Boundless

Suci Asdhan
Chapter #19

Undercover Missions

Menyamar menjadi orang kaya ternyata jauh lebih sulit dan menyiksa daripada sekadar berpura-pura pacaran di depan kamera ponsel.

Niko berdiri di depan cermin lobi The Gilded Lily, menyesuaikan letak jas velvet biru tuanya yang terasa sedikit terlalu ketat di bagian bahu. Jas ini adalah hasil pinjaman paksa dari koleksi "baju pesta" Dodi yang tersimpan di lemari paling belakang. Masalahnya, bahu Dodi sedikit lebih sempit, membuat Niko merasa seperti sebungkus sosis yang dipaksa masuk ke dalam selongsong plastik yang kekecilan.

Akan tetapi, bukan jas sempit itu yang membuat Niko menderita. Masalah utamanya adalah selembar kumis palsu tebal ala aktor film laga tahun 80-an yang menempel tidak keruan di atas bibirnya. Kumis itu terasa gatal luar biasa, beraroma lem sintetis yang tajam, dan setiap kali Niko mencoba menarik napas, ujung bulu sintetisnya menusuk-nusuk lubang hidungnya dengan provokatif.

"Stop megangin terus wajah elo, Niko. Elo terlihat kayak orang yang lagi kena alergi parah atau pecandu yang lagi sakau, bukan konglomerat muda," bisik Sarah tajam tepat di samping telinganya.

Niko menoleh, dan untuk sesaat, ia benar-benar lupa caranya memproses oksigen. Sarah berdiri di sana, bertransformasi total menjadi sosok yang asing sekaligus memukau. Ia mengenakan wig bob pendek berwarna pirang platina yang membingkai wajah tegasnya dengan sempurna. Kacamata hitam besar bermerek menutupi sebagian wajahnya, sementara gaun cocktail hitam tanpa lengan membalut tubuhnya dengan keanggunan yang mengintimidasi.

Jika Niko terlihat seperti detektif gadungan yang sedang menyamar di pasar malam, Sarah terlihat bagaikan pewaris tahta perusahaan kosmetik global yang sedang bosan dengan kekayaannya.

"Gue gatal, Sar. Ini lemnya kayaknya udah kadaluwarsa dari zaman purba," keluh Niko, berusaha bicara tanpa menggerakkan bibir terlalu banyak agar kumisnya tidak bergeser.

"Tahan. Jangan jadi amatir. Kita sudah di depan lift." Sarah menarik napas panjang, memperbaiki letak clutch peraknya yang elegan. Di dalam tas kecil itu, tersembunyi sebuah mikrofon nirkabel yang terhubung langsung ke laptop Dodi yang sedang bersiaga di dalam mobil di parkiran bawah tanah.

Pintu lift The Gilded Lily—restoran fine dining paling eksklusif di Jakarta Pusat—terbuka dengan denting halus. Mereka disambut embusan aroma parfum oud yang mahal dan alunan musik jazz bertempo lambat yang seolah menidurkan logika. Pelayan dengan seragam necis menyambut mereka dengan bungkukan hormat yang sangat dalam.

"Reservasi atas nama Mr. dan Mrs. Smith," ujar Sarah dengan aksen yang dibuat-buat, sedikit serak dan kebarat-baratan.

Niko hanya mengangguk pongah. Ia berusaha meniru gaya berjalan Rendy yang sok berkuasa dengan dagu terangkat, langkah lebar, dan tatapan meremehkan, meski ia hampir tersandung karpet tebal yang terlalu empuk hingga terasa seperti berjalan di atas tumpukan marshmallow.

Mereka diantar ke sebuah meja bundar kecil yang letaknya strategis. Meja itu hanya terhalang oleh sekat tanaman hias monstera besar dari meja pojok tempat sasaran mereka berada.

Dari celah daun hijau lebar itu, Niko bisa melihat target mereka. Rendy tampak sangat tenang. Jemarinya yang terawat memutar-mutar gelas kristal berisi cairan keemasan. Di sampingnya, Tania duduk dengan tawa kecil yang terdengar sangat palsu bagi telinga Niko, sesekali melirik jam tangan berliannya dengan gelisah. Mereka tampak sedang menunggu seseorang. Siapa lagi kalau bukan sang eksekutor, Pak Hermawan.

"Pesanan Anda, Sir? Madam?" pelayan itu datang membawa menu berlapis kulit.

Niko panik. Ia membuka menu dan menemukan deretan kata yang lebih mirip mantra sihir daripada nama makanan. Matanya menyisir dengan liar, mencari sesuatu yang tidak terdengar seperti nama obat-obatan. "Umm... Consommé de Volaille," jawabnya asal, menunjuk item pertama yang ia lihat tanpa tahu itu apa.

"Pilihan yang sangat klasik dan bagus." Pelayan itu mencatat dengan cekatan dan beranjak pergi.

Lihat selengkapnya