Suara musik For Revenge masih terdengar meredam dari kejauhan, dentuman basnya terasa seperti detak jantung yang sesak di kejauhan. Namun, bagi Niko dan Sarah, konser itu sudah berakhir sejak Tania dan Rendy melangkah pergi dengan tawa kemenangan mereka.
Langit Jakarta yang sejak tadi mendung akhirnya tumpah. Hujan turun dengan deras, menghantam aspal parkiran yang luas dengan suara gemuruh yang gaduh. Orang-orang berlarian mencari perlindungan, namun Niko dan Sarah berjalan menembus guyuran air, seolah rasa dingin di kulit mereka tidak sebanding dengan rasa panas yang membakar harga diri mereka di dalam sana.
Sarah berhenti tepat di samping sebuah tiang lampu yang temaram. Air hujan mengalir di wajahnya, membasahi rambutnya yang kini lepek, dan menyamarkan apakah butiran air di pipinya itu murni air hujan atau sisa air mata yang akhirnya pecah. Ia menunduk, bahunya naik turun menahan isak yang tersedat di tenggorokan.
Niko berdiri satu meter di depannya. Ia membiarkan jaket denimnya basah kuyup. Kemarahannya pada Tania sudah mencapai puncaknya, namun melihat Sarah yang hancur seperti itu menimbulkan rasa sakit jenis baru yang tidak ia mengerti.
"Sar," panggil Niko pelan. Suaranya hampir tertelan bunyi hujan.
Sarah menggeleng. "Gue bodoh banget, Nik. Gue pikir gue udah cukup kuat buat berdiri sendiri. Gue pikir dengan kerja keras, dengan prestasi, gue bisa bikin orang kayak Rendy nggak punya kuasa lagi atas perasaan gue. Tapi ternyata satu kalimat dari perempuan itu... satu senyuman merendahkan dari Rendy... semuanya hancur."
"Bukan lo yang salah, Sar. Mereka yang jahat," sahut Niko tegas. Ia melangkah mendekat.
"Tapi mereka benar, kan?" Sarah mendongak, matanya merah dan suaranya bergetar hebat. "Kita ini cuma dua orang menyedihkan yang sibuk perang konten di Instagram buat nutupin kalau kita sebenarnya kesepian setengah mati. Gue bohong soal kemandirian gue, dan lo bohong soal kebahagiaan jomblo lo. Kita berdua cuma pecundang, Niko."
Niko terdiam. Kata-kata Sarah menusuk karena mengandung kebenaran yang pahit. Namun, ada bagian dalam dirinya yang menolak untuk menyerah begitu saja. Bayangan wajah Rendy yang sombong dan bibir Tania yang menghina terus berputar di kepalanya.
"Gue nggak mau jadi pecundang selamanya," ucap Niko tiba-tiba. Matanya berkilat di bawah lampu parkiran yang kuning redup.
Sarah menatapnya bingung. "Maksud lo?"
"Tania pikir dia menang karena dia punya Rendy. Rendy pikir dia punya kuasa atas lo karena dia tahu lo masih sendiri. Mereka ngerasa di atas angin karena mereka ngelihat kita sebagai target yang gampang diinjak-injak." Niko maju satu langkah lagi, kini ia berdiri tepat di depan Sarah, membiarkan tubuhnya menjadi penghalang angin bagi wanita itu.
"Gimana kalau kita ubah situasinya? Gimana kalau kita bungkam mulut mereka sekali dan buat selamanya?"
Sarah menghapus air di wajahnya dengan punggung tangan yang gemetar. "Gimana caranya? Kita nggak punya siapa-siapa, Niko. Lo jomblo, gue juga."