Boundless

Suci Asdhan
Chapter #15

Bitter Doubts

Suara Rendy di telepon terdengar seperti madu yang dicampur racun. Setelah sekian lama Sarah memutus kontak dengan Rendy, mantannya itu kini menghubunginya kembali dengan menggunakan nomor baru.

Sarah berdiri di pojok taman atap kantor, tempat di mana embusan angin malam terasa lebih tajam daripada biasanya. Ia menggenggam ponselnya begitu erat hingga jemarinya memutih, sementara matanya menatap nanar ke arah lampu-lampu jalanan yang merayap di bawah sana.

“Kamu pikir dia tulus, Sarah?” Suara Rendy terdengar tenang, hampir seperti desahan yang penuh simpati. “Dia pemain yang rapi. Kamu pikir foto-foto mabuk itu kecerobohan? Bukan. Itu umpan agar kamu merasa dia ‘lemah’ dan tidak berbahaya. Sementara itu, dia sedang menyiapkan panggung untuk pengkhianatan yang lebih besar.”

““Bagaimana kamu tahu soal foto-foto itu, Rendy?” desis Sarah. Suaranya sedikit bergetar.

“Aku tahu segalanya tentang orang yang mencoba mendekati milikku,” jawab Rendy dingin. “Niko menghubungi Tania minggu lalu. Mereka butuh uang, Sarah. Dan mereka tahu proyek Boundless ini punya nilai jual tinggi jika ‘bocor’ ke kompetitor di saat yang tepat. Sabotase tadi pagi hanyalah tes ombak. Dia sedang menguji seberapa jauh dia bisa memanipulasimu.”

Sarah memejamkan mata. Kepalanya berdenyut hebat. Logikanya berteriak bahwa ini adalah manipulasi Rendy. Namun, potongan-potongan kejadian mulai tersusun menjadi gambaran yang mengerikan. Bagaimana Niko selalu ada di saat yang tepat? Bagaimana akun Instagram-nya diretas dengan cara yang begitu “kebetulan”?

“Jika kamu masih ingin mempertahankan topeng ‘pacaran’ konyol kalian, silakan. Tapi, jangan biarkan dia menghancurkanmu lagi, Sarah. Jangan bilang juga, aku tidak memperingatkanmu. Oh, ya, buka blokiran nomor lamaku, karena kamu suatu saat akan membutuhkannya, Sarah. Nomor ini hanya sekali pakai.”

Klik. Sambungan terputus.

Sarah memejamkan mata, membiarkan angin menerpa wajahnya. Di dalam hatinya, benih kecurigaan yang ditanamkan insiden sabotase tadi pagi kini mulai berakar, melilit kewarasannya.

Keesokan harinya, atmosfer di kantor terasa sangat berbeda. Bagi Niko, perubahan itu terasa seperti tubuhnya yang tengah berjalan masuk ke dalam ruang pendingin daging.

Niko datang dengan semangat yang dipaksakan. Ia membawakan Sarah sekotak donat dengan topping stroberi membentuk wajah tersenyum dan dua gelas kopi hangat.

“Pagi, Tuan Putri! Hari baru, semangat baru, dan tanpa slide dengan musik pengiring dangdut koplo!” seru Niko sambil meletakkan kotak donat itu di meja Sarah dengan gaya teatrikal. “Gue udah pesen tim IT buat pasang tembok api sekelas Pentagon di laptop kita. Dijamin aman!”

Sarah tidak mendongak. Jemarinya terus menari lincah di atas keyboard, mengetik barisan data dengan kecepatan yang mengintimidasi. “Simpan aja di sana. Dan tolong, Niko, volumenya dikecilkan. Gue lagi butuh konsentrasi penuh.”

Niko tertegun. Biasanya, Sarah akan membalas dengan sindiran tajam tentang “kafein murahan” atau “donat penuh gula”. Tapi hari ini suasananya sungguh menunjukkan perbedaan yang sangat kentara. Sarah bahkan tidak mau menatap matanya.

“Sar... lo masih marah soal kemarin?” Niko mencoba menarik kursi lebih dekat. “Gue sumpah, gue nggak tahu gimana foto itu bisa ada di sana. Gue udah tanya Dodi, dan dia lagi ....“

“Gue nggak mau bahas itu, Niko,” potong Sarah. Suaranya sedatar garis cakrawala. “Gue cuma mau proyek ini selesai tepat waktu tanpa drama tambahan. Kalau lo mau bantu, tolong cek kembali draf visual untuk bab tiga. Kirim lewat email. Nggak perlu ada diskusi oral.”

Niko merasakan ada sesuatu yang patah di dadanya. Sepanjang siang, ia mencoba segala cara untuk mencairkan es di antara mereka. Ia mengirimkan meme lucu melalui pesan instan kantor, membawakan makan siang favorit Sarah secara diam-diam, hingga sengaja memakai dasi dengan motif kucing yang konyol yang dulu pernah membuat Sarah tertawa kecil.

Lihat selengkapnya