Boundless

Suci Asdhan
Chapter #21

Final Showdown

Pintu aula terbuka, dan iblis itu melangkah masuk dengan setelan jas seharga ribuan dolar.

Suara sepatu mahalnya beradu dengan lantai marmer putih aula utama PT. Maju Jaya, menghasilkan gema yang terasa seperti detak jam kematian bagi karier Sarah. Rendy Soetjipto berjalan dengan dagu terangkat, senyum kemenangan terukir tipis di bibirnya yang tipis. Di belakangnya, Tania mengekor dengan tatapan penuh kepongahan, membawa sebuah map kulit hitam tebal yang tampak seperti kotak Pandora berisi kehancuran.

Aula utama yang tadinya dipenuhi dengungan suara bisik-bisik dari para anggota dewan direksi seketika mendadak sunyi senyap. Udara di dalam ruangan berkapasitas ratusan kursi itu mendadak menipis, seolah seluruh oksigen disedot habis oleh kehadiran pria yang baru saja mencoba merobohkan hidup Sarah dan Niko semalam.

Sarah, yang berdiri di atas panggung presentasi dengan layar raksasa menampilkan draf akhir proyek Boundless, merasakan punggungnya menegang. Jarinya yang memegang clicker presentasi sedikit bergetar. Trauma masa lalu dari Surabaya, bayang-bayang jebakan server yang pernah menghancurkan hidupnya, kembali menyeruak, mencoba meruntuhkan benteng pertahanan yang semalam susah payah ia bangun kembali bersama Niko.

Niko, yang duduk di barisan kursi terdepan tepat di samping panggung, segera berdiri. Ia tidak mengatakan apa-apa, namun gerakannya cukup tegas untuk menunjukkan bahwa Sarah tidak berdiri sendirian. Niko melangkah naik ke atas panggung, berdiri tepat di sisi kiri Sarah, memberikan jarak aman yang kokoh. Ia menatap Rendy tajam tanpa gentar.

Pak Hermawan, yang duduk di kursi utama dewan komisaris dengan ekspresi wajah yang tidak terbaca, mengetukkan jarinya di atas meja kayu mahoni. "Rendy Soetjipto. Anda bukan lagi bagian dari perusahaan ini. Atas dasar apa Anda berani masuk ke ruang sidang pleno internal?"

Rendy berhenti tepat di depan barisan meja dewan direksi. Ia membungkuk hormat dengan gestur yang dibuat-buat sangat sopan, namun matanya memancarkan seringai predator.

"Selamat pagi, Pak Hermawan, Bapak dan Ibu Dewan Direksi yang terhormat," suara Rendy menggelegar lewat mikrofon kerah yang rupanya sudah ia pasang. "Saya datang bukan sebagai mantan karyawan, melainkan sebagai warga korporat yang memiliki tanggung jawab moral. Saya mendatangkan informasi krusial yang disembunyikan oleh kepala proyek kita saat ini—Sarah Anindya."

Bisikan-bisikan tajam langsung meledak di antara para direksi. Beberapa orang menatap Sarah dengan pandangan curiga dan menghakimi.

"Jaga ucapan Anda, Rendy!" sergah Sarah, suaranya bergetar namun tajam, memotong keributan di ruangan itu. "Anda sedang berada di hadapan dewan direksi, bukan di arena manipulasi Anda!"

Rendy tidak terprovokasi. Ia justru membuka map kulit hitamnya dengan tenang, mengeluarkan beberapa lembar dokumen cetak berukuran besar, lalu meletakkannya di atas meja Pak Hermawan.

"Silakan periksa dokumen itu, Pak," kata Rendy penuh percaya diri. "Itu adalah cetak biru log aktivitas server pribadi milik Sarah. Semalam, saya menerima laporan anonim dari jaringan dark web yang mendeteksi adanya upaya penjualan aset intelektual draf Boundless ke perusahaan kompetitor luar negeri. Dan ironisnya... jejak digital itu mengarah langsung ke alamat IP dan kata sandi milik Sarah Anindya sendiri."

Tania maju selangkah, menambahkan bumbu dramatis dengan suara yang dibuat prihatin. "Kami menemukan draf asli itu tersimpan rapi di dalam direktori tersembunyi server pribadi Sarah. Ada backdoor tingkat BIOS yang sengaja ditanam untuk memudahkan transfer data ilegal tersebut."

Suasana aula langsung berubah menjadi medan eksekusi. Para direksi mulai saling berpandangan dengan cemas. Proyek Boundless adalah pertaruhan terbesar perusahaan tahun ini; jika kepalanya terbukti berkhianat, seluruh nilai saham PT. Maju Jaya bisa terjun bebas dalam hitungan jam.

Pak Hermawan membalik-balik lembaran kertas di depannya. Alisnya yang beruban mengerut dalam. Ia mendongak, menatap Sarah dengan tatapan menyelidik yang dingin. "Sarah Anindya. Bukti forensik digital ini terlihat sangat spesifik dan mengikat. Apa penjelasan Anda atas tuduhan ini?"

Jantung Sarah seperti berhenti berdetak. Tenggorokannya terasa kering, seolah tertelan pasir. Kata-kata penjelasan mendadak menguap dari kepalanya. Di hadapan sistem birokrasi korporat yang kejam ini, dokumen-dokumen palsu buatan Rendy terlihat jauh lebih meyakinkan daripada pembelaan lisan seorang karyawan yang pernah tersandung kasus di masa lalu.

"Itu... itu semua rekayasa, Pak," Sarah mencoba berbicara, namun suaranya terdengar melemah. "Rendy menggunakan BIOS backdoor yang dia tanam sendiri di masa lalu untuk menjebak saya. Dia memalsukan log datanya!"

Lihat selengkapnya