Minggu pagi di Jakarta biasanya tenang, tetapi bagi Niko, udara di kafe Kopi Tengah Kota terasa seberat timah. Ini adalah hari pertama sandiwara besar itu dipentaskan. Di hadapannya, Dodi sedang sibuk mengaduk kopi susunya dengan wajah mengantuk, sementara Sinta, sahabat Sarah yang selalu ceria, tengah sibuk memotret croissant untuk keperluan konten.
Niko melirik jam tangannya. Ia sudah mengirim pesan pada Sarah sepuluh menit lalu. Gue sudah di lokasi. Siap-siap.
"Lo kenapa sih, Nik? Gelisah banget kayak orang mau sidang skripsi," celetuk Dodi sambil menyesap kopinya. "Katanya mau ngomong penting. Soal proyek atau soal tantangan jomblo lo yang makin nggak jelas itu?"
Niko hanya berdehem, tidak sempat menjawab karena pintu kafe berdenting terbuka. Sarah melangkah masuk. Ia mengenakan gaun casual berwarna sage yang lembut, rambutnya dibiarkan tergerai, penampilan yang jauh lebih feminin dan hangat dibanding saat di kantor.
Sarah berjalan langsung menuju meja mereka. Bukannya duduk di kursi kosong di sebelah Sinta, ia justru berdiri di samping Niko. Niko menarik napas panjang, menguatkan mentalnya, lalu berdiri. Dengan gerakan yang diusahakan sealami mungkin, ia menarik kursi untuk Sarah dan meletakkan tangannya di sandaran kursi wanita itu.
"Hai, maaf telat," sapa Sarah. Suaranya lembut, ada nada yang berbeda dari biasanya.
"Enggak apa-apa, Sayang," jawab Niko.
Sayang. Kata itu meluncur dari bibir Niko seperti peluru nyasar. Dodi tersedak kopinya hingga terbatuk-batuk hebat. Sinta menjatuhkan ponselnya ke atas meja dengan bunyi brak yang cukup keras.
"Apa tadi lo bilang? Sayang?" Dodi mengusap mulutnya dengan tisu, matanya melotot menatap Niko dan Sarah bergantian. "Nik, lo demam? Atau ini bagian dari komedi lo?"
Sarah duduk dengan tenang, lalu meraih tangan Niko di atas meja. Jemarinya yang ramping menyelinap di sela-sela jari Niko. Genggaman itu dingin, tanda bahwa Sarah pun sebenarnya sedang dilanda kecemasan luar biasa, tapi wajahnya tetap terkendali.
"Kita mau jujur sama kalian," kata Sarah, menatap Sinta dan Dodi secara bergantian. "Kompetisi jomblo itu... sebenarnya cuma cara kami buat nutupin apa yang sebenarnya terjadi. Kami nggak mau orang kantor tahu dulu sebelum kami yakin."
Niko mengangguk, mencoba memperkuat narasi. "Iya. Capek juga pura-pura berantem terus di depan kalian. Faktanya, lembur minggu-minggu kemarin bikin kami sadar kalau kami... yah, kami lebih dari sekadar rekan kerja."
Sinta menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya berbinar. "Gila! Gue udah curiga pas kalian sering lembur bareng, tapi gue pikir Sarah bakal bunuh lo daripada pacaran sama lo, Nik! Oh my God, Sarah! Lo akhirnya luluh juga?"
"Nasib orang nggak ada yang tahu, Ta," jawab Sarah dengan senyum tipis yang tampak sangat meyakinkan.
Akan tetapi, Dodi menunjukkan reaksi berbeda dari Sinta yang antusias. Pria itu terdiam. Wajahnya yang tadi jenaka kini berubah menjadi kaku. Tatapannya tertuju pada tautan tangan Niko dan Sarah di atas meja. Sebagai mantan kekasih Sarah, ada rasa canggung yang tebal yang tiba-tiba menyeruak di antara mereka.