Malam ini terasa lebih sunyi dari malam-malam sebelumnya. Ren yang sudah berbaring di ranjang menatap langit-langit kamar dalam diam meski pikirannya sangat penuh. Padahal lampu kamar sudah diredupkan sejak beberapa waktu lalu hingga menyisakan cahaya kuning lembut yang jatuh malas ke lantai.
Di seberang ranjang, Ken merebahkan diri di sofa panjang berwarna krem—tubuhnya terlentang, satu lengan menutup mata, satu lagi terkulai lelah.
Tidak ada yang bicara.
Hanya suara jam dinding yang berdetak pelan, seperti menghitung jarak antara dua orang yang seharusnya paling dekat, tapi terasa asing.
Ren dan Ken memang tidur di kamar yang sama. Keputusan itu mereka ambil bukan karena diskusi panjang, melainkan keputusan yang diambil secara terpaksa tanpa suara keras karena... bagaimana bisa mereka tidak tidur di kamar yang sama sementara mereka adalah sepasang suami-istri? Mungkin seperti itu yang dipikirkan oleh orang tua Ken—karena memang saat ini mereka sedang menginap di rumah orang tua Ken.
Kai sendiri sudah diambil alih oleh kakek dan neneknya sejak makan malam tadi. Ia diajak bermain, diberi susu, dibacakan dongeng sebelum tidur oleh kakek-neneknya, membuat Ken dan Ren terbebas dari kewajiban sebagai orang tua—dan bisa istirahat lebih lama, namun nyatanya mereka tidak benar-benar istirahat meski masuk kamar lebih awal.
Pikiran mereka penuh. Terlebih setelah bertemu laki-laki tua di tepi danau tadi sore.
Ren yang mencoba memejamkan mata untuk tidur akhirnya membuka mata lagi. Ia menoleh ke arah sofa dan mendapati Ken yang belum tidur. Ren tahu meski Ken menutup matanya dengan tangan karena napas Ken yang terlalu tidak beraturan untuk seseorang yang bisa dikatakan tertidur.
"Ken." Ren memanggil laki-laki itu dengan pelan, hampir berbisik.
Ken menyingkirkan tangan dari matanya. "Kenapa?" Ken menatap Ren. "Butuh sesuatu?"
"Enggak," jawab Ren yang membuat Ken mengernyit. "Soal bapak tua tadi... menurut kamu dia orang yang sama kayak bapak-bapak yang ngasih kita permen di taman hiburan waktu itu?"
Ken terdiam sejenak. "Aku nggak terlalu yakin," jawab Ken dengan jujur. "Tapi, dari cara dia ngomong... entah kenapa aku ngerasa kalau itu dia," Ren terdiam. "Menurutmu gimana?"
"Menurutku itu bapak-bapak yang sama," jawab Ren meski ragu. "Tapi.. kenapa dia ada di sini juga?" Ken kembali diam, berpikir. "Apa jangan-jangan kita ada di sini sekarang karena bapak itu?"
Ken kini benar-benar menoleh menatap Ren yang sedang menatap langit-langit kamar—seolah sedang menyusun kepingan puzzle di sana.
"Kita cari tahu besok," jawab Ken. "Sekarang kita istirahat dulu. Kamu butuh istirahat."
Ren terdiam. "Tapi, Ken..."
"Tidur..."
"Kemarin malem kamu bisa tidur?"
"Aku baru tidur tadi pagi waktu sama kamu, sama Kai." jawab Ken sambil menatap langit-langit kamar.
"Sama. Aku nggak bisa tidur nyenyak kemarin dan baru bisa tidur tadi pagi," jawab Ren. Ia kemudian melirik Ken. "Apa mungkin... kita harus tidur bareng dulu baru bisa tidur nyenyak, ya?"
Hening.
Ken memalingkan wajahnya sebelum tawanya meledak. "Maksudnya kamu mau tidur sama aku?"
Ren melotot. "Bukan itu poinnya!"
"Bukan itu gimana?" Ken mengubah posisinya menjadi setengah duduk di sofa. "Pertanyaan kamu mengarah ke sana."
Ren memutar mata jenga. "Terserah!"
Ren memutar posisi tidurnya menjadi memunggungi Ken. Kesal bercampur malu. Tetapi tidak lama ia mendengar suara langkah kaki yang pelan namun pasti, sebelum sisi ranjang yang kosong di sebelahnya berguncang sedikit. Ren bisa merasakan kehadiran seseorang di sana.
Tubuhnya menegang sedikit, namun tidak bergerak.
Berat tubuh Ken terasa begitu nyata. Kehadiran Ken membuat ruang di antara mereka terasa berbeda.
Ren melihat ke arah belakangnya sedikit. "Jangan deket-deket."
"Kenapa enggak boleh?" tanya Ken usil. "Orang udah jadi dua bocah. Kamu kira itu hasil apa kalau bukan hasil deket-deket?"
Secara refleks Ren memutar tubuhnya dan menepuk bibir Ken pelan. "Kalau ngomong jangan sembarangan!"
Tawa Ken meledak. "Itu kan fakta," jawab Ken, ia kemudian melirik perut buncit Ren. "Jangan suka marahin papanya, anaknya nanti denger terus sedih."
Ren mengikuti arah pandang Ken yang membuatnya buru-buru kembali menaikkan selimutnya yang sempat turun dan memilih untuk tidak menanggapi Ken.
Beberapa saat berlalu.
Napas Ken perlahan melambat. Begitu juga dengan Ren. Tanpa disadari, ketegangan di bahu mereka mengendur sedikit. Kepala mereka yang sejak tadi penuh mulai terasa berat. Hingga akhirnya... gelap.
🌙🌙🌙
Cahaya matahari pagi menyelinap di sela-sela gorden, jatuh tepat di kelopak mata Ren yang masih terpejam. Ia mengerang pelan, berusaha mengumpulkan kesadaran yang masih tercecer. Namun, saat ia hendak menggerakkan tubuh, Ren menyadari ada sesuatu yang menghalangi geraknya. Sebuah lengan kekar melingkar posesif di pinggangnya, tepat di atas perut buncitnya.
Ren bisa merasakan deru napas yang teratur di tengkuknya. Jantungnya seketika berdegup kencang. Ia menoleh sedikit dan mendapati wajah Ken yang masih terlelap dengan sangat tenang di belakangnya.
"Ken... lepasin nggak?" gumam Ren dengan suara serak khas bangun tidur.