Senyum profesional Pak Hermawan membeku saat slide pertama muncul di layar besar.
Di ruang rapat utama lantai sembilan yang kedap suara itu, suasana seharusnya penuh dengan aura prestisius. Bau aroma terapi kayu cendana mengapung di udara, berpadu dengan dinginnya AC yang menusuk kulit. Empat orang direksi duduk dengan dagu terangkat, memegang pulpen mahal di atas buku catatan bersampul kulit mereka. Niko, yang sudah mengenakan kemeja putih paling rapi dan dasi yang disimpul dengan presisi, berdiri di samping layar proyektor dengan senyum penuh percaya diri.
"Dan inilah," Niko mengarahkan laser pointer ke layar dengan gerakan dramatis, "konsep utama Boundless Lifestyle yang akan mendefinisikan ulang makna kebebasan." Ia menekan tombol next.
Dunia seolah-olah berhenti berputar. Alunan musik instrumental yang elegan sebagai latar belakang presentasi mendadak berubah menjadi dentuman lagu dangdut koplo yang sangat keras. Di layar proyektor beresolusi tinggi itu, bukannya muncul draf logo minimalis, justru terpampang foto wajah Niko yang sangat besar.
Dalam foto itu, Niko tampak sedang memakai bando telinga kelinci berwarna merah muda. Matanya juling karena mabuk berat, dan mulutnya menganga lebar sambil memeluk sebuah dispenser air mineral. Di bawah foto itu terdapat teks berjalan berkedip-kedip: "AKU JOMBLO, AKU GALAU, AKU BUTUH BELAIAN."
Wajah Pak Hermawan berubah dari kuning langsat menjadi merah padam, lalu ungu. Para direksi saling berpandangan; ada yang menutup mulut menahan tawa, ada yang menatap jijik Niko seolah-olah pria itu adalah wabah penyakit.
Niko mematung. Keringat dingin sebesar biji jagung langsung membanjiri pelipisnya. Ia menekan tombol next dengan panik, berharap itu hanya kesalahan teknis yang hanya muncul pada slide pertama saja. Namun, slide berikutnya justru menampilkan video Niko sedang menari di atas meja, masih dengan bando kelinci yang sama, sambil menyanyikan lagu tentang patah hati dengan suara sumbang yang memekakkan telinga dari speaker ruangan.
"Niko Pratama!" Suara Pak Hermawan menggelegar, mengalahkan dentuman musik koplo yang mengalun di slide pertama pembuka presentasi tadi. "Apa maksud semua ini?"
Otak Niko bekerja dengan kecepatan cahaya. Pria itu menyadari, jika ia diam, kariernya tamat hari ini. Dengan nekat, ia justru melompat ke tengah ruangan, tepat di depan layar, menutupi sebagian video memalukan itu dengan tubuhnya.
"Pak! Para Direksi sekalian!" Niko berteriak sambil mulai menggerakkan pinggulnya mengikuti irama musik koplo yang tak kunjung berhenti. "Ini... ini adalah bagian dari kampanye kita! The Vulnerability Concept!"
Sarah, yang duduk di samping meja operator, menatap Niko dengan mata membelalak tak percaya. Ia mencoba mematikan laptop, tetapi sistemnya terkunci total. Beberapa kali ia berusaha memasukkan password yang selama ini digunakan, tetap saja aksesnya ditolak.
Niko terus menari, melakukan gerakan breakdance amatir yang lebih mirip orang sedang tersengat listrik. "Kami ingin menunjukkan bahwa di balik kesempurnaan hidup modern, ada momen-momen konyol yang manusiawi! Kebebasan tanpa batas berarti berani menjadi diri sendiri, bahkan saat kita terlihat paling hancur sekalipun!"
"Niko, hentikan!" desis Sarah. Wajahnya memerah karena malu sekaligus panik.
"Belum, Sarah! Ini bagian dari engagement!" Niko terus berputar, keringatnya menciprat ke mana-mana. Ia mencoba melakukan gerakan kayang untuk menutupi teks "AKU BUTUH BELAIAN" yang terus berjalan di bagian bawah layar.
Pak Hermawan memijat pelipisnya. "Niko, kalau dalam sepuluh detik slide ini tidak berubah menjadi data riset, saya sendiri yang akan mengantar kamu ke pintu keluar."