Boundless

Suci Asdhan
Chapter #22

Unexpected Fortune

Pak Hermawan menatap mereka lama, lalu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.

Suara tawa berat itu menggelegar, memecah keheningan ruang kerja pribadi sang pemilik perusahaan di lantai paling atas gedung PT. Maju Jaya. Ruangan megah yang dilapisi panel kayu jati tua dan dipenuhi aroma khas cerutu mahal itu mendadak terasa jauh lebih lapang. Niko dan Sarah, yang baru saja melewati detik-detik paling menegangkan dalam hidup mereka di aula utama, berdiri kaku berdampingan di hadapan meja kerja besar berbentuk tapal kuda. Niko bahkan sempat melirik sekilas ke arah sepatunya, memastikan tidak ada noda atau sisa kertas yang menempel, sementara Sarah merapikan liputan jas blazernya dengan jemari yang masih sedikit mendingin.

"Duduk, duduklah kalian berdua," ujar Pak Hermawan di sela tawanya, sambil melambaikan tangan menyuruh mereka mengisi sofa kulit hitam yang terletak di sudut ruangan. Pria berdarah Tionghoa-Indonesia itu menyandarkan punggungnya yang tegap ke kursi kerjanya yang empuk, menyisakan senyum tipis di ujung bibirnya yang sulit diartikan.

Sarah duduk dengan postur tegak, tangannya bertaut rapi di atas pangkuan. "Pak Hermawan, terkait kekacauan sandiwara di aula utama tadi, serta rekaman yang kami gunakan... saya secara pribadi siap menerima konsekuensi apa pun dari kebijakan perusahaan."

Pak Hermawan mengangkat telapak tangannya, memberi isyarat agar Sarah menghentikan kalimatnya. "Kalian tahu apa hal yang paling menarik dari dunia bisnis korporasi modern, Sarah? Bukan laporan keuangannya yang selalu hijau, bukan pula grafik sahamnya yang melompat-lompat. Tapi dramanya. Dan kalian baru saja menyuguhkan drama tingkat tinggi yang jauh lebih baik daripada skrip sinetron mana pun di televisi swasta."

Niko berdehem pelan, mencoba meredakan ketegangan di tenggorokannya. "Jadi... maksud Bapak, kami tidak dipecat? Maksud saya, soal sandiwara fake dating kami di koridor, soal video-video yang sempat viral itu..."

"Niko, Niko," Pak Hermawan menggelengkan kepalanya pelan, matanya menyipit jenaka. "Kalian sungguh mengira saya bisa membangun kerajaan bisnis sebesar PT. Maju Jaya dari nol dengan menjadi orang yang mudah dibohongi begitu saja? Mata tua ini sudah melihat ribuan jenis tipu muslihat karyawan sejak krisis moneter tahun sembilan puluhan."

Sarah dan Niko saling berpandangan dengan kening berkerut.

"Saya sudah tahu kalian berdua pura-pura pacaran sejak minggu kedua kesepakatan konyol itu dimulai," lanjut Pak Hermawan santai.

Mata Niko membelalak lebar, hampir keluar dari rongganya. "Bapak... Bapak tahu sejak minggu kedua? Tapi bagaimana bisa?!"

"Tentu saja tahu," Pak Hermawan tersenyum penuh kemenangan. Ia menekan sebuah tombol interkom kecil di tepi mejanya. "Masuklah, Nak. Pertunjukan utamanya sudah selesai."

Pintu kayu berukir di sisi kanan ruangan terbuka perlahan. Sosok yang melangkah masuk membuat rahang Niko hampir jatuh ke lantai. Itu Dodi. Putra bungsu Pak Hermawan yang selama ini dikenal sebagai staf IT tingkat bawah yang hobi mengenakan kaos polos lusuh, celana pendek, dan berbau minyak angin. Namun hari ini, Dodi tampak sangat rapi dalam balutan kemeja flanel bersih dan celana katun hitam.

"Dodi?!" seru Niko nyaris tersedak. "Ngapain lo di sini? Jangan bilang lo mau nyadap komputer bokap lo juga?"

Dodi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, menyengir lebar tanpa rasa bersalah. "Hehehe... Maaf ya, Ko, Mbak Sarah. Sebenarnya gue lupa bilang kalau nama lengkap gue itu Dodi Hermawan. Dan pria paruh baya yang lagi ngetawain kalian di depan sana adalah bokap kandung gue."

"Bokap?" Niko menatap Dodi lalu beralih menatap Pak Hermawan secara bergantian. "Lo anak pemilik perusahaan ini?! Terus kenapa lo betah banget jadi bawahan di divisi kreatif yang kerjaannya diledekin mulu?!"

Pak Hermawan mendengkus pelan, menatap putranya dengan campuran rasa sayang dan gemas. "Dia ini anak bungsu saya yang paling pemalas, yang kepala batu minta ampun. Katanya mau 'mencari jati diri' dan 'mandiri secara finansial', tapi kerjanya tiap hari cuma main gim di pojokan server kantor. Padahal dia sendiri yang diam-diam merekomendasikan kalian berdua."

Dodi mengangkat bahu membela diri. "Gue cuma pengen lihat kantor ini nggak kaku-kaku amat, Pa. Lagian, waktu awal-awal Niko ngajak Sarah pura-pura pacaran buat ngejar target manajerial, gue yang pertama tahu karena server chat mereka sempat bocor ke jaringan lokal divisi gue."

Pak Hermawan kembali fokus pada dua bawahannya yang masih terpaku. "Dodi yang memberi tahu saya soal rencana sandiwara kalian untuk menjebak Rendy. Sejujurnya, di minggu-minggu awal, saya sempat ingin memanggil kalian berdua ke ruangan ini dan memecat kalian karena merusak kode etik profesional. Tapi Dodi melarang saya."

"Gue bilang ke Pak Bapake, maksudnya ke Bokap," potong Dodi cepat, "kalau dibiarin, Niko bisa jadi cowok beneran yang berani ngelawan rasa malunya, dan Sarah bisa belajar membuka diri lagi setelah trauma masa lalunya di Surabaya. Dan terbukti, taruhan gue nggak salah, kan?"

Lihat selengkapnya