Boundless

Suci Asdhan
Chapter #16

Broken Trust

Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat orang yang mulai kau percayai, berdiri di pihak musuhmu.

Malam itu, koridor lantai sembilan PT. Maju Jaya berubah menjadi lorong yang asing dan dingin. Lampu-lampu sensor di langit-langit menyala satu per satu saat Niko mengejar langkah kaki Sarah yang menghentak keras di atas lantai marmer. Suara napas mereka yang memburu memantul di dinding-dinding kaca, menciptakan gema yang menyesakkan. Seperti malam kemarin, koridor ini kembali menjadi saksi ketegangan yang masih tercipta di antara mereka.

"Sarah! Berhenti!" Niko meraih pergelangan tangan Sarah tepat di depan pintu lift.

Sarah menyentakkan tangannya seolah-olah baru saja tersengat listrik. Ia berbalik, wajahnya yang biasanya tenang kini sembap, matanya merah karena amarah dan kekecewaan yang meluap. "Jangan sentuh gue, Niko. Jangan berani-berani lo pasang muka nggak berdosa itu di depan gue."

"Lo salah paham, Sar! Gue nggak pernah kasih data apa pun ke Tania!" Niko berteriak, suaranya parau karena putus asa. "Gue memang udah lama nggak ketemu dia." Niko menghela napas sejenak, menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. "Sejujurnya, gue ketemu dia sore tadi di taman samping kantor, tapi itu buat minta dia berhenti ganggu kita! Gue nggak mau dia ngerusak proyek kita!"

Sarah tertawa hambar, sebuah tawa yang terdengar seperti pecahan kaca. "Ooh, jadi sekarang lo ngaku kalau lo ketemu dia? Kemarin malam di parkiran lo bilang lo nggak ketemu dia berbulan-bulan. Sekarang lo bilang lo ketemu dia di taman? Lo bahkan nggak bisa jaga kebohongan lo sendiri selama 24 jam!"

Niko tertegun. Ia menyadari lidahnya baru saja terpeleset karena panik. "Maksud gue... gue baru mau kasih tahu lo setelah semuanya beres. Gue nggak mau lo makin stres, Sar. Tania ngancem bakal nyebarin foto-foto lama kita kalau gue nggak kasih akses ke draf Boundless. Gue nemuin dia cuma buat negasin kalau dia nggak akan dapet apa-apa!"

"Dan lo pikir gue bakal percaya?" Sarah maju satu langkah, menatap Niko dengan tatapan yang sanggup membekukan darah. "Gue jelas-jelas liat lo di parkiran kemarin malam, Niko. Gue liat lo kasih dia amplop. Gue liat lo senyum sama dia. Kalau itu cara lo buat 'negasin', cara lo aneh banget."

"Itu bukan gue, Sarah!" Niko menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi. "Gue kemarin diem lama di meja kerja Dodi, lo bisa tanya dia! Siapa pun yang lo liat di parkiran, itu bukan Niko Pratama yang sekarang berdiri di depan lo!"

"Cukup!" Sarah membentak, suaranya menggema di sepanjang koridor yang sepi. "Gue capek sama drama ini. Gue capek sama semua skenario heroik lo yang ternyata cuma bagian dari rencana lo buat balik ke pelukan Tania. Rendy bener... lo itu cuma benalu yang pinter akting."

Mendengar nama Rendy disebut dengan nada penuh keyakinan dari bibir Sarah, Niko merasa seolah-olah ada pisau yang menghujam jantungnya. "Rendy bener? Jadi lo lebih percaya sama bajingan yang udah ngerusak hidup lo di Surabaya daripada gue? Orang yang nemenin lo lembur, yang beliin lo kopi tiap pagi, yang..."

"Orang yang ngejadiin hidup gue bahan konten buat naikin pengikutnya?" potong Sarah tajam. "Jangan lupa, Niko. Hubungan kita ini cuma kesepakatan. Fake dating. Dan hari ini, kesepakatan itu selesai. Gue nggak mau lagi ada sangkut pautnya sama lo. Urusan kerjaan, kita profesional lewat email. Di luar itu, lo nggak ada dalam hidup gue."

Sarah menekan tombol lift dengan kasar. Saat pintu lift berdenting terbuka, ia masuk tanpa menoleh lagi. Niko berdiri mematung, menatap pantulan dirinya di pintu lift yang tertutup. Ia merasa kerdil, hancur, dan benar-benar sendirian.

Lihat selengkapnya