Hujan di luar tak sederas air mata yang akhirnya tumpah di pipi Sarah.
Di dalam kabin mobil Niko yang sempit, suara hantaman air di atas atap seng seakan-akan mengisolasi mereka dari seluruh dunia. Kaca depan mobil sudah sepenuhnya tertutup embun putih yang tebal, mengubah deretan lampu jalanan Jakarta yang biasanya bising menjadi gumpalan cahaya kabur berwarna oranye dan merah yang tidak berbentuk. Aroma udara lembap, sisa uap sup dari restoran tadi, dan wangi parfum floral Sarah yang mulai memudar memenuhi ruangan kecil itu, menciptakan atmosfer yang menyesakkan sekaligus intim.
Mereka baru saja melarikan diri dari The Gilded Lily dengan jantung yang masih berdegup kencang. Dodi, yang bersiaga di parkiran, berhasil melakukan interupsi sinyal singkat pada sistem keamanan lif, sebuah sabotase kecil yang memberi mereka waktu sepuluh detik berharga untuk menyelinap keluar lewat pintu servis tanpa tertangkap basah oleh Pak Hermawan.
Niko duduk di kursi kemudi. Tangannya masih mencengkeram setir dengan kaku, seolah-olah ia sedang menahan mobil itu agar tidak meluncur jatuh ke jurang. Sementara itu, Sarah tergugu di kursi penumpang. Gaun cocktail hitam mahalnya yang elegan kini tampak sangat kontras dengan kerapuhan tubuhnya yang bergetar hebat. Wig pirang platinanya sudah dilepas, menyingkap rambut aslinya yang sedikit berantakan dan basah oleh keringat dingin.
Niko mematikan mesin mobil. Keheningan yang tiba-tiba pun menyergap, hanya diisi oleh suara isak tangis Sarah yang tertahan, terasa jauh lebih berat daripada kebisingan musik jazz di restoran mewah tadi. Niko merasa sangat tak berdaya. Ia meraih sekotak tisu dari dasbor dan menyodorkannya tanpa kata-kata. Gerakannya pelan agar tidak mengejutkan Sarah.
"Dia benar, Niko." Suara serak Sarah yang bergetar memecah kesunyian yang tercipta. Kalimat itu nyaris tak terdengar, tenggelam di antara deru hujan yang memukul-mukul kaca. "Dia selalu memegang kuncinya. Sejak di Surabaya ... gue tidak pernah benar-benar lepas."
Niko menoleh, menatap profil samping Sarah yang diterangi cahaya samar dari lampu jalanan yang menembus embun. Air mata Sarah merusak riasan matanya, meninggalkan garis-garis hitam yang tragis di pipinya. "Apa yang sebenarnya terjadi di Surabaya, Sar? Kenapa dia bisa punya akses separah itu ke hidup lo? Sejak kapan dia jadi parasit di sistem lo?"
Sarah mengusap pipinya dengan kasar menggunakan tisu, namun itu justru memperparah noda hitam di wajahnya. Ia tidak peduli. Ia menyandarkan kepala ke kaca jendela yang dingin, matanya menatap kosong ke kegelapan di luar.
"Dulu, gue pikir dia adalah segalanya. Gue adalah asisten manajer muda yang ambisius di sebuah firma hukum besar, dan Rendy... dia adalah direktur IT yang cemerlang. Semua orang memujanya." Sarah mengambil napas dalam-dalam, dadanya naik turun dengan sesak. "Kami adalah team-goal di kantor. Sampai suatu malam, terjadi kebocoran data besar. Arsip rahasia kasus klien paling berpengaruh di Jawa Timur lenyap dari server."
Sarah memejamkan mata, seolah-olah ingatan itu adalah proyektor yang menyiksa di balik kelopak matanya. "Rendy datang ke apartemen gue malam itu. Wajahnya panik, tubuhnya gemetar. Dia bilang dia melakukan kesalahan konfigurasi server yang fatal dan tidak sengaja menghapus arsip itu. Dia bilang dia akan dipecat, dipenjara, dan kariernya tamat jika audit besok pagi menemukan celah itu."
Sarah tertawa pahit, sebuah suara kering yang tidak mengandung humor sedikit pun. "Dia meminta gue menggunakan akun administator gue karena posisi gue saat itu punya otoritas akses darurat, buat 'menambal' celah itu. Dia bilang itu hanya untuk memulihkan data sebelum matahari terbit. Karena gue mencintainya, karena gue bodoh dan percaya pada setiap kata yang keluar dari mulut manisnya ..., tanpa berpikir ulang, gue memberikan semuanya. Password, sidik jari digital, kunci akses fisik. Segalanya."
Niko mendengarkan tanpa memotong. Jemarinya mengetuk-ngetuk setir dengan ritme yang gelisah, mencoba menahan amarah yang mulai mendidih di perutnya. Ia bisa membayangkan wajah Rendy yang bersandiwara sedih demi menjebak wanita di sampingnya ini.
"Keesokan harinya." Sarah melanjutkan, suaranya kini terdengar seperti bisikan kematian. "Audit internal menemukan bahwa datanya bukan terhapus. Data itu dicuri dan dijual ke firma hukum saingan. Dan semua jejak digital, semua log aktivitas, menunjuk tepat ke wajah gue. Rendy? Dia justru menjadi pahlawan. Dia yang 'menemukan' bukti-bukti pengkhianatan gue. Dia nggak ngelaporin gue ke polisi saat itu, tapi dia menggunakannya sebagai belenggu. Dia memaksa gue mengundurkan diri, mengambil semua pesangon gue, dan memastikan gue selalu berada di bawah ancamannya."
"Itu alasan lo pindah ke Jakarta?" tanya Niko lembut.