Aroma pembersih lantai dan udara dingin dari mesin pendingin menyambut Niko dan Sarah saat mereka melangkah masuk ke dalam supermarket besar di bilangan Jakarta Selatan. Setelah pengumuman mengejutkan di kafe tadi pagi, Pak Hermawan tiba-tiba memberikan tugas tambahan: menyiapkan perlengkapan dan logistik untuk workshop internal tim Boundless yang akan diadakan di kantor besok pagi.
"Kenapa kita harus belanja berdua sih? Kan bisa pesan daring," keluh Niko sambil menarik troli besi yang rodanya sesekali mengeluarkan bunyi decit yang mengganggu.
Sarah, yang kini sudah kembali ke mode 'wanita efisien', memeriksa catatan di ponselnya. "Karena Pak Hermawan mau kita pilih sendiri material buat papan visi dan camilan buat direksi. Dia bilang, ini tes selera untuk tim kreatif. Lagipula, bukannya ini bagus buat akting kita?"
Sarah menoleh, menatap Niko dengan alis terangkat. "Siapa tahu ada orang kantor yang belanja di sini. Kita harus tetap konsisten, kan?"
Niko terdiam. Benar juga. Ia memperbaiki posisi berdirinya, lalu dengan sengaja berjalan lebih dekat di samping Sarah. "Oke, Tuan Putri. Apa hal pertama yang harus dicari di sini dalam daftar belanjaan kita?"
Mereka mulai menyusuri lorong demi lorong. Awalnya, suasana terasa kaku, sebuah kelanjutan dari ketegangan pesan misterius di kafe tadi. Namun, perlahan-lahan, suasana supermarket yang santai mulai mencairkan kekakuan di antara mereka.
"Niko, jangan ambil keripik yang itu. Micinnya terlalu banyak, nanti direksi kita sakit tenggorokan sebelum presentasi selesai," tegur Sarah saat Niko hendak melempar sebungkus besar keripik kentang ke dalam troli.
"Tapi ini enak, Sar! Hidup itu butuh rasa. Kalau semuanya sehat, nanti presentasi kita hambar," balas Niko sambil cengengesan.
Sarah memutar bola matanya, tetapi sebuah senyum tipis yang tulus, bukan senyum sinis atau sekadar akting, muncul di bibirnya. Ia mengambil bungkus keripik itu dari tangan Niko, menelitinya sebentar, lalu dengan pasrah memasukkannya kembali ke troli. "Satu aja. Sisanya kita beli kacang almond dan buah kering."
Momen-momen kecil mulai berjatuhan seperti remah roti. Saat Sarah mencoba meraih kotak sereal di rak paling atas, Niko dengan sigap berdiri di belakangnya dan mengambilkan kotak tersebut. Untuk sekejap, tubuh mereka sangat dekat. Niko bisa mencium wangi sampo stroberi yang lembut dari rambut Sarah, aroma yang sama dengan yang ia hirup di parkiran konser saat hujan deras.
Sarah berbalik, dan wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Mata cokelat Sarah yang biasanya tajam kini tampak lunak dan sedikit terkejut.
"Terima kasih," bisik Sarah pelan.
"Sama-sama," jawab Niko, suaranya sedikit lebih berat dari biasanya.
Mereka melanjutkan belanja, namun ada sesuatu yang berubah. Mereka mulai bercanda soal isi troli belanjaan orang lain, menebak-nebak kepribadian orang dari apa yang mereka beli. Mereka berdebat soal merk deterjen untuk stok di dapur kantor seolah-olah mereka sedang menyiapkan keperluan rumah tangga mereka sendiri. Ada kehangatan domestik yang tak terduga merayap masuk ke dalam interaksi mereka. Batas antara "rekan kerja", "rival jomblo", dan "pasangan palsu" mulai mengabur menjadi sesuatu yang lebih nyata.
Niko merasa nyaman. Terlalu nyaman. Sampai-sampai ia lupa bahwa semua ini hanyalah sebuah kesepakatan untuk membungkam para mantan.
Saat mereka berada di bagian buah-buahan, ponsel Sarah yang diletakkan di bagian atas troli bergetar hebat. Sebuah panggilan masuk. Layarnya menyala, menampilkan nama yang membuat suasana hangat itu seketika membeku.