Boundless

Suci Asdhan
Chapter #5

Rasa yang Tercecap

Suasana kantor pada jam sebelas malam terasa lebih mencekam daripada biasanya. Ketegangan dari 'Perang Konten' semalam masih menggantung di udara, membuat interaksi antara Niko dan Sarah hari ini menjadi sangat kaku. Mereka hanya bicara seperlunya mengenai revisi layout dan data audiens. Namun, perut tidak bisa diajak berkompromi dengan ego. Suara keroncongan dari perut Niko yang cukup keras akhirnya memecah keheningan yang menyiksa itu.

"Gue nggak bisa mikir kalau cuma dikasih asupan oksigen sama emosi," gerutu Niko sambil menutup paksa laptopnya. "Gue mau cari makan. Lo mau ikut atau mau makan gengsi di sini?"

Sarah mengalihkan pandangan dari monitor. Wajahnya tampak pucat, tanda bahwa ia juga sudah mencapai batas energinya. Ia tidak membalas sindiran Niko soal postingan semalam—mungkin karena terlalu lelah, atau mungkin karena ia tahu Niko sudah memegang rahasianya.

"Cari tempat yang buka. Gue nggak mau makanan instan," jawab Sarah ketus sembari meraih tasnya.

Mereka akhirnya terdampar di sebuah warung tenda di pinggir jalan yang masih ramai, Mie Pedas Level Dewa. Aroma cabai yang menyengat langsung menyambut indra penciuman mereka. Tempat itu sederhana, dengan meja kayu panjang dan kursi plastik merah, sangat kontras dengan kemewahan kantor PT. Maju Jaya atau apartemen Sarah yang estetik.

"Level berapa?" tanya Niko saat mereka duduk berhadapan. "Gue biasanya level sepuluh. Tapi buat lo, level satu mungkin udah bikin pingsan, ya?"

Sarah menaikkan alisnya, merasa tertantang. "Jangan ngeremehin gue, Niko. Level lima belas. Dan kalau gue nggak nangis, lo yang harus ngerjain revisi visual bagian *background* sendirian besok pagi."

Niko menyeringai. "Oke. Tapi kalau lo kalah, lo harus berhenti ngomentarin font pilihan gue selama seminggu ke depan. Setuju?"

"Setuju."

Dua porsi mie dengan warna merah kehitaman yang mengancam mendarat di meja mereka sepuluh menit kemudian. Tanpa banyak bicara, mereka mulai makan.

Menit-menit pertama diisi dengan kesunyian yang penuh perjuangan. Niko mulai merasakan keringat bercucuran di pelipisnya. Rasa pedasnya tidak main-main—seperti ada bara api yang menari di lidahnya. Namun, ia mencuri pandang ke arah Sarah. Wanita itu tetap berusaha menjaga wajah datar, meski telinganya sudah berubah warna menjadi merah padam.

"Lo ..., nggak apa-apa?" tanya Niko. Suaranya sedikit parau.

"Aman," sahut Sarah pendek, meski ia segera meneguk es teh manisnya dengan terburu-buru.

Untuk mengalihkan rasa terbakar di mulut, Niko memperhatikan sekeliling. Di pojok warung, sebuah radio tua memutar lagu-lagu dari pemutar MP3. Sebuah intro gitar yang sangat familiar mulai terdengar. Irama slowcore dengan distorsi tipis yang melankolis memenuhi udara malam yang lembap.

"Cigarettes After Sex?" gumam Niko tanpa sadar. "Keren juga abang warungnya muter lagu ginian."

Lihat selengkapnya