Ketegangan di antara mereka sudah mencair, namun pagi ini udara di lantai sembilan terasa sangat mencekik.
Niko melangkah keluar dari lift dengan siulan kecil yang terdengar sumbang namun ceria. Di tangannya, ia membawa dua gelas kopi kertas, atu kopi hitam ekstra kafein miliknya, dan satu latte tanpa gula dengan taburan kayu manis milik Sarah. Sejak insiden supermarket dan "kesepakatan gila" di parkiran konser, ada ritme baru yang terbentuk. Niko mulai terbiasa bangun lebih pagi hanya untuk memastikan ia sampai di kantor sebelum Sarah, sekadar untuk melihat ekspresi terkejut wanita itu saat mendapati kopi sudah tersedia di mejanya.
Akan tetapi, begitu pintu lift terbuka sepenuhnya, Niko merasakan ada hal yang ganjil. Lorong kantor PT. Maju Jaya yang biasanya riuh dengan suara mesin faks dan obrolan pagi antar staf, kini terasa lebih sunyi. Beberapa rekan kerja menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan, campuran antara penasaran dan kasihan.
Niko mengabaikan mereka dan berjalan menuju kubikel Sarah. Ia mendapati Sarah sudah duduk di sana, tetapi punggungnya terlihat kaku. Ia tidak sedang menyentuh keyboard atau menyesap kopi sambil menghidu nikmat aromanya, seperti kebiasaan yang kerap dilakukan wanita itu. Namun, kini matanya tampak terpaku pada sebuah benda di atas meja kerja.
"Pagi, rekan setim paling galak seantero Jakarta," sapa Niko, mencoba mencairkan suasana. Ia meletakkan latte itu di samping tangan Sarah. "Gue bawain bahan bakar buat otak lo yang terlalu pinter itu."
Sarah tidak menoleh. Ia hanya menunjuk dengan dagunya ke arah sebuah amplop cokelat besar yang tergeletak tepat di atas draf desain Boundless. Nama pengirimnya tak tertera di amplop itu. Hanya terdapat tulisan tangan kaku menggunakan tinta merah, seperti sebuah peringatan tanda bahaya.
Untuk Sarah Anindya – Masa Lalu Tidak Pernah Tidur.
"Apaan nih? Surat cinta dari penggemar rahasia? Atau tagihan kartu kredit yang lo sembunyiin?" Niko tertawa kecil, mencoba menarik perhatian Sarah dengan lelucon recehnya. "Tenang, kalau itu tagihan, gue bisa bantu cicil pake poin minimarket."
Sarah akhirnya mengalihkan pandangan ke arah Niko. Namun, senyum yang biasanya ia gunakan untuk membalas ejekan Niko, kali ini sama sekali tak muncul. Matanya tampak redup, hampir kosong. "Buka aja kalau lo berani, Nik."
Niko mengerutkan kening. Keberaniannya sedikit surut melihat raut wajah Sarah yang pucat pasi. Ia meraih amplop itu, merobek bagian atasnya, dan mengeluarkan isinya. Bukannya surat ancaman panjang lebar, yang keluar hanyalah selembar foto lama yang dicetak dengan kualitas buram, seperti diambil dari rekaman CCTV atau kamera pengintai jarak jauh.
Foto itu memperlihatkan Sarah, beberapa tahun lebih muda, sedang duduk di sebuah kafe remang-remang bersama seorang pria yang wajahnya disamarkan oleh coretan spidol hitam. Namun, yang membuat foto itu mengerikan adalah apa yang ada di atas meja di antara mereka, yaitu, sebuah map berlogo perusahaan tempat Sarah bekerja sebelumnya di Surabaya. Dalam foto itu, tangan Sarah tampak sedang menyerahkan sebuah diska lepas kepada pria itu.
"Ini... siapa, Sar?" tanya Niko. Suaranya kini merendah. Seketika saja, lawakannya mendadak sirna.
Sarah segera merampas foto itu dan memasukkannya kembali ke dalam amplop dengan gerakan gemetar. "Cuma salah paham masa lalu, Niko. Tolong jangan tanya."
"Tapi foto ini dikirim ke kantor kita, Sar. Seseorang sengaja naruh ini di meja lo. Ini bukan 'salah paham' biasa, ini intimidasi."
"Gue bilang jangan tanya!" Suara Sarah meninggi, menarik perhatian beberapa orang di sekitar mereka. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. "Fokus saja ke presentasi draf pertama kita nanti siang. Jangan biarkan sampah ini ganggu konsentrasi lo."