Boundless

Suci Asdhan
Chapter #23

True Forgiveness

Jeruji besi itu memisahkan dua orang yang dulu pernah bermimpi membangun rumah bersama.

Hawa di dalam ruang kunjungan tahanan sementara markas kepolisian itu terasa pekat dan menyesakkan. Aroma disinfektan murah yang menyengat beradu dengan bau keringat dan keputusasaan dari puluhan manusia yang nasibnya sedang digantung oleh sistem hukum. Kipas angin gantung di langit-langit berputar dengan bunyi derit yang monoton, menciptakan ritme lambat yang selaras dengan debar jantung Niko.

Di seberang meja kayu panjang berlapis kaca tebal yang buram oleh noda sidik jari, seorang wanita duduk tertunduk. Tidak ada lagi gaun malam bermerek, tatanan rambut salon yang sempurna, atau kilau perhiasan mewah yang dulu melekat pada dirinya.

Tania tampak hancur lebur. Ia mengenakan rompi tahanan berwarna oranye menyala bernomor dada yang tampak kebesaran untuk tubuhnya yang kini menyusut drastis. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai kusam tanpa bentuk, menutupi sebagian besar wajahnya yang pucat pasi tanpa pulasan riasan. Lingkaran hitam legam di bawah matanya menceritakan malam-malam panjang penuh teror, isak tangis, dan penyesalan di atas lantai sel yang dingin.

Niko berdiri terpaku sejenak di balik sekat kaca sebelum akhirnya menarik kursi besi kecil dan duduk perlahan. Ia mengangkat gagang telepon interkom internal yang terpasang di dinding bilik, lalu menempelkannya ke telinga. Tania, yang mendengar bunyi klik sambungan, perlahan mendongakkan kepalanya. Mata mereka bertemu melalui pantulan kaca tebal yang membatasi dunia luar dan dunia kebinasaan hukum.

"Kamu... datang," suara Tania terdengar parau, pecah, dan bergetar lewat lubang kecil pengeras suara interkom. Suara itu begitu lemah, jauh berbeda dengan suara angkuh yang biasa ia gunakan untuk merendahkan orang lain di kantor.

Niko mengembuskan napas panjang secara perlahan, mencoba menetralisir gemuruh di dadanya. "Gue datang, Tan."

Tania menunduk kembali, jemarinya yang tanpa kuteks saling meremas erat di atas pangkuan rompi oramanya. Air mata langsung meleleh begitu saja dari sudut matanya, menetes deras tanpa suara. "Rendy... bajingan itu benar-benar pengecut, Niko."

Niko tidak menyela. Ia membiarkan wanita yang pernah mengisi hari-hari masa lalunya itu meluapkan apa yang selama ini menghimpit dadanya.

"Melalui pengacaranya, dia bilang semua instruksi akses ilegal itu adalah inisiatifku sendiri," isak Tania, bahunya bergetar hebat di balik kain oranye yang mencolok. "Dia bilang aku yang merencanakan semuanya, aku yang menyuap orang, dan dia tidak tahu apa-apa. Padahal... padahal semua ide busuk itu keluar dari kepalanya! Dia berjanji kita akan hidup makmur di Singapura setelah proyek Boundless jatuh ke tangannya. Tapi sekarang? Dia melimpahkan seluruh tali gantungan itu ke leherku seorang diri."

Tania mengangkat wajahnya, menatap Niko dengan pandangan memohon yang menyedihkan, tatapan yang dulu selalu berhasil meluluhkan hati Niko di masa lalu. "Aku tertipu, Niko. Aku silau sama janji manisnya, sama kekayaannya, sama kekuasaan yang dia tawarkan. Aku meninggalkanmu karena aku pikir kamu tidak punya masa depan. Bodoh sekali aku... aku menyesal. Tuhan, aku sangat menyesal."

Di balik sekat kaca itu, Niko memperhatikan Tania lekat-lekat. Dulu, setiap kali melihat air mata Tania jatuh, dada Niko akan terasa sesak oleh rasa bersalah. Ia akan merasa menjadi pria paling gagal di dunia karena tidak bisa membahagiakan wanita itu hingga ia harus berpaling ke pelukan pria lain.

Namun hari ini, detik ini juga, keajaiban kecil terjadi di dalam batin Niko.

Tidak ada lagi rasa sakit yang membakar. Tidak ada lagi sisa-sisa dendam kesumat atau keinginan untuk melihat wanita di depannya menderita lebih hebat. Yang ada di dalam dada Niko hanyalah sebuah ruang hampa yang tenang, bersih, dan lapang—sebuah ketenangan absolut yang menandakan bahwa luka lama itu akhirnya telah sembuh total tanpa meninggalkan nanah.

Niko tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang sama sekali tidak berniat menghina.

"Tan," ucap Niko lembut lewat interkom, suaranya terdengar jernih dan menenangkan. "Gue dengerin semua penyesalan lo. Dan gue pengen lo dengerin baik-baik kalimat ini."

Tania mendongak, menatap Niko penuh harap.

"Gue maafin lo," kata Niko tegas.

Lihat selengkapnya