Boundless

Suci Asdhan
Chapter #17

Public Shame

Bisikan di kantor lebih berisik daripada mesin penggiling kopi di pantry.

Pagi itu, aroma biji kopi Arabika yang biasanya menenangkan justru terasa seperti gas beracun bagi Niko. Begitu ia melangkah masuk ke area pantry, suara tawa dan obrolan renyah sekelompok staf pemasaran mendadak terputus. Lima pasang mata menatapnya dengan intensitas yang berbeda. Ada yang menghakimi, ada yang mencibir, dan ada yang terang-terangan menunjukkan rasa jijik.

"Eh, pemeran utamanya datang," sindir salah satu staf sambil menyenggol temannya. Mereka segera bubar, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di belakang mereka.

Niko mematung di depan dispenser. Tangannya yang memegang mug keramik bergetar kecil. Di dinding pantry, sebuah layar televisi internal yang biasanya menampilkan prestasi perusahaan kini seolah-olah memancarkan bayangan video viral semalam. Niko bisa merasakan tatapan tajam dari setiap sudut ruangan. Reputasinya sebagai "si jomblo jujur" kini telah hancur, berganti menjadi label pengkhianat yang menjual rekan setimnya demi mantan kekasih.

Di sisi lain gedung, Sarah berjalan melewati koridor dengan dagu terangkat, meski matanya yang sembap disembunyikan di balik riasan tipis yang dipaksakan. Ia tidak menoleh ke kiri atau ke kanan, mengabaikan bisikan-bisikan yang menyebut namanya dengan nada kasihan—jenis kasihan yang lebih menyakitkan daripada penghinaan.

"Mbak Sarah, dipanggil ke ruang HRD sekarang," ujar seorang staf admin dengan suara pelan, hampir tidak enak hati.

Sarah hanya mengangguk kaku. Ia tahu hari ini akan datang.

---

Ruang HRD terasa seperti ruang interogasi polisi. Cahaya lampu neon yang terlalu putih memantul di meja kaca yang dingin. Di hadapan Sarah, duduk Bu Widya, kepala HRD yang terkenal tidak kenal ampun jika menyangkut integritas perusahaan.

"Sarah," Bu Widya mulai buka suara memecah keheningan yang tercipta. Suaranya sedatar garis horizontal. "Video yang beredar semalam sangat meresahkan. Bukan hanya soal moralitas, tapi ada indikasi pembocoran data strategis proyek Boundless ke pihak luar. Benar begitu?"

Sarah menarik napas panjang, mencoba menahan getaran di suaranya. "Saya tidak pernah membocorkan data apa pun, Bu. Saya korban di sini."

"Tapi dalam video itu, Niko Pratama jelas-jelas mengatakan bahwa Anda tidak curiga saat dia menyerahkan draf proyek pada wanita itu, siapa namanya" Dahi Bu Widya berkerut seraya memejamkan kedua mata. Telunjuknya menuding ke arah Sarah, sembari berputar-putar.

Tak lama kemudian, ia kembali membuka mata, sambil lanjut bicara. "Ah, ya, Tania, kalau saya tidak salah ingat."

Pintu ruangan tiba-tiba terbuka dengan kasar. Niko masuk dengan napas memburu. Kemejanya berantakan, sementara punggungnya basah oleh keringat, menunjukkan tanda-tanda pria yang baru saja berlari menaiki tangga.

"Bu Widya! Tunggu dulu!" teriak Niko. "Sarah nggak tahu apa-apa! Gue yang... maksud saya, video itu bohong! Itu bukan saya!"

Sarah memejamkan mata, merasakan kepalanya berdenyut. "Niko, pergi dari sini. Lo cuma bikin semuanya makin parah."

"Nggak, Sar! Gue harus jelasin!" Niko mendekat ke meja Bu Widya dengan ceroboh, menyenggol tumpukan berkas hingga berserakan. "Bu, saya memang ketemu Tania, tapi itu buat urusan pribadi. Soal draf itu, itu cuma akting saya buat mancing dia!"

Bu Widya mengangkat sebelah alisnya. "Akting? Jadi Anda mengaku bahwa Anda melakukan manipulasi di dalam lingkungan kantor? Dan Anda melibatkan aset perusahaan untuk 'mancing' mantan kekasih Anda?"

"Bukan gitu, Bu! Maksud saya—"

Lihat selengkapnya