Boundless

Suci Asdhan
Chapter #13

Blurred Lines

Kegelapan adalah tempat terbaik untuk menyembunyikan kebohongan, atau justru mengungkap kebenaran.

Malam ini, langit Jakarta seolah sepakat dengan suasana hati Sarah yang mendung; hujan turun tidak terlalu deras, namun konsisten, menciptakan ritme monoton yang menyebalkan di jendela apartemennya. Sarah duduk di sofa ruang tengah, dikelilingi oleh tumpukan kertas strategi dan cahaya dari laptop yang mulai memudar baterainya. Seharusnya ia sendirian. Seharusnya ia sudah mengusir pria yang kini sedang sibuk mengutak-atik kotak sekring di dekat pintu depan itu.

Namun, Niko Pratama memiliki kegigihan yang setara dengan kecoa. Pria itu datang satu jam lalu, basah kuyup, membawa tumpukan draf cetak yang sempat tertinggal di kantor, dan bersumpah demi nyawanya bahwa ia tidak meretas akunnya sendiri.

"Gue nggak butuh penjelasan lo, Niko. Gue butuh kerjaan ini selesai," ujar Sarah dingin saat itu.

Lalu, seakan-akan semesta ingin turut menertawakan mereka, pet! Seluruh aliran listrik di apartemen itu padam. Tidak hanya di unit Sarah, tapi sepertinya satu blok kawasan itu gelap gulita.

"Bagus. Sempurna," gumam Sarah dalam kegelapan. Ia bisa mendengar suara langkah kaki Niko yang mendekat, dipandu oleh cahaya senter dari ponselnya.

"Tenang, Sar. Ini cuma pemadaman bergilir, atau mungkin takdir pengen kita istirahat." Suara Niko terdengar lebih tenang dari biasanya. Tidak ada nada bercanda yang dipaksakan. "Gue punya lilin di tas darurat gue. Lo punya korek?"

Sepuluh menit kemudian, ruang tengah itu berubah suasana. Dua batang lilin putih berdiri di atas meja kopi. Cahayanya yang temaram meliuk-liuk tertiup angin dari ventilasi, menciptakan bayangan raksasa yang menari dsn meliuk-liuk di dinding. Di antara mereka, dua mangkuk mie instan panas mengepulkan uap, satu-satunya aroma yang mampu mengalahkan bau hujan yang masuk dari balkon.

"Makan dulu. Otak lo nggak bakal bisa diajak kompromi kalau perut lo cuma isi kopi dari pagi." Niko menyodorkan sumpit plastik pada Sarah.

Sarah menatap mie instan itu, lalu mengalihkan pandangan ke wajah Niko. Di bawah cahaya lilin, garis wajah pria itu tampak lebih tegas. Kekonyolan yang biasanya ia tampilkan seolah-olah luruh bersama kegelapan. Tak ada filter Instagram, tiada pula diwarnai komentar-komentar netizen yang maha benar, hanya mereka berdua.

"Kenapa lo masih di sini, Nik?" tanya Sarah pelan sebelum menyuap mienya. "Gue udah marah-marah. Gue udah nuduh lo macem-macem soal akun itu. Kenapa lo nggak balik aja ke Tania kalau emang itu yang orang-orang pikirin?"

Niko berhenti mengunyah. Ia menatap lidah api lilin dengan pandangan menerawang. "Karena gue bukan pengecut, Sar. Dan karena gue tahu sakit rasanya dituduh atas sesuatu yang nggak kita lakuin. Tania itu masa lalu yang udah gue kubur dalem-dalem. Orang yang ngeretas akun gue... dia tahu itu. Dia pengen kita pecah. Dan kalau gue pergi sekarang, berarti dia menang."

Sarah terdiam. Rasa hangat dari mie instan itu mulai menjalar ke dadanya. Namun rasa sesak di hatinya belum sepenuhnya hilang. "Gue nggak tahu siapa yang bisa gue percaya sekarang. Rendy ada di mana-mana. Di kantor, di supermarket, bahkan mungkin di balik layar monitor Dodi tadi."

Lihat selengkapnya