Malam Sabtu di Jakarta bukan sekadar waktu untuk beristirahat; bagi sebagian orang, itu adalah panggung untuk memamerkan eksistensi. Setelah ketegangan di warung mie pedas malam sebelumnya, Niko merasa butuh pelampiasan yang lebih keras daripada sekadar kopi atau desain grafis. Ketika ia melihat pengumuman konser For Revenge bertajuk Perayaan Patah Hati di sebuah venue semi-terbuka di Jakarta Selatan, ia langsung memesan tiket. Sendirian.
Ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri, dan mungkin pada dunia maya, bahwa ia bisa menikmati emosi yang meluap-luap tanpa harus memegang tangan siapa pun.
Lampu sorot berwarna biru dan ungu menyapu kerumunan orang yang mulai memadati area depan panggung. Bau asap rokok, parfum, dan aroma aspal yang masih lembap setelah hujan gerimis menyatu menjadi aroma khas konser. Niko mengenakan kaos hitam polos dan jaket denim yang sedikit pudar, berdiri di barisan tengah, mencoba melebur dengan kebisingan.
Namun, ketenangannya terusik saat ia melihat sesosok wanita berdiri sekitar tiga meter di sebelah kirinya. Wanita itu memakai outer hitam panjang dengan rambut yang diikat kuda, memperlihatkan profil wajahnya yang tegas namun tampak lelah.
"Sarah?" gumam Niko.
Wanita itu menoleh, matanya membelalak kaget. "Niko? Lo... ngikutin gue?"
Niko tertawa hambar, mencoba menutupi rasa canggungnya. "Pede amat, lo. Gue ke sini mau dengerin Boniex nyanyi, bukan mau liat muka lo yang kusut kayak baju belum disetrika."
Sarah mendengkus, tapi ia tidak pergi. "Gue butuh udara segar. Kantor bikin gue sesak."
"Sendirian?" tanya Niko, matanya menyelidik, teringat akan bayangan di jendela apartemen Sarah tempo hari.
"Kayak yang lo liat," sahut Sarah dingin, pandangannya langsung beralih ke panggung saat lampu tiba-tiba mati dan teriakan penonton membahana.
Intro lagu Serana mulai mengalun. Irama drum yang menghentak dan distorsi gitar yang emosional segera memenuhi udara. Di atas panggung, Boniex Noer, sang vokalis, berdiri dengan penuh karisma. Namun, sebelum ia mulai menyanyi, lampu sorot terpusat padanya. Ia memegang mik dengan satu tangan, sementara tangan lainnya memberi isyarat agar penonton tenang.
"Kadang," suara Boniex menggema berat melalui sistem suara yang mumpuni, "kita berpura-pura paling kuat di depan orang lain. Kita bikin tembok yang tinggi, kita bilang kita bahagia sendirian, padahal di dalam sini..." ia menunjuk dadanya, "...ada luka yang belum kering. Ada kenangan yang masih kita peluk erat meski itu menyakitkan."
Niko melirik Sarah. Wanita itu terpaku, matanya menatap panggung dengan tatapan kosong yang dalam.
Boniex melanjutkan, suara sang vokalis kini terdengar seperti bisikan yang menyayat. "Untuk kalian yang datang ke sini demi melupakan seseorang, atau kalian yang sedang mencoba meyakinkan diri bahwa kalian baik-baik saja... lagu ini untuk kalian."
Lalu, mengalunlah baris demi baris lirik yang seperti ditulis khusus untuk suasana hati mereka malam itu.