Dunia ini terlalu sempit, atau Tuhan memang sedang ingin bercanda dengan nasib Niko.
Langkah kaki Niko bergema di koridor lantai sembilan kantor PT. Maju Jaya. Pagi ini, ia sengaja datang lebih awal, lengkap dengan kemeja biru muda yang disetrika rapi—sebuah upaya bawah sadar untuk menutupi sisa-sisa rasa lelah akibat perang komentar semalam. Sejak pesan terakhir dari Sarah Anindya masuk, tidurnya tidak nyenyak. Nama itu terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
"Sarah mantan Dodi. Sarah yang nantang gue."
Niko berhenti di depan pintu kaca ruang rapat utama. Ia menarik napas dalam, membetulkan letak id-card yang menggantung di lehernya. Hari ini adalah hari besar. Pak Hermawan, kepala divisi kreatif yang terkenal bertangan besi, akan mengumumkan tim khusus untuk proyek kampanye "Boundless Lifestyle"—proyek prestisius yang bisa menjadi tiket emas untuk promosi jabatannya.
"Lo pasti bisa, Ko. Fokus. Jangan kepikiran si Sarah-Sarah itu," gumamnya pada diri sendiri.
Ia mendorong pintu. Ruangan itu masih sepi, kecuali satu sosok yang duduk membelakangi pintu di kursi ergonomis dekat jendela. Sosok itu tampak sedang fokus menatap layar laptopnya, sementara kepulan uap tipis muncul dari cangkir kopi di sebelahnya.
"Pagi, Pak Hermawan?" sapa Niko sopan.
Sosok itu berputar. Dan dalam detik itu juga, oksigen di paru-paru Niko seolah tersedot keluar.
Bukan Pak Hermawan yang menyambutnya. Melainkan sepasang mata tajam yang dibingkai kacamata berbingkai tipis. Rambut hitam sebahu yang kemarin ia lihat di profil Instagram, kini tampak nyata, berkilau di bawah lampu neon kantor. Wanita itu mengenakan blazer abu-abu yang memberikan kesan profesional sekaligus mengintimidasi.
Sarah Anindya. Secara fisik, dia jauh lebih nyata dan lebih berbahaya daripada yang sekadar terlihat di foto profil Instagramnya.
"Niko Pratama," ucap Sarah datar, bibirnya membentuk senyum tipis yang sama sekali tidak mencapai matanya. "Ternyata dunia sekecil lubang jarum, ya?"
Niko mematung di ambang pintu. "Lo... Sarah? Lo kerja di sini?"
"Gue baru pindah dari cabang Surabaya dua hari lalu. Dan sepertinya, kita akan sering bertemu." Sarah menutup laptopnya dengan bunyi klik yang tegas, seolah sedang menutup bab perkenalan mereka dan membuka babak peperangan baru.
Niko berusaha menguasai diri. Ia berjalan masuk dan duduk di kursi yang paling jauh dari Sarah. "Jadi, komentar lo semalam... lo tahu kalau gue kerja di sini?"
Sarah terkekeh, suara tawa yang renyah namun mengandung nada meremehkan. "Enggak. Gue cuma tertarik sama status konyol lo. Baru tahu sekarang kalau penulis status melankolis-agresif itu ternyata calon rekan kerja gue. Dodi nggak cerita kalau temannya punya hobi bikin drama di medsos?"
Niko merasakan telinganya memanas. "Itu bukan drama. Itu pernyataan sikap. Dan soal Dodi... ya, dia cerita banyak soal lo. Terutama soal kenapa dia mutusin lo."
Itu bohong. Dodi belum cerita detailnya. Namun, Niko tidak mau kalah di ronde pertama.
Mata Sarah menyipit. Ada kilat kemarahan yang melintas sekejap sebelum ia kembali memasang topeng dinginnya. "Oh, ya? Baguslah. Setidaknya lo tahu kalau gue bukan tipe orang yang suka membuang waktu untuk hal-hal nggak berguna. Termasuk tantangan 'Jomblo Rivalry' lo yang kekanak-kanakan itu."
"Kalo menurut lo nggak berguna, kenapa lo balas pesannya?" tantang Niko, mencondongkan tubuh ke arah meja.