Boundless

Suci Asdhan
Chapter #18

Secret Allies

Empat orang pecundang duduk di atas tumpukan kardus, merencanakan sebuah revolusi.

Udara di dalam gudang arsip lama milik kantor berupa sebuah ruangan terbengkalai di lantai basement yang kuncinya berhasil "dipinjam" Dodi dari petugas keamanan dengan imbalan voucher gim, terasa sangat pengap. Bau kertas lembap, aroma menyengat dari kapur barus usang, dan debu yang bertahun-tahun tak pernah dibersihkan, merayap masuk ke indra penciuman, memicu rasa gatal di tenggorokan. Cahaya di ruangan itu pun tak kalah menyedihkan, hanya berasal dari satu lampu neon panjang yang berkedip-kedip ritmis dan pendar biru pucat dari layar laptop Dodi yang membelah kegelapan di tengah ruangan.

"Gue nggak percaya karier gue berakhir di ruangan yang bau tikus mati begini," gumam Sarah. Suaranya serak, memantul di dinding beton yang lembap.

Sarah duduk di atas kursi lipat karat yang berderit ngeri setiap kali ia bernapas. Ia memeluk lututnya sendiri, mencoba mencari kehangatan di tengah hawa dingin basement. Wajahnya masih pucat, namun amarah yang meledak-ledak di koridor kantor kemarin telah menguap, berganti menjadi ketegasan yang dingin dan tajam seperti mata pisau.

Niko, yang duduk di sampingnya di atas tumpukan dokumen tahun 90-an, mencoba menawarkan sebotol air mineral yang ia beli dari mesin penjual otomatis. "Minum dulu, Sar. Bibir lo udah kayak kerupuk kering. Kita butuh otak lo tetep tajam buat nyusun ini."

Sarah hanya menatap botol itu tanpa menyentuhnya, seakan-akan benda plastik itu adalah artefak asing. Ia menoleh ke arah Dodi dan Sinta yang sedang sibuk membentangkan lembaran kertas manila besar di atas meja kayu lapuk. Meja itu kini lebih mirip papan investigasi detektif di film-film thriller, penuh dengan coretan spidol merah, foto-foto buram hasil tangkapan layar, dan potongan-potongan log aktivitas kantor.

"Oke, dengerin semuanya!" Dodi memukul meja dengan penggaris besi.

Trak! Suaranya menggema, memutus keheningan gudang. Dodi berdiri dengan membusungkan dada, mencoba bergaya seperti komandan perang di film kolosal.

"Tim Anti-Rivalry resmi dibentuk. Karena kita semua sama-sama kena skors tanpa gaji, kita punya waktu dua puluh empat jam sehari buat bersih-bersih nama. Gue sebagai otak IT merangkap hacker kelas teri, Sinta sebagai agen intelijen merangkap penyedia konsumsi, Niko sebagai... umm... umpan, dan Sarah sebagai otak utama."

"Kenapa gue cuma jadi umpan lagi?!" protes Niko. Bahunya merosot. Raut wajahnya menyiratkan rasa tidak terima.

"Karena muka lo itu distraction paling bagus di dunia, Nik," sahut Dodi tanpa dosa. Jemarinya kembali menari lincah di atas keyboard. "Orang liat muka lo langsung pengen ngehujat atau minimal nyinyir, jadi mereka nggak bakal sadar kalau kita lagi operasi intelijen di belakang mereka. Itu namanya pemanfaatan aset."

Sinta memutar bola matanya sambil mengunyah keripik singkong dengan bunyi keriuk yang keras. "Masalahnya bukan soal pembagian tugas, Do. Masalahnya adalah rencana lo buat 'menyusup' ke apartemen Rendy pake kostum pengantar galon itu konyol. Lo pikir ini film komedi situasi?"

"Itu namanya taktik penyamaran, Sinta! Orang kaya nggak bakal curiga sama kurir! Itu psikologi sosial!" Dodi membela diri dengan semangat. Kacamata minusnya melorot ke ujung hidung. "Kalo kita masuk pake jas, itu namanya setor nyawa ke satpam!"

"Kalo lo masuk pake baju kurir ke apartemen penthouse sekelas Rendy, lo bakal ditangkep satpam sebelum nyampe lobi karena baju lo keliatan minjem dari tetangga dan celana lo kependekan!" balas Sinta tidak mau kalah, menunjuk celana chino Dodi yang memang menggantung.

Pertengkaran mereka berlanjut menjadi debat kusir yang tidak berujung. Dari mulai perbandingan harga alat sadap di toko online yang paling murah, sampai soal siapa yang harus membayar biaya bensin motor Dodi yang sudah mau habis. Momen komedi yang absurd itu sebenarnya adalah katup pengaman; sebuah cara mereka menutupi rasa takut yang mencekam dan kehancuran reputasi yang baru saja mereka alami di PT. Maju Jaya.

Di tengah kebisingan itu, Niko melirik Sarah. Wanita itu hanya terdiam, jemarinya memainkan ujung sepatunya yang kini tertutup debu abu-abu. Tidak ada lagi Sarah yang arogan dengan sepatu stiletto mahal yang menghentak lantai kantor. Yang ada hanyalah seorang wanita yang baru saja menyadari bahwa dunianya dibangun di atas kebohongan orang terdekatnya.

"Sar," panggil Niko pelan. Suaranya hampir berupa bisikan, tenggelam di antara perdebatan Dodi dan Sinta soal taktik 'kurir galon'. "Soal di koridor... gue beneran minta maaf. Gue tahu lo punya alasan kuat buat nggak percaya sama gue setelah apa yang mereka lakuin. Tapi gue nggak akan berhenti sampe gue buktiin kalau Rendy yang ada di balik semua ini."

Lihat selengkapnya