Boundless

Suci Asdhan
Chapter #24

Family Chaos

Jika ada yang lebih menakutkan daripada Rendy, itu adalah keinginan Ibu untuk segera menimang cucu.

Niko merapikan kerah kemeja batiknya dengan jari-jemari yang sedikit gemetar di depan cermin toilet restoran. Restoran keluarga bergaya kolonial di kawasan Menteng itu memancarkan kemegahan klasik yang menekan: langit-langit tinggi berukir kayu jati, pilar-pilar putih besar yang kokoh, serta lampu gantung kristal raksasa yang memantulkan cahaya kekuningan mewah.

Baru seminggu berlalu sejak Niko menikmati euforia promosi jabatannya sebagai Head of Creative Marketing dan pemulihan nama baik perusahaan. Namun, "serangan fajar" mendadak dari sang ibu yang datang langsung dari kampung halaman dengan membawa misi terselubung terasa jauh lebih brutal daripada audit forensik Pak Hermawan ataupun ancaman sidang direksi kemarin.

"Ingat, Niko." Suara melengking Ibu terdengar menembus pintu kayu toilet yang tertutup rapat, diselingi bunyi ketukan sandal yang gelisah di lantai marmer. "Dia ini anak dari teman arisan Ibu di Surabaya yang kebetulan pindah tugas ke Jakarta. Anaknya sarjana hukum, anggun, lemah lembut, dan yang paling penting: bukan wanita kantoran ambisius yang sibuknya nggak ketulungan. Ibu pengen kamu punya istri yang fokus ngurus rumah tangga, bukan yang tiap hari mikirin server kantor!"

Niko mengembuskan napas panjang hingga dadanya terasa kosong. Ia membasuh wajahnya sekilas dengan air dingin di wastafel, mencoba menata kembali mentalnya sebelum keluar menghadapi badai.

Begitu ia mendorong pintu toilet, ia mendapati ibunya sudah berdiri mondar-mandir dengan tas tangan kulit buaya andalannya dan tatapan mata yang tidak bisa dibantah. Di samping sang ibu, Sarah berdiri tegak dengan postur kaku tetapi elegan.

Sarah hadir hari ini bukan lagi sebagai pacar kontrak atau aktris pendukung untuk konten media sosial, melainkan sebagai seorang wanita yang baru saja mulai merasa nyaman menempati status sebagai kekasih nyata dalam kehidupan pribadi Niko. Sialnya, Ibu Niko yang kolot dan buta informasi digital masih memandang Sarah sebelah mata—menganggap Sarah tidak lebih dari sekadar "atasan galak" di kantor yang kebetulan sedang menemani anaknya jalan-jalan akhir pekan.

"Ibu, Niko sudah bilang berulang kali di telepon, Niko sudah punya—"

"Sudahlah, nggak usah banyak membantah, ayo cepat jalan! Dia sudah menunggu di meja nomor tujuh di dekat taman belakang," potong Ibu tanpa ampun, langsung menarik lengan kemeja batik Niko dengan kekuatan fisik yang mengejutkan untuk ukuran seorang wanita paruh baya.

Sarah mengekor di belakang mereka dengan langkah pelan. Ada ketegangan samar yang tersirat di garis wajahnya, seolah insting tajamnya sebagai seorang Vice President mendeteksi bahwa pertemuan ini tidak akan berjalan dengan mulus.

Setibanya mereka di meja nomor tujuh yang dikelilingi rimbunnya tanaman hias kolonial, Niko merasakan sekujur darahnya mendadak berhenti mengalir. Dunia di sekitarnya terasa jungkir balik seketika.

Di sana, duduk seorang wanita anggun berbalut setelan blazer berwarna cokelat susu. Wajah wanita itu bersih, tegas, dengan garis rahang dan sorot mata tajam yang memancarkan wibawa tingkat tinggi. Sebuah aura keluarga yang terlalu familier bagi Sarah maupun Niko.

Mata Sarah membelalak lebar. Tubuhnya menegang kaku seperti patung porselen. "Mbak... Clarissa?"

Wanita di balik meja itu mendongak. Senyum ramah yang tadinya tersungging di bibirnya seketika membeku menjadi garis tipis. Ia menatap Sarah dengan tatapan tak kalah terkejut. "Sarah Anindya? Astaga... dunia ini benar-benar sempit, ya."


Ibu Niko sontak bertepuk tangan kecil, wajahnya berseri-seri penuh kemenangan. "Lho, kalian ternyata sudah saling kenal? Bagus sekali kalau begitu! Niko, kenalin, ini Clarissa, anak teman arisan Ibu yang Ibu ceritain tadi. Dan ini... ah, Mbak Sarah, atasannya Niko yang baik hati sudi mengantar kami."

Niko menelan ludah kasarnya, tenggorokannya terasa tercekat. "Kalian... kalian saling kenal di mana?" tanya Niko pelan, suaranya hampir berbisik.

Clarissa merapikan lipatan jas blazernya dengan tenang, lalu melirik sekilas ke arah Sarah sebelum beralih menatap Niko. "Sarah adalah junior kesayangan saya di firma hukum Surabaya beberapa tahun lalu, sebelum saya memutuskan pindah ke London untuk mengurus ekspansi bisnis keluarga," jawab Clarissa dengan nada suara yang tenang, berwibawa, namun menyimpan ketegangan yang pekat. "Dan saya baru saja kembali ke tanah air pekan lalu untuk membereskan kekacauan hukum yang ditinggalkan oleh adik kandung saya yang kini mendekam di penjara akibat kasus fitnah bodoh."

Niko dan Sarah tersentak bersamaan bagai tersengat aliran listrik.

Lihat selengkapnya