisi, dan map-map tipis berlabel rapi.

Udara di dalamnya berbeda. Lebih tenang. Lebih sunyi.

Ren menghirup napas perlahan.

Di sudut ruangan, ada papan tulis dengan coretan tangan—formula adonan, jadwal produksi, juga beberapa kalimat yang bukan teknis sama sekali. Kutipan. Potongan ide. Kata-kata yang terasa… miliknya.

Di dinding lain, terpajang foto-foto kecil dalam bingkai sederhana—proses renovasi toko, hari pembukaan toko rak buku yang masih kosong, lalu penuh. Beberapa foto menampilkan Ren, tersenyum lelah dengan apron di tubuhnya. Versi dirinya yang tidak ia ingat, tapi terasa akrab.

“Lo nggak pernah bikin ruangan ini mewah,” ujar Muti. “Lo bilang, kalau tempat buat mikir terlalu megah, idenya jadi takut keluar.”

Ren terkekeh pelan.

Ia duduk di kursi kerja. Kursi itu pas. Terlalu pas untuk sebuah kebetulan.

“Sekarang, waktunya kerja.” Muti sudah duduk di kursi seberang Ren dan membuka iPad-nya.

Lihat selengkapnya