Dodi berteriak seolah-olah baru saja melihat hantu, tapi sebenarnya ia hanya melihat layar monitornya.
"Niko! Sumpah, lo harus liat ini atau karier lo sebagai duta jomblo beneran tamat hari ini juga!" teriak Dodi sambil memukul-mukul meja kayu di basecamp, sebuah warnet merangkap kafe game remang-remang yang menjadi tempat pelarian mereka sejak kabur dari kantor satu jam lalu.
Niko, yang sedang berusaha menenangkan Sarah dengan segelas teh manis hangat di sudut ruangan, tersentak. Ia berlari menghampiri meja Dodi, diikuti Sarah yang tampak waspada. Di layar monitor berukuran 24 inci itu, terpampang halaman profil Instagram milik Niko. Namun, ada yang sangat salah.
Foto profil Niko yang tadinya bergaya estetik di depan kamera analog, kini berubah menjadi foto mantan kekasihnya. Tania tampak sedang tersenyum lebar sambil memegang buket bunga. Tidak berhenti di situ, bio Instagram Niko yang biasanya bertuliskan creativity is intelligence having fun kini berganti menjadi barisan kalimat puitis yang menjijikkan.
Menanti senja kembali pada cakrawala. Menunggumu kembali pada pelukanku, T. ❤️ #TrueLoveNeverDies #WaitingForYou.
"Apa-apaan ini?!" Niko merebut mouse dari tangan Dodi dengan panik. "Ini bukan gue yang nulis! Dodi, sumpah, demi apa pun, ini bukan gue!"
"Baru aja di-update dua menit lalu, Nik," sahut Sinta yang muncul dari balik bilik sebelah sambil membawa sebungkus keripik kentang. Matanya melotot menatap layar. "Dan lo baru aja posting foto lama kalian pas di Bali. Gue bacain caption-nya, ya. 'Ternyata jomblo itu cuma fase denial sebelum gue sadar kalau cuma lo yang ada di hati gue'. Ko, lo sakit, ya, Nik?"
Niko merasa dunianya runtuh. Ia melirik Sarah, dan jantungnya mencelos. Sarah berdiri satu langkah di belakangnya dengan tangan bersedekap. Tatapannya yang tadi sempat melunak setelah insiden alat penyadap di kantor, kini kembali mengeras menjadi es yang paling dingin sekutub utara.
"Bagus ya, Niko." Suara Sarah terdengar pelan, mengandung nada kecewa yang tajam. "Jadi ini alasan lo ngajak gue kabur? Supaya lo punya alibi sementara lo sibuk main drama balikan sama mantan di medsos?"
"Sar, dengerin gue dulu! Ini diretas!" Niko mencoba meraih tangan Sarah, tetapi wanita itu menghindar.
"Diretas? Di saat kita baru aja nemuin penyadap di meja gue? Terlalu kebetulan, nggak sih?" Sarah tertawa sinis. "Atau jangan-jangan alat penyadap itu juga ide lo supaya gue ngerasa terancam dan lo bisa jadi pahlawan kesiangan?"
"Gila lo, Sar! Gue nggak serendah itu!" teriak Niko frustrasi. Ia kembali fokus menatap layar. "Do! Lakuin sesuatu! Lo kan jago IT, lakuin hal-hal hacker kayak di film-film!"
Dodi menghela napas, jemarinya mulai menari lincah di atas keyboard. Layar monitor langsung berubah menjadi barisan kode-kode rumit berwarna hijau yang berjalan cepat. "Sabar, Bos. Gue lagi coba lacak log-in terakhir dan IP address-nya. Ini peretasan profesional, mereka pake VPN berlapis."