Boundless

Suci Asdhan
Chapter #4

Perang Konten

Lampu-lampu kantor PT. Maju Jaya biasanya mulai meredup pada jam tujuh malam, menyisakan pencahayaan darurat di lorong-lorong sepi. Namun, di sudut ruangan divisi kreatif, cahaya putih terang masih berpendar kuat. Mesin kopi di pojokan mendengkur pelan, sementara suara papan ketik yang beradu terdengar seperti rentetan tembakan di medan perang yang sunyi.

Niko meregangkan otot lehernya yang kaku. Di depannya, layar monitor menampilkan draf visual kampanye 'Boundless Lifestyle'. Sebuah siluet pria yang berdiri bebas di puncak bukit, menatap cakrawala. Niko merasa ide itu sudah cukup kuat, tapi setiap kali ia melirik ke meja di seberangnya, konsentrasinya buyar.

Sarah duduk di sana. Wajahnya diterangi cahaya laptop, matanya bergerak lincah membaca barisan data riset pasar. Ia tidak bicara sepatah kata pun sejak tiga jam lalu, kecuali untuk mengoreksi pemilihan font Niko yang menurutnya 'terlalu mencoba terlihat asyik'.

"Lo tahu nggak, Sar?" Niko akhirnya memecah kesunyian. Ia menyandarkan punggung, memutar kursi kantornya sedikit. "Kerja lembur begini tuh sebenarnya anti-tesis dari proyek yang kita kerjain. Kita mau jualan kebebasan, tapi kita sendiri malah terkurung di ruangan bau disinfektan ini."

Sarah tidak mengalihkan pandangan dari layar. "Itu bedanya profesional dan amatir, Niko. Orang profesional tahu kapan harus mengorbankan waktu senggangnya supaya nantinya bisa menikmati kebebasan dengan cara yang lebih berkualitas. Bukan cuma modal teriak 'gue bebas' di status IG."

Niko mendengkus. Sindiran itu tepat mengenai sasaran. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja. Jarinya dengan lincah membuka Instagram. "Oke, dia mau main tajam-tajaman? Gue ladenin."

Niko mengambil foto segelas kopi hitam yang sudah dingin dengan latar belakang tumpukan berkas dan layar komputer yang masih menyala. Ia membubuhkan teks di atasnya:

Work-life balance bukan berarti nggak kerja keras. Tapi tentang tetap punya kendali penuh atas waktu gue sendiri. Jomblo itu bebas nentuin kapan mau pulang, tanpa ada yang ngerongrong di WA. #SingleAndStrong #JombloRivalry

Ia menekan tombol post dengan rasa puas. Hanya dalam hitungan detik, ia mendengar suara notifikasi pesan dari arah meja Sarah. Niko mencuri pandang. Ia melihat Sarah melirik ponselnya, menatap layar dengan alis bertaut, lalu memberikan senyuman sinis yang khas.

Sarah tidak membalas lewat kata-kata langsung. Ia justru mengambil ponselnya, berdiri, lalu berjalan menuju jendela besar yang menampilkan pemandangan lampu kota Jakarta. Ia memotret pantulan dirinya di kaca—seorang wanita karier yang tampak elegan meski hari sudah malam—dengan latar belakang gedung-gedung pencakar langit.

Lima menit kemudian, sebuah notifikasi muncul di ponsel Niko. Sarah Anindya baru saja mengunggah cerita baru. Niko membukanya dengan cepat.

Happiness is a result of productivity, not just sitting around with cold coffee. Menjadi mandiri berarti nggak butuh orang lain buat ngerasa 'penuh'. Work harder, glow brighter. 😉 #IndependentWoman #RealHappiness.

"Produktif katanya?" cibir Niko pelan. "Gue kan juga produktif!"

"Suara lo kedengaran sampai sini, Niko," sahut Sarah tanpa menoleh. "Fokus ke desain lo. Visual lo yang terakhir masih kelihatan kayak iklan obat masuk angin. Terlalu jadul."

Niko menggigit bibir bawahnya. Persaingan ini mulai membuat suhu ruangan terasa lebih panas dari biasanya.

***

Lihat selengkapnya