Cahaya lilin di atas meja restoran The Gilded Lily menari-nari kecil, memantul pada permukaan perak garpu yang diletakkan Tania dengan presisi milimeter. Restoran ini berada di lantai lima puluh, tempat di mana suara klakson Jakarta hanya terdengar seperti dengung lebah yang jauh dan tidak berarti. Di balik dinding kaca raksasa, kota itu tampak seperti hamparan bara api yang sedang sekarat.
Tania menyesap Cabernet Sauvignon dari gelas kristal tipis, membiarkan cairan merah pekat itu membasahi lidahnya sebelum menelannya perlahan. Matanya tidak lepas dari layar ponsel yang menyala di atas meja. Jemarinya yang dihias kuteks merah darah menggulir layar dengan gerakan malas namun pasti.
Di sana, terpampang sebuah foto baru. Niko dan Sarah sedang duduk di sebuah kedai kopi yang remang, kepala mereka condong ke arah satu sama lain, wajah mereka diterangi oleh cahaya hangat lampu gantung. Foto itu tidak menampilkan kemesraan yang berlebihan, hanya sebuah kebersamaan yang tampak begitu nyata, seperti tidak dibuat-buat.
Tania merasakan denyut halus di pelipisnya. Meski pun sangat ingin bereaksi, ia telah berhasil menekan emosinya untuk tak menggebrak meja mau pun memaki. Ia justru tersenyum. Sebuah senyum yang sangat tipis hingga menyerupai luka sayatan di wajahnya yang cantik.
"Dia terlihat jauh lebih rapi sekarang." Suara Tania nyaris menyerupai bisikan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada pria yang duduk di hadapannya. "Kemeja yang disetrika, rambut yang tertata. Sarah memberikan pengaruh yang sangat besar pada selera buruknya."
Rendy, yang duduk di seberang Tania, tidak langsung menanggapi. Ia sedang sibuk memotong wagyu steak miliknya. Gerakannya lambat, terukur, dan tanpa suara. Pisau peraknya membelah daging dengan kemudahan yang mengerikan. Rendy mengenakan jas linen berwarna krem yang tampak begitu mahal sehingga cahaya lampu redup di restoran itu seolah-olah segan untuk meninggalkannya.
Setelah menelan potongan dagingnya, Rendy meletakkan pisau dan garpu secara sejajar di pinggir piring. Ia menyeka sudut bibirnya dengan serbet linen putih, lalu menatap Tania dengan sepasang mata gelap yang tampak seperti sumur tanpa dasar.
"Orang seringkali melakukan upaya terbaiknya saat mereka merasa sedang dalam pelarian, Tania," sahut Rendy. Suaranya rendah, halus, namun memiliki berat yang mampu menekan udara di sekitar meja mereka.
"Pelarian?" Tania mengangkat sebelah alisnya, jemarinya kini mengetuk-ngetuk sisi gelas wine.
"Ya. Pelarian dari masa lalu, pelarian dari kegagalan, atau pelarian dari diri mereka sendiri," Rendy menyandarkan punggungnya ke kursi ergonomis. Ia merogoh saku jasnya, dan dengan gerakan yang disengaja, ia mengeluarkan sebuah benda kecil berbentuk persegi.