Bound: Sweet Escape

nonatanpatuan
Chapter #5

04 - Yang Datang dan Hilang

Ren terbangun dengan napas yang tidak beraturan. Bukan karena ia sedang bermimpi buruk, tetapi karena tidur yang rasanya terlalu dangkal untuk disebut istirahat.

Matanya terasa berat, kepalanya terasa penuh. Ia menatap sekeliling dan mendapati ia masih berada di tempat yang sama seperti ia tertidur kemarin malam. Langit-langit kamar ini masih asing. Dinding dengan warna netral terasa belum akrab dipikirannya. Tirai tebal yang menutup pemandangan luar. Dan tubuhnya sendiri—berat, sedikit pegal, dengan perut yang masih membulat di balik selimut.

Ren menghela napas panjang.

Ia masih di dunia yang asing, masih berada di kamar yang bukan kamarnya... masih terlalu asing untuk disebut kenyataan.

Pandangan mata Ren kemudian menatap jam yang tertempel di dinding, pukul lima pagi. Terlalu pagi untuk seseorang yang baru tertidur pada pukul dua dini hari.

Ren memejamkan matanya, berusaha untuk kembali tidur karena siapa tahu ketika ia bangun, ia sudah berada di kamarnya—bukan di sini. Tetapi, saat Ren baru memejamkan mata, suara pintu terbuka terdengar. Ren kembali membuka matanya dan menemukan Kai yang tampak baru bangun tidur berada di depan pintu yang menghubungkan kamar ini dengan kamar Kai.

"Mama?"

Tanpa menunggu jawaban, Kai berjalan cepat dan memanjat ke atas ranjang. Tubuh kecil itu langsung menyelip di sisi Ren, memeluknya erat, wajahnya menempel di dada Ren seperti kebiasaan lama yang tidak perlu diingat untuk bisa dilakukan.

Ren refleks memeluknya.

"Good morning," bisik Ren pelan sambil mengusap punggung Kai. "Kok udah bangun?"

"Aku mau tidur sama mama," jawab Kai manja, ia kemudian menatap sisi ranjang yang kosong. "Papa ke mana?"

Ren membuka mulut untuk menjawab, namun sebelum suaranya keluar, pintu utama kamar terbuka. Ken berdiri di sana denan mengenakan kaos gelap dengan celana pendek santai. Rambutnya sedikit acak, matanya lelah namun jernih. Langkah Ken terhenti sesaat ketika mellihat pemandangan di ranjang—Ren yang di ranjang dengan Kai yang meringkuk di pelukannya.

Kai langsung menoleh. "Papa!"

Ken berjalan mendekat. "MorningBuddy."

"Papa habis dari mana?" tanya Kai cepat, suaranya sudah lebih bangun dibanding tubuhnya.

"From the studio," jawab Ken sambil berdiri di sisi ranjang. "Hm.. couldn't sleep."

Kai menatap Ken penuh tanya. "Papa working?"

Ken mengangguk kecil. "Yeah. Just... checking things."

Kai lalu menunjuk tempat kosong di sisi lain ranjang. "Why are you there? Come here."

Ken terdiam sejenak. Begitu juga dengan Ren.

Ada jeda kecil yang terasa lebih panjang dari seharusnya. Ren bisa merasakan tubuhnya sedikit menegang. Ken berdiri kaku, jelas menimbang sesuatu yang tidak ia ucapkan.

"Aku mau tidur lagi sama Mama," lanjut Kai, suaranya terdengar manja. "You should too."

Ren menatap Kai, lalu melirik Ken. Tatapan mereka bertemu sebentar—canggung, ragu, tapi juga sama-sama kelelahan.

Ken akhirnya menghela napas pelan. "Okay," katanya, menyerah. "Move a little."

Kai langsung berseri dan menggeser tubuhnya, memberi ruang dengan antusias. Ken naik ke ranjang dengan gerakan hati-hati, seolah takut membuat kesalahan yang tidak terlihat. Ia berbaring di sisi lain Kai, menjaga jarak seperlunya, tapi cukup dekat untuk bisa ikut memeluk tubuh kecil itu.

Kai tersenyum senang. Ia memeluk Ren dengan satu tangan, Ken dengan tangan lainnya—menjembatani mereka tanpa sadar.

Hening.

Napas Kai perlahan melambat, ritmenya kembali teratur. Tubuh kecil itu semakin berat di antara mereka. Ren dan Ken sama-sama tidak bergerak, seolah satu gerakan saja bisa membangunkan Kai—atau merusak momen yang entah bagaimana terasa rapuh.

Ren menutup mata.

Begitu juga dengan Ken.

Lalu, perlahan—tanpa sadar kapan tepatnya—

mereka tertidur juga.

🌙🌙🌙

Matahari sudah tinggi ketika Ren membuka mata. Tubuhnya masih terasa berat. Kamar yang ia hadapi masih sama.

Ia masih belum kembali.

Ren menghela napas panjang sebelum menatap jam dinding—pukul sembilan pagi. Ren melebarkan matanya, ini terlalu siang untuk bangun pagi. Kai harus sekolah.

Ren mengambil ponsel yang tergeletak di nakas untuk memastikan jam yang ia lihat benar adanya.

Pukul sembilan pagi.

Tetapi kepanikan Ren perlahan mereda ketika mengetahui jika ini adalah akhir pekan, jadi seharunya Kai libur sekolah. Ren kembali menghela napas panjang. Ia menoleh ke samping dan mendapati pemandangan yang menyambutnya tanpa peringatan.

Kai masih tertidur pulas dengan setengah meringkuk di pelukan Ken. Tangan kecilnya melingkat di dada bidang Ken. Sementara Ken juga masih terlelap. Wajahnya tampak tenang, satu lengannya melindungi tubuh Kai seolah itu sudah biasa ia lakukan.

Ren terdiam sejenak.

Ia belum biasa melihat pemandangan ini. Ia belum tahu bagaimana dan di mana ia harus menempatkan dirinya di antara semua peran yang tiba-tiba melekat padanya.

Istri?

Ibu?

Semua masih tampak abu-abu dan terasa tidak nyata. Tetapi, nyatanya semua ada di depan mata Ren. Terlalu nyata untuk disebut ilusi.

Ren bergerak pelan untuk perlahan turun dari ranjang tanpa membangunkan Kai ataupun Ken. Begitu kakinya menyentuh lantai, Ren menarik napas panjang. Ia mengikat surai hitamnya dengan asal sebelum akhirnya melangkah keluar kamar.

Ren akhirnya memutuskan untuk pergi ke lantai satu menggunakan lift. Ruang keluarga yang luas menyambutnya, namun Ren memilih melangkahkan kakinya menuju dapur. Di sana Mei terlihat sedang sibuk membersihkan dapur.

"Selamat pagi, Bu," sapa Mei setelah menyadari kedatangan Ren. "Ibu butuh sesuatu?"

"Pagi," jawab Ren, suaranya masih serak. Ia kemudian mengambil segelas air mineral dan meneguknya dengan pelan. "Bi, aku... mau masak."

"Mau masak apa, Bu? Biar saya bantu."

Ren berpikir sejenak. "Bahan masakannya di mana ya, Bi?"

"Oh, maaf, Bu. Saya belum tata bahan masakan di kulkas, jadi masih ada di ruang penyimpanan," ujar Mei merasa bersalah. "Ibu butuh bahan masakan apa aja? Biar saya yang ambil di dalem."

"Ruangannya di mana, Bi? Aku juga belum tahu mau masak apa, jadi mau lihat bahan masakannya dulu."

"Oh, kalau begitu saya antar, Bu."

Mei bergegas menunjukkan jalan pada Ren ke sebuah ruangan di sisi dapur. Ren terdiam sejenak ketika Mei membuka pintu dan masuk ke ke ruangan itu.

"Mari, Bu." ujar Mei yang melihat Ren tidak bergerak.

Ren akhirnya mengikuti Mei masuk ke ruangan yang berisi rak-rak tinggi dengan bahan makanan yang tertata rapi. Ren menyusuri rak-rak itu. Ada bahan kering, rempah, beberapa makanan kaleng, makanan ringan, hingga sebuah walk-in chiller yang berisi sayur, buah-buahan, daging, ikan, semuanya tersusun bersih dan segar.

Ini sudah seperti mini market.

Ada rasa asing yang menyusup di benak Ren dan ini bukan rasa kagum, tetapi perasaan asing seperti ia baru saja masuk ke dapur orang lain. Ia menghela napas pelan, lalu memaksa pikirannya bergerak.

"Oke," Ren bergumam sambil matanya menyusuri rak-rak itu. "Kita masak scrambled eggs creamy, sautéed mushrooms, smoked beef, sama avocado toast."

Mei tersenyum. "Baik, Bu."

Lihat selengkapnya